Tak Ada Kunjungan Wisatawan, Omset Kerajinan Batik Asal Sleman Merosot

oleh -
batik
(dari kanan-kiri) Pemilik Endhut Original Classical Batik dan Contemporary, Endang Apriyanto bersama Mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta, Diki Aji Pratama. (dok. Diki)

SLEMAN, (KH),– Pandemi COVID-19 menghantam hampir semua sektor usaha. Dampak pandemi rata-rata menurunkan omset yang diperoleh wirausahawan. Bahkan tidak sedikit yang terpaksa berhenti beroperasi.

Kerajinan kain batik menjadi salah satu jenis usaha yang tak luput dari pengaruh buruk merebaknya penularan virus COVID-19. Kebijakan pemerintah memberlakukan berbagai pembatasan guna menahan laju penularan membuat penjualan batik merosot tajam.

Sebagaimana disampaikan Endang Apriyanto, pengrajin dan pemilik usaha kerajinan batik yang dikenalkan dengan nama Endhut Original Classical Batik dan Contemporary ini, semenjak virus COVID-19 mewabah, penurunan mulai dirasakan.

“Terlebih saat kebijakan PPKM Darurat diberlakukan. Tidak adanya kunjungan wisatawan penurunan omset kian parah,” kata lelaki yang membuka gerai di Ngawen, Gg. Dlingo IV, RT/RW 08/51, Maguwoharjo, Kabupaten Sleman ini saat ditemui dalam waktu dekat ini.

Lebih jauh disampaikan, PPKM Darurat yang mengharuskan destinasi wisata ditutup menjadi faktor penurunan omset hingga 70 persen. Sebab, sebagian besar pasar batik yang dihasilkan Endang Apriyanto yakni wisatawan.

“Pasar utamanya ke wisatawan. Banyak batik saya yang terjual ke wisatawan sebagai oleh-oleh,” terang dia.

Belakangan ini, promosi secara gencar yang ia lakukan tak banyak berdampak pada jumlah penjualan. Dirinya menegarai daya beli masyarakat secara umum memang sedang menurun. Daya beli menurun tak lain, ia duga juga karena faktor pandemi.

Dirinnya mengaku masih mampu menmpertahankan kegiatan produski skala terbatas bersama dua karyawannya. Endang Apriyanto mengaku bingung menentukan formula jualan yang baru dalam situasi sulit seperti sekarang ini.

“Dengan cara apapun sepertinya sulit. Kami hanya dapat berharap situasi segera membaik, pembatasan kemudian dilonggarkan,” harap Apriyanto.

Sambungnya, kebijakan pemerintah DIY yang melakukan uji coba pembukaan pada 3 destinasi wisata merupakan kabar baik baginya. Sebab, kunjungan wisatawan yang semakin ramai menjadi angin segar bagi wirausahawan yang bergerak erat kaitannya dengan sektor wisata. Tak terkecuali seperti dirinya.

Penulis:

Diki Aji Pratama & Ignatius Soni Kurniawan (Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar