GUNUNGKIDUL, (KH),– Mengambil keputusan besar untuk keluar dari zona nyaman bukanlah perkara mudah. Hal inilah yang dialami oleh Erik Santosa pada tahun 2020 silam. Di saat Surat Keputusan (SK) pengangkatan sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) sudah di depan mata, ia justru memilih langkah berani: resign dari pekerjaan honorer demi membesarkan bisnis konsultan IT miliknya.
Langkah yang diambil bapak dua anak ini tentu memicu pertanyaan bagi sebagian orang. Namun, bagi Erik, keputusan tersebut adalah buah dari pertimbangan matang demi keluarga dan cita-cita mulia bagi tanah kelahirannya.
Sebelum memantapkan diri menjadi pengusaha penuh waktu, Erik mengawali kariernya sebagai tenaga honorer di Dinas Pendidikan Istimewa Yogyakarta (DIY). Di sela-sela kesibukannya, ia juga melakoni pekerjaan sampingan sebagai freelancer di bidang Teknologi Informasi.
Namun, setelah berkeluarga dan menetap di Saptosari mengikuti sang istri, tantangan baru pun muncul. Jarak yang jauh antara rumahnya di Gunungkidul dengan tempat kerja di Kota Yogyakarta menguras stamina fisik dan waktunya.
“Cukup lama saya menekuni kerja sampingan sejak kuliah hingga lulus. Saya lantas punya peluang mendapat SK sebagai P3K,” tutur Erik mengenang masa-masa sulit tersebut belum lama ini.
Kelelahan kian terasa ketika permintaan jasa konsultan IT dari klien semakin menumpuk. Di tengah persimpangan jalan yang sulit antara kepastian kerja sebagai aparatur negara atau mengembangkan usaha, Erik akhirnya memilih jalur wirausaha. Alasan kuatnya ada dua: memangkas jarak tempuh kerja rutin yang melelahkan dan keinginan besar untuk memberdayakan pemuda di daerahnya.
Ketertarikan Erik pada dunia digital, khususnya pemrograman (coding), sebenarnya sudah tumbuh sejak ia menuntut ilmu di SMK YAPPI Wonosari. Pondasi ilmu tersebut kemudian ia perkuat saat melanjutkan studi ke jenjang pendidikan tinggi di STMIK El Rahma.
Memulai bisnis dari bawah sebagai pengusaha pemula ternyata memberikan tantangan tersendiri. Erik mengaku harus belajar banyak hal secara otodidak sembari langsung mempraktikkannya.
Pada fase awal, hampir semua urusan manajemen bisnis, pembentukan tim, hingga strategi pemasaran langsung ia tangani sendiri dengan telaten. Jasa IT yang dulunya dikerjakan seorang diri, perlahan-lahan mulai melibatkan anak-anak muda lokal yang potensial.
Menembus Pasar Nasional: Dari Aceh hingga Merauke
Konsistensi dan ketelatenan Erik dalam membenahi manajemen bisnis serta membangun pondasi sistem kerja yang solid akhirnya berbuah manis. Perlahan tapi pasti, bisnis konsultan IT miliknya mulai dilirik oleh instansi-instansi besar.
Kini, layanan pembuatan website, aplikasi, dan sistem informasi yang ia rintis telah berhasil meraih kepercayaan dari berbagai pihak. Mulai dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serta institusi pemerintah, khususnya di sektor pendidikan banyak yang mempercayakan padanya. Portofolio proyeknya pun telah merambah ke berbagai penjuru nusantara. Erik dan timnya tercatat pernah menangani proyek IT di pedalaman Aceh hingga ujung timur Indonesia di Merauke.
Seiring dengan perkembangan bisnis yang kian matang, Erik sadar akan pentingnya profesionalisme. Oleh karena itu, aspek legalitas usaha pun perlahan-lahan mulai ia penuhi. Ia resmi mendirikan badan usaha berbadan hukum dengan nama Watu Lintang Media.
Tidak hanya legalitas formal, fasilitas penunjang produktivitas tim juga terus ditingkatkan. Kini, sebuah kantor dengan fasilitas pendukung yang jauh lebih lengkap telah berdiri di wilayah Girisekar, Panggang, Gunungkidul.
Menariknya, kantor Watu Lintang Media ini mengusung konsep yang sangat unik dan berbeda dari kantor IT pada umumnya. Erik membangun studio kerja dengan arsitektur khas rumah tradisional yang dipadukan dengan konsep bangunan semi-terbuka.
Desain ini sengaja dipilih agar suasana dan aktivitas kerja sehari-hari terasa menyegarkan dan tidak menjemukan bagi para timnya. Lingkungan kerja yang menyatu dengan nuansa lokal terbukti mampu menjaga kreativitas anak-anak muda yang ia bina.
Pertumbuhan bisnis ini otomatis membuka lapangan kerja baru di wilayahnya. Keinginan Erik untuk tidak sukses sendirian kini telah menjadi kenyataan.
“Kini ada 12 tim yang terlibat. Sebagian bergerak di bidang jasa IT dan sebagian lagi melayani produk barang,” tutur Erik.





