GUNUNGKIDUL, (KH),– Halaman Bangsal Sewokoprojo Yogyakarta mendadak riuh pada Sabtu malam (16/5/2026). Melalui tajuk Tribune Chronicle (Kronik Tribun Pelajar), ratusan pelajar dari berbagai penjuru Gunungkidul berkumpul untuk membuktikan bahwa budaya suporter bisa bertransformasi menjadi wadah kolaborasi yang luar biasa.
Kawasan cagar budaya ini menjadi saksi bisu lahirnya inisiatif kolektif para siswa untuk mengubah citra suporter sekolah menjadi lebih kreatif, solid, dan inspiratif.
Ketua Panitia, Adrian Sendra Garcia, menegaskan bahwa Tribune Chronicle bukanlah sebuah organisasi formal maupun lembaga regeneratif. Sebaliknya, ini adalah sebuah ekosistem terbuka yang melibatkan 13 sekolah menengah di Gunungkidul.
Deretan basis suporter yang turut andil dalam gerakan ini antara lain: Black Gor Jawon, Revolver Agus Salim, Stemsana Alliance, Pilar North, Red and Jakal, Pramuka Street, Hiris Boys Southern Winch, Satu Karangjo, Narastabataw, Mandala Militan, hingga Manifesto.
“Gerakan ini merupakan upaya kami mendokumentasikan perjalanan suporter dalam berbagai kompetisi melalui sebuah magazine kolektif. Launching showcase malam ini adalah ruang bagi kawan-kawan untuk mengapresiasi karya tersebut,” jelas Adrian.
Hadirnya Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih memberikan suntikan semangat bagi para pelajar. Didampingi jajaran dari Dinas Pendidikan serta Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda, dan Olahraga, Bupati memberikan apresiasi tinggi atas gagasan segar ini.
Dalam arahannya, Bupati menyoroti pentingnya “diferensiasi” bagi anak muda di era digital. Menurutnya, pemuda yang unggul adalah mereka yang berani tampil beda melalui penguasaan skill dan penyaluran hobi secara produktif.
“Malam ini adalah ruang ekspresi sekaligus ruang persaudaraan. Saya melihat kreativitas yang nyata dari generasi muda Gunungkidul,” ungkap Bupati.
Lebih dari Sekadar Musik: Ada Aksi Sosial dan UMKM
Tribune Chronicle membuktikan bahwa acara pelajar bisa mencakup spektrum yang luas. Tidak hanya fokus pada panggung musik, acara ini juga menghadirkan nilai kemanusiaan dan ekonomi, di antaranya, aksi donor darah: bentuk kepedulian sosial pelajar terhadap sesama, pemberdayaan UMKM: melibatkan pelaku usaha lokal untuk menggerakkan ekonomi sekitar.
Dalam momentum yang sama juga dilangsungkan Pameran Kreativitas: menampilkan hasil karya orisinal para pelajar Gunungkidul.
Bupati berharap, dari panggung seperti ini akan lahir talenta musik atau grup band andalan yang mampu membawa nama Gunungkidul bersaing di level yang lebih luas.
Menutup sambutannya, Bupati berpesan agar para pelajar tidak takut bermimpi besar. Ia mengibaratkan kesuksesan dengan keberanian “menyelam di lautan yang dalam”.
“Jangan takut bermimpi setinggi langit. Jadilah generasi berkualitas yang akan memajukan Gunungkidul Handayani di masa depan,” pungkasnya.
Acara kemudian mencapai puncaknya dengan penampilan musik kolaboratif. Meski dipadati massa, suasana tetap kondusif, tertib, dan penuh dengan energi positif dari para pelajar.





