GUNUNGKIDUL, (KH),– Di balik perbukitan kapur di Padukuhan Mendak, Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang, Gunungkidul, riuuh logam ditempa terdengar. Sesekali denting logam yang beradu secara ritmis menyela. Suara itu berasal dari sebuah Besalen Ki Wonoboyo. Bengkel kerajinan gamelan yang didirikan Wawan Kurniawan (34).
Wawan yang memilih label Gamelan Nusantara ini merupakan pria yang lahir di Jawa Barat. Usai menyelesaikan studi S1 Etnopsikologi di ISI Yogyakarta, ia justru terpikat untuk menetap di kediaman sang istri. Keputusannya menetap di Gunungkidul pada 2017 bukan sekadar urusan domestik, melainkan sebuah misi melanjutkan estafet sejarah yang sempat terputus.
Darah seni mengalir kuat di keluarga istrinya. Sang kakek buyut, Ki Wonoboyo, adalah seorang dalang sekaligus pengrajin gamelan tersohor di masanya. Usaha itu sempat diteruskan oleh anaknya, Mbah Pandoyo, sebelum akhirnya vakum. Wawan datang membawa gairah baru, berbekal beberapa alat peninggalan dan semangat untuk menghidupkan kembali bara api di perapian tempa gamelan.
Latar belakang pendidikannya pun bukan sembarangan. Melalui mata kuliah organologi, ia memahami anatomi alat musik secara mendalam. Dukungan dari para dosen yang sering mengajaknya ke pengrajin-pengrajin besar membuat wawasannya terbuka lebar. Kini, teori yang ia dapat di bangku kuliah ia manifestasikan dalam bentuk karya nyata yang presisi.
Gamelan Nusantara: Melampaui Sekat Wilayah
Meskipun berbasis di pelosok Gunungkidul, jangkauan pasar Wawan justru lebih banyak berasal dari luar daerah. Nama “Gamelan Nusantara” dipilih bukan tanpa alasan. Ia tidak hanya memproduksi gamelan gaya Yogyakarta atau Surakarta, tetapi juga alat musik berbasis logam dari seluruh penjuru Indonesia.
“Pesanan datang mulai dari Aceh, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Di Kalimantan, misalnya, akulturasi budaya lokal dengan Jawa menciptakan ragam alat musik logam yang unik. Bahkan hingga ke Alor, NTT, di mana instrumen seperti Gong Moko memiliki nilai adat tinggi sebagai alat barter atau mas kawin,” terangnya belum lama ini.
Pegiat festival seni budaya ini menjelaskan bahwa harga gamelan sangat fleksibel, tergantung pada bahan baku dan kerumitan ukiran. Untuk satu set gamelan bahan besi, harganya berkisar antara Rp100 juta hingga Rp150 juta. Sedangkan untuk bahan kuningan, berada di angka Rp200 juta hingga Rp300 juta.

“Bahan perunggu adalah yang paling istimewa sekaligus menantang. Harganya terus naik mengikuti pasar global dan kebijakan ekspor-impor tembaga. Saat ini satu set perunggu bisa dimulai dari Rp500 juta,” jelas Wawan.
Ia menegaskan bahwa kualitas suara sangat bergantung pada ketebalan bahan; jika ketebalan dikurangi demi harga murah, resonansi suara taruhannya.
Usaha ini bukan sekadar bisnis pribadi. Saat pesanan melimpah, Wawan memberdayakan sekitar 24 hingga 30 warga sekitar. Mereka terbagi dalam tim khusus: 4 orang pengukir, 8 orang penempa, dan sisa lainnya menjadi tim finishing.
Namun, bekerja di lingkungan pedesaan memiliki dinamika tersendiri. Kesadaran sosial warga Gunungkidul yang tinggi terkadang menjadi tantangan dalam mengejar target waktu. Tradisi seperti rewang (membantu tetangga hajatan) atau takziah (sripah) sangat dijunjung tinggi. Meski terkadang menghambat proses produksi yang memakan waktu 3-4 bulan per set, Wawan menghormati nilai-nilai kemasyarakatan tersebut sebagai bagian dari integritas lokal.
Selain produksi, Wawan juga melayani jasa reparasi dan laras (penalaan) gamelan. Mengingat mahalnya ongkos kirim instrumen berat, Wawan seringkali “terbang” ke Jakarta hingga luar pulau untuk memperbaiki gamelan di lokasi. Strategi “jemput bola” ini terbukti efektif menekan biaya produksi bagi konsumen seperti sekolah, komunitas hingga sanggar seni.





