Mengenang Budi Baik Ki Seno: 8 Bulan Absen Pentas, Honor Wiyaga Tetap Dibayar Penuh

oleh -
Wasito, penabuh Slenthem kru Wargo Laras. (KH/Kandar)
ucapan natal smkn 3 wonosari

WONOSARI, (KH),– “Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama.” Peribahasa tersebut kiranya dapat menggambarkan sosok almarhum Ki Seno Nugroho, dalang kondang yang tutup usia sekitar hampir dua bulan lalu.

Budi baik alm. Ki Seno semasa hidup tak akan lekang oleh waktu. Terlebih pada orang yang cukup dekat dengannya. Seperti pengakuan yang datang dari salah satu anggota karawitan Wargo Laras, Wasito misalnya. Warga Kalurahan Wareng, Kapanewon Wonosari ini mengagumi Ki Seno tak sebatas sebagai atasan. Tapi, Ki Seno dianggap sebagai pemimpin yang bijak, penuh kasih serta sangat dermawan. Nama dan jasanya selalu Wasito ingat.

Saat ditemui di kediamannya, bapak dua anak ini mengisahkan kenangan yang dialami selama 25 tahun membersamai Ki Seno pentas sebagai Wiyaga. Kepercayaan untuk masuk Wargo Laras sebagai penabuh Slenthem, merupakan momen kebaikan hati Ki Seno yang pertama kali ia ingat. Meski belum lulus sekolah di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI), Wasito muda didapuk menjadi bagian orkestra Karawitan Wargo Laras. Ia bangga sekaligus haru.

Wasito menanggap kecintaannya pada seni musik gamelan membawa berkah baginya. Dirinya mengaku mulanya tertarik dengan gamelan saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMP. Di kediamannya, secara kebetulan dijadikan tempat menyimpan gamelan milik Klompencapir. Wasito suka memainkannya. Gayung bersambut, dirinya tak sengaja membaca koran mengenai informasi sekolah SMKI. Dalam hati, Wasito lantas berkeinginan kuat masuk ke sekolah yang sebelumnya bernama Konservatori Tari Indonesia (KONRI) ini. Di SMKI ia memilih jurusan Karawitan. Lelaki berperawakan tinggi ini memilih jenis gamelan Slenthem. Alat musik tradisional sebagai pamurba lagu yang berfungsi sebagai bass. Alat Musik Slenthem tergolong kelompok gender. Biasanya alat tersebut juga disebut dengan nama Gender Panembung. Slenthem ini masuk ke dalam kelompok instrumen saron, yakni alat yang memiliki nada oktaf paling rendah.

“Ki Seno sudah lulus 2 tahun lebih awal dari jurusan Pedalangan saat saya masuk SMKI. Tahun-tahun itu Ki Seno sedang meniti karir. Saat masuk Wargo Laras tahun 1995 saya masih kelas 3. Kurang setahun lagi lulus,” kata Wasito ketika berbincang demgan KH pada sore hari yang cerah belum lama ini.

Diajak masuk oleh seorang teman yang lebih dulu menjadi pengiring pentas Ki Seno, Wasito manfaatkan sebagai media belajar. Mengaplikasikan pelajaran yang ia dapat di sekolahan yang kini berganti nama menjadi SMKN 1 Kasihan ini. Malam pentas sebagai Wiyaga lalu siangnya sekolah menjadi rutinitas Wasito. Dengan bergabung menjadi anggota Wargo Laras juga menjadi jalan bagi Wasito menopang kebutuhan hidup selama ngekos. Bahkan ia sekaligus dapat membantu orang tua menyelesaikan biaya sekolah. Baginya, Rp 8 ribu sekali manggung bukan jumlah uang yang sedikit waktu itu.

Kebaikan hati Ki Seno selanjutnya, Wasito rasakan saat menjelang ujian akhir sekolah. Wasito selalu diijinkan mendahului pulang meski pentas Wayang belum usai. Pukul 03.00 WIB ia pamit meninggalkan sasana pagelaran. Sesampainya di kos, ia lantas tidur sebentar sebelum berkemas hendak sekolah mengikuti ujian.

“Waktu saya pentas sebenarnya juga sudah bawa buku. Ketika Dalang lebih banyak memainkan adegan dialog antar tokoh Wayang, saat itulah saya mencuri waktu membaca buku,” kenang Wasito.

Setelah lulus, Wasito semakin sibuk pentas bersama Ki Seno. Lagi-lagi dirinya bangga, Dalang Wayang yang ia ikuti lambat laun naik daun. Bahkan kelak menjadi idola. Menurutnya, Ki Seno memang tak sebatas ingin memberikan hiburan. Sejak awal Ki Seno bersikeras agar seni Wayang dapat disukai kaum muda. Spirit itulah yang kemudian membuatnya menjadi dalang yang pandai berinovasi dan berimprovisasi. Pun demikian dengan bahan guyonan atau candaan, selalu aktual dan tak jauh dari dunia anak muda. Namun, tetap tak meninggalkan ‘pesan-pesan’ dari tiap lakon yang dimainkan.

“Ki Seno berhasil. Anak muda suka dengan Wayang. Saat puncak karir, sayang Ki Seno pergi selama-lamanya,” tutur Wasito nampak sedih.

Bersama Ki Seno dengan ‘nama besarnya’ dalam beberapa tahun terakhir membuat jadwal pentas Wasito sangat padat. Terkadang putra pasangan Pawiro Dikromo dan Taniyem ini tak pulang ke Wonosari ketika harus pindah dari satu kota ke kota lain.

Wasito menikmati dan mencintai laku hidup sebagai seniman yang telah ia pilih. Wasito berproses tahap demi tahap. Ia merasa menuai buah dari ketekunan bersama Ki Seno. Dari honor Rp 8 ribu hingga Rp 500.000 untuk tiap kali manggung sangat ia syukuri. Bahkan, jika ke luar kota honor dapat naik sampai pada kisaran Rp 1 jutaan. Dari hasil penabuh Slenthem itu sebagian ia investasikan untuk membeli ternak sapi. Di sela berkesenian Wasito merawat sapi-sapi miliknya.

Ia melanjutkan, pengalaman tentang budi baik Ki Seno yang membuat dia sendiri heran yakni ketika cobaan menerpa kesehatan tubuhnya. Wasito bercerita, tahun 2007 ia pernah mengalami cidera, syaraf bagian pinggul terjepit. Dengan kondisi tersebut, aktivitas kesehariannya sangat terganggu. Sekedar hendak berdiri usai duduk saja ia tak mampu. Sakit luar biasa ia rasakan. Praktis selama menjalani perawatan dan pengobatan dirinya absen pentas.

“Saya berhenti pentas selama 8 bulan. Namun, jelang kesembuhan saya, Ki Seno ke rumah. Ia memberikan honor selama 8 bulan penuh,” kata lelaki dengan pembawaan wajah yang tenang dan bersahaja ini.

Dirinya sempat heran waktu Ki Seno datang ke kediamannya menyerahkan honor sebanyak jumlah pentas dalam kurun waktu 8 bulan. Wasito mengira kedatangan Ki Seno ke rumahnya sebatas mampir setelah bepergian. Sebab, Ki Seno punya kebiasaan demikian. Saat waktu longgar suka menyambangi kediaman wiyaga dan sinden Wargo Laras satu persatu. Baik sendirian maupun rombongan bersama keluarga Wargo Laras.

“Bulan puasa kemarin satu rombongan menginap di sini. Sahur bareng-bareng di sini. Lain hari gantian ke rumah kru Wargo Laras yang lain,” terang Wasito mengisahkan kebiasaan lain dari Ki Seno.

Ki Seno kini meninggalkan Wasito dan keluarga Wargo Laras. Sosok Ki Seno, Wasito anggap selalu ada bersama Wargo Laras. Ia akan terus melanjutkan pentas demi pentas mengabdi di dunia seni. (Kandar)

Komentar

Komentar