Caping Bambu Kaliwaru, Kerajinan Turun-Temurun yang Masih Bertahan

Perajin Caping Bambu sedang memperagakan menganyam bambu. (ist)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Caping bambu produksi Dusun Kaliwaru, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, masih menjadi pilihan utama para petani di Gunungkidul. Selain berfungsi sebagai pelindung dari terik matahari, caping juga menjadi warisan budaya yang terus dijaga oleh para perajin setempat.

Di tengah aktivitas pertanian yang berlangsung di bawah sinar matahari, caping dinilai lebih efektif dibandingkan topi biasa. Bentuknya yang lebar mampu melindungi hampir seluruh bagian kepala, mulai dari wajah, pipi, hingga tengkuk.

Bacaan Lainnya

Saat mengunjungi sentra pembuatan caping di Kaliwaru, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menyoroti manfaat caping dari sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan masa kini. Menurutnya, caping membantu melindungi kulit wajah petani dari paparan sinar matahari langsung.

Dengan nada santai, Endah menyebut caping bisa menjadi pelindung alami bagi para petani yang kini semakin peduli terhadap perawatan kulit.

Sebagai bentuk dukungan terhadap produk lokal, ia mengaku akan menggunakan caping buatan warga Kaliwaru dalam berbagai kegiatan lapangan.

“Saya akan mengganti topi lapangan dengan caping asli buatan warga dalam setiap kegiatan di lapangan,” ujarnya.

Kerajinan caping di Kaliwaru memiliki beragam bentuk yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Setidaknya terdapat tiga jenis caping yang masih diproduksi hingga saat ini.

Caping Nyunggi memiliki bagian ujung yang datar sehingga memudahkan pengguna membawa beban di atas kepala. Jenis ini banyak digunakan oleh perempuan saat beraktivitas di ladang.

Sementara itu, Caping Kakung dibuat khusus untuk laki-laki. Adapun Caping Putri memiliki ukuran yang lebih lebar dengan bentuk sedikit melengkung, sehingga memberikan perlindungan lebih luas sekaligus tampilan yang lebih estetis.

Di balik bentuknya yang sederhana, proses pembuatan caping membutuhkan ketelatenan tinggi. Para perajin harus melalui sejumlah tahapan, mulai dari ngongoti atau menghaluskan bambu, ngirati untuk menyayat bambu menjadi lembaran tipis, hingga proses menganyam, nyuwir, dan rojeng.

Sutikno, salah satu pengrajin caping di Kaliwaru, mengatakan keterampilan menganyam bambu telah diwariskan secara turun-temurun. Ia sendiri mulai menekuni kerajinan tersebut sejak 1989.

Menurutnya, tradisi menganyam bambu di keluarganya telah berlangsung hingga tiga generasi. Keterampilan tersebut tidak dipelajari secara formal, melainkan diwariskan langsung dari orang tua kepada anak-anak mereka.

Meski berakar kuat pada tradisi, para pengrajin tidak berhenti berinovasi. Selain memproduksi caping, mereka juga mulai mengembangkan berbagai produk kerajinan bambu lain seperti tas, kap lampu, dan ornamen interior rumah.

“Inovasi ini dilakukan agar kerajinan bambu tetap memiliki pasar yang luas dan mampu mengikuti kebutuhan konsumen,” kata Sutikno.

Namun demikian, keberlangsungan kerajinan bambu Kaliwaru masih menghadapi tantangan. Saat ini hanya sekitar 60 persen warga yang masih aktif menekuni profesi sebagai perajin karena sebagian generasi muda memilih pekerjaan di sektor lain.

Karena itu, para pengrajin berharap semakin banyak anak muda yang tertarik melanjutkan tradisi tersebut agar warisan budaya lokal tetap terjaga.

Ke depan, produk kerajinan bambu dari Kaliwaru diharapkan tidak hanya dikenal di Gunungkidul, tetapi juga mampu menembus pasar nasional hingga mancanegara. Caping yang selama ini menjadi sahabat para petani pun diharapkan tetap bertahan sebagai identitas budaya sekaligus produk unggulan daerah.

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait