Terdapat Fosil Jejak Mirip Cacing, Bukti Sungai Ngalang Merupakan Laut Purba yang Dangkal

oleh -
kali ngalang
Priharjo Sanyoto menunjukkan jejak biota laut purba di Situs Kali Ngalang, Gedangsari, Gunungkidul, DIY. (KH/ Kandar)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Kali Ngalang yang melintasi Kalurahan Ngalang, Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu dari 13 geosite Global Geopark Gunung Sewu yang berada di Provinsi DIY dan Jawa Tengah. Terdapat situs geologi di kawasan tersebut. Salah satunya tepat berada di bawah jembatan, di dasar Sungai Ngalang  terdapat ichnofosil: jejak biota laut purba berbentuk menyerupai cacing. Jejak seperti cacing tersebut merupakan bekas aktivitas hewan laut.

Koordinator Georesearch Indonesia, Priharjo Sanyoto (70) mengungkapkan, ichnofosil biota laut purba yang hidup meliang di kawasan tersebut terbentuk karena proses bioturbasi pada fasa sedimentasi sekitar 16 juta tahun lalu atau pada awal Miosen tengah.

Saat musim kemarau, fosil jejak menyerupai cacing nampak dengan jelas. Sedimentasi yang terbentuk layaknya hewan cacing yang berkelok-kelok dan saling tindih. Diameter dan panjangnya bervariasi. Geosite ini merupakan bagian sedimen laut tua formasi Sambipitu.

“Jejak biota laut (seperti pong-pongan) ini menandakan bahwa di sini (Sungai Ngalang) pada masa lampau merupakan lautan dangkal atau pantai. Kedalamannya antara 5 hingga 10 meter,” terang Priharjo.

Mengutip http://geoheritage.jogjaprov.go.id/situs-bioturbasi-kali-ngalang/, Geotapak berupa jejak mirip cacing punya arti penting, yakni semacam rekaman aktivitas organisme di lingkungan transisi, diakhir masa kejayaan gunung api tua.

Para penggiat kebumian biasa menyebut fosil tersebut sebagai fosil jejak atau ichnofosil. Ichnofosil terbentuk dari aktivitas organisme pesisir pantai yang membuat rumah seperti rongga-rongga kecil.

Setelah rangkaian erupsi super, masuklah ke masa akhir kejayaan gunung api. Dimasa ini periodenya antara 2-16 juta tahun yang lalu. Hampir seluruh pulau Jawa tergenang laut dangkal. Kondisi air laut yang menggenangi  Pulau Jawa ini tenang, jernih, sumber makanan cukup dan cahaya matahari  yang masuk ke laut cukup baik sehingga kumpulan-kumpulan biota air berkembang pesat dan terbentuk suatu koloni koral secara besar-besaran.

Tak hanya jejak hewan laut, yang menarik dari fenomena geologi di Sungai Ngalang, yakni pada bantaran sungai sepanjang 15 kilometer yang terdapat di tiga kalurahan yakni Ngalang, Mertelu dan Hargomulyo menyajikan fenomena geologi yang lengkap.

Priharjo menyebutnya ‘The Best’ kaitannya dengan khasanah keilmuan mengenai geologi. Misalnya saja hendak belajar Petrologi, di Sungai Ngalang terdapat fenomena geologi sesar naik, turun dan geser. Keseluruhan tersaji dalam satu singkapan.

Lelaki lulusan S3 Departemen Geologi Australian Nationale University ini mengaku, sepanjang karirnya berkiprah dalam bidang geoscience, ia baru menemukan fenomena yang lengkap di Sungai Ngalang.

“Sejauh ini, Kali Ngalang hanya dikenal sebagai geosite bioturbasi, padahal Kali Ngalang dan sekitarnya memiliki obyek-obyek geologi lain yang menarik dan potensial untuk dikembangkan menjadi lokasi pembelajaran geologi,” kata lelaki kelahiran Bandung, Jawa Barat ini.

kali ngalang
Ichnofosil atau fosil jejak biota laur purba 16 juta tahun lalu di Situs Kali Ngalang. (KH/ Kandar)

Keunikan Situs Sungai Ngalang itu menjadi salah satu yang mendasarinya untuk tinggal di Dusun Plosodoyong di Kalurahan setempat. Dirinya mendirikan field camp. Dia mendirikan rumah kecil berbahan kayu untuk berbagai aktivitas, tidur dan bekerja. Dalam satu kawasan dibangun  pondokan, dan bangunan terbuka model limasan sebagai tempat mengajar pelajar setingkat SMA/SMK dan mahasiswa yang ingin mendalami ilmu geoscience. Pada ruang terbuka nampak tumpukan berbagai jenis batuan sebagai sarana pembelajaran. Dirinya mengaku lebih sering mengajak pelajar melihat langsung di lokasi fenomena geologi di bantaran Sungai Ngalang

“Georesearch Indonesia ini komunitas saja. Tentu nirlaba. Kami tidak menarik biaya bagi anak-anak (red: siswa) yang ingin belajar di sini,” imbuh lelaki yang rambutnya memutih ini.

Banyak institusi pendidikan yang mengirim pelajar dan mahasiswanya belajar di Georesearch Indonesia di Plosodoyong. Ada pelajar dari DIY Jateng, luar pulau Jawa bahkan mahasiswa dari manca negara.

“Kami tidak pernah promosi, usai pensiun saya mulai mengajar di sini. Lembaga pendidikan tahu kegiatan saya sebatas dari kolega dan informasi dari mulut ke mulut,” terang dia.

Mengingat pentingnya fenomena geologi di Sungai Ngalang bagi dunia pendidikan, dia berharap masyarakat dan pemerintah memberikan perhatian.  Jangan sampai masyarakat melakukan aktivitas yang dapat merusak situs Sungai Ngalang, diantara melalui kegiatan penambangan.

“Bagi saya Sungai Ngalang terbaik dan terlengkap, sangat cocok bagi yang ingin belajar ilmu geologi tingkat dasar atau pemula,” tandas lelaki yang ramah dan supel ini. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar