Sendratari “Loroblonyo”: Mitologi “Watu Manten” dalam Festival Sendratari “Bedhayan”

oleh
Kontingen Sendratari "Loroblonyo" Kabupaten Gunungkidul, 2019

Beberapa minggu sebelum “drama cinta beda dunia” antara Pantarwati dan Suteja yang berakhir pada watu manten digelar dan disajikan di dalam Festival Sendratari antar Kabupaten-Kota se-DIY, si penata tari, Ozzy Azzura (Selang, Wonosari) meminta informasi kepada beberapa nara sumber di Kecamatan Semanu, seperti Wening, Alan, Purnawan, Bu Dwi (guru SMAN 1 Wonosari), serta Pamong Budaya di Kecamatan Semanu, yaitu Pak Wasidi, tentang seluk-beluk mitos “Watu Manten”. Pak Wasidi pernah menggarap mitos “Watu Manten” berupa cerita kethoprak; Bu Dwi pernah menggarapnya berupa tarian untuk keperluan FLS2N tingkat provinsi.

Seperti halnya ‘kenyataan’ bahwa mitologi adalah sumber ilmu pengetahuan (sains), maka mitologi adalah sumber ide cerita drama tari. Mitologi adalah spirit drama tari. Unsur-unsur dramatik dalam mitologi sangat pas untuk dimunculkan dalam bentuk drama tari. Maka untuk menghasilkan gerak yang diharapkan mampu menggambarkan dan mengekspresikan cerita Watu Manten, Ozzy beserta kawan-kawan melakukan sapa-aruh atau komunikasi dengan ruang-ekologik dimana mitologi ini berada. Paling tidak, Ozzy dan kawan-kawan mencoba ngrasakake suasana lingkungan hidup Watu Manten. “Percaya tidak percaya, hal-hal seperti itu pasti ada,” Ozzy menerangkan. Ia dulu pernah menggarap cerita jlamprong ketika SMA. Ozzy juga melakukan hal yang sama: ia melakukan kulanuwun ke tempat dimana mitologi jlamprong hidup.

Sendratari “Loroblonyo” yang mendasarkan pada mitologi Watu Manten adalah garapan tarinya yang kedua. Ia masih sangat baru di ajang Festival Sendratari antar Kabupaten-Kota se-DIY yang dilaksanakan rutin tiap tahun. Yang pertama dulu ia menciptakan sebuah garap tari berjudul “Pesthi”, itu saja untuk keperluan Tugas Akhir sebagai mahasiswa ISI. Garapan “Pesthi” mengangkat kegundahan hati Dewi Amba tatkala cintanya ditolak oleh Bisma dan Raja Salwa. Kisah Dewi Amba diangkat oleh Ozzy karena ia merasakan pengalaman batin berhubungan dengan “penolakan cinta”, sehingga ia mencari cerita di Mahabharata yang bisa secara pas menggambarkan suasana hatinya ini. Harapannya, garapan yang dihasilkan memiliki kekuatan (greget) sehingga enak dilihat dan indah.

Sudah lazim sebuah karya bermula dari pengalaman batin atau kegundahan dan kegelisahan sang seniman. Apalagi ia juga merasa sebagai bagian dari gambaran kalangan pemuda era sekarang. Ia pernah merasa benar-benar jatuh, hingga pada akhirnya atas perjuangan tanpa lelahnya ia bisa bangkit. Pengalaman batin yang sangat subtil ini menurutnya pantas untuk ditransformasikan dalam sebuah garapan tari. Dan “Pesthi”, yang menceritakan pengalaman batin Dewi Amba sekaligus pengalaman batinnya sendiri, secara pas ia-daku dapat mewakilinya. Berangkat dari kata kunci “pengalaman batin” ini lah maka ia, dibantu Yestri, Tabis, dan seorang pegawai Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Purnawan, mencari-cari cerita rakyat Gunungkidul yang bisa diangkat dalam format seni drama tari produksi Kontingen Kabupaten Gunungkidul bertema “bedhayan”. Akhirnya, mereka menemukan cerita rakyat “Watu Manten” dari Kali Jirak Kecamatan Semanu Gunungkidul. Ozzy merasa sreg (cocok) dengan cerita “Watu Manten” karena menceritakan perjuangan seorang wanita dalam rangka mendapatkan pasangannya.

Tokoh Nyi Ingas, Riris Aisyah. Foto: Nara
Tokoh Nyi Ingas, Riris Aisyah. Foto: Nara

“Kalau menurut saya bedhayan itu beda dengan bedhaya. Bedhaya tak bisa dirubah. Tetapi dalam garap bedhayan bisa dimunculkan beberapa karakter tokoh. Bedhayan bisa dikatakan sanggit atas bedhaya,” begini Ozzy berpendapat tentang garap bedhayan. Bedhaya pakemnya 9 penari putra dan 9 penari putri. Sementara garapan drama tari Loroblonyo ditarikan oleh 15 penari putri dan seorang penari putra. “Ya memang pada awalnya dulu saya menggunakan 15 penari putri. Tetapi karena garapan tari ini membutuhkan tokoh putra untuk adegan love-dance, sementara love-dance yang diperagakan penari putri dengan putri terasa kurang greget. Rasanya beda sebuah love-dance diperagakan putri-putri dibanding putra-putri. Maka kemudian saya memasukkan satu penari putra. Agar karya saya bisa dirasakan love-dancenya”, Ozzy menjelaskan.

Dalam gelaran festival Ozzy mencoba menampilkan rasa nges dari love-dance (tari berpasangan) antara Pantarwati (yang lelembut) dengan Suteja (yang manusia). Selama proses produksi ia banyak berdiskusi dengan para seniornya di Kabupaten Gunungkidul, seperti Yestri, Widi, dan lainnya. “Sebenarnya Sendratari Loroblonyo mendasarkan ide pada cerita rakyat Semanu (Watu Manten), namun karena dituntut untuk digarap bedhayan maka saya sebagai penata tari mengambil ragam-ragam gerak gaya Yogyakarta, misalnya memasukkan unsur pola-lantai rakit-gelar dalam bedhaya, serta memasukkan adegan sungkem yang dilakukan oleh Pantarwati kepada ibunya, Nyi Ingas,” begini Ozzy memberi keterangan. Ozzy juga menggunakan tembang koor yang biasanya dilakukan oleh pengrawit, namun dalam garap tari kali ini dilakukan oleh seluruh penari. Seluruh penari nembang.

Namun pada garapan Loroblonyo Ozzy tidak memunculkan beberapa ragam gerak tari khas Gunungkidulan seperti garapan sendratari sebelum-sebelumnya. Memang yang ia tekankan bukan ciri khas keGunungkidulan, namun ia menguatkan wilayah ekspresi. “Yang saya tekankan adalah pada bagian amarah Sang Ibu,” kata Ozzy, “bahkan saya memotivasi teman-teman untuk berekspresi semarah mungkin.” Ragam gerak ngraseksi atau ngraseksa banyak digunakan dalam garap tari. Puncak dari alur cerita adalah kisah percintaan Pantarwati dan Suteja tidak direstui oleh Nyi Ingas. Perbedaan dunia antara Pantarwati dan Suteja menyebabkan Sang Ibu melarang hubungan mereka. Menurut Ozzy, justru perbedaan yang tajam antara dua golongan kehidupan ini merupakan sumber kekuatan cerita. Puncaknya adalah: kisah percintaan mereka ‘dikutuk’ oleh orang tuanya.

Ozzy mengaku bahwa ia mengalami kesulitan menjaga dinamika antara gerak dan cerita karena memang ini seni drama tari. Ozzy harus mencari-cari dan merangkai dinamika tari yang seimbang dengan nilai dramatik sejak dari awal hingga akhir pertunjukan. Sebagai penata tari muda, ia mengalami kesulitan memunculkan unsur dramatik. Maka ia berkolaborasi dengan Fitra, penata tari senior Gunungkidul, sekaligus sebagai sutradara produksi sendratari kontingen Gunungkidul tahun ini. Sekali lagi, Ozzy meminta teman-teman penari untuk fokus pada ekspresi sedih ataupun marah ketika memeragakan fragmen tarian. Saat marah, sedih, dan sebagainya harus melakukan gerak yang mencerminkan ekspresi itu. Selain proses kreatif yang dilakukan bersama dengan teman-teman, ketika mengalami kebuntuan dalam hal merangkai ragam gerakan, ada beberapa ragam gerak yang ditambahkan atau dikurangi.

Komentar

Komentar