Sendratari “Loroblonyo”: Mitologi “Watu Manten” dalam Festival Sendratari “Bedhayan”

oleh -
Kontingen Sendratari "Loroblonyo" Kabupaten Gunungkidul, 2019
iklan dispar

Begini lah lirik ‘introduksi’ sajian sendratari Kontingen Sendratari Kabupaten Gunungkidul mengiringi gerakan 16 penari di Pendapa Komunitas pada malam (kedua) itu. Gelaran drama-tari abadi yang pernah terjadi di masa-masa lebih purwa pun ditunjukkan, diawali playon kempul-kenong. Diucapkan dan diceritakan oleh Si Empunya cerita: ada hubungan percintaan ‘beda-dunia’ atau beda golongan kehidupan, yaitu antara seorang wanita dari golongan jin bernama Pantarwati (diperankan oleh Ety Oktaviani) dengan seorang pria dari golongan manusia bernama Suteja (diperankan oleh Widi Pramono).

Kemricik ilining tirta
Gumebyur jroning raga
Kasengsem cahya kang sumunar
Sing nggugah rasa tresna

Pada suatu saat Suteja dari golongan manusia adus nggebyur di Kali Jirak. Pantarwati, golongan jin yang mungguh bersama ibunya di sekitar wilayah itu, melihat Suteja mandi di kali. Ia terpesona akan keindahan Suteja sang manusia. Tumbuh rasa cinta dalam diri Pantarwati. “Apa bisa nyandhing priya beda donya?” Pantarwati bertanya dalam hati. Ternyata, Suteja pun sama: menggelorakan cinta pada Pantarwati.

Cinarita hong Pantarwati
Sowan wonten Dalem Rena
Nyuwun kagem rasa tresna

Dhuh Jawata pepujan kula
Kang nyipta pra kawula beda-beda
Kodrat Jawata peparing rasa tresna

Konjuk sungkem dhumateng Rena Ibu pepujan kula
Dhuh Sang Rena paringana welas kawula
Rasa tresna wus sumebar sak badan kula

Tokoh Suteja, Widi Pramono. Foto: Nara
Tokoh Suteja, Widi Pramono. Foto: Nara

Sekujur tubuh Pantarwati telah dipenuhi blonyo asmara. Menggemulai lambai tangan dan sampurnya. Tubuhnya yang tinggi dan semampai tak menandakan lagi bahwa ia adalah jin-lelembut Kali Jirak yang menyeramkan. Para penari lain dalam berbagai pola lantai ikut memeragakan kelungidan (kelembutan) golongan lelembut. Ia sadar, bahwa pria yang diinginkannya adalah golongan manusia. Ia mengaduh kepada Tuhan yang menciptakan golongan kehidupan: Tuhan lah yang memberi luapan rasa cinta kepadanya.Tak kuasa menanggungnya, ia sowan kepada ibunya, Nyi Ingas, untuk sungkem dan memohon kawelasan sang ibu akan rasa cintanya pada seorang pria beda dunia itu, Suteja.

Bangsane beda, jin lan menungsa!
Mula gage singkirana!

Dalam beberapa ragam gerak yang menonjolkan ekspresi kemarahan dan keraseksian (mata mencorong, muka beringas, tangan mencengkeram kuku berbisa), Sang Ibu, Nyi Ingas (diperankan oleh Riris Aisyah), tidak merestui cinta Pantarwati. Nyi Ingas memerintah Pantarwati untuk menjauhi Suteja.

Hong jagad tresna
Jangka tresna jangka tresna

Dhuh Kangmas bangeting atiku
Nyesep tresnamu ngrogoh sukmamu

Pupus rasa tresna, panggayuhan tresna
Wus pegat tresna merga beda donya

Bukan menjauh dari Suteja yang dilakukan oleh Pantarwati, namun ingin nyawiji. Ia hendak bersatu dan berpadu dengan Suteja (mantenan). Rasa cinta kepada Suteja adalah cahaya dan rasa sejati. Kodrat Tuhan harus terjadi, meskipun mereka akan menemui pati.

Wus kababar rasa tresna
Nadyan beda donya
Tresna sejati rabi
Saudhar tresnaku ora bisa owah
Kodrating jagad marang lelakonku
Nadyan wisaning samodra
Nadyan kenging pati

Tembang Maskumambang nluturake rasa sedih amat sangat, mengalunkan kesepian sekaligus kengerian, mengiringi love-dance (tari percintaan berpasangan) antara Pantarwati dan Suteja. Pantarwati dan Suteja membulatkan niat: rasa tresna kang sejati ora bisa uwal saka kodrating Sang Maha Widhi. Namun rasa cinta yang diyakini sejati dan paringan Tuhan harus berperang menghadapi ingas Sang Ibu. Nyi Ingas, Sang Ibu, menyaksikan persatuan keduanya dari sisi lain. Suteja bukan lah pria bagi putrinya yang diantu-antu (ditunggu-tunggu). Sekali lagi: matanya mencorong tajam; mukanya bengis-beringas; tangannya mencengkeram; kata-katanya “berbisa”! Anaknya yang memaksa menjadi manten ia-sabda menjadi watu.

Lakumu njalari dadi watu.
Lakumu njalari dadi watu.
Lakumu njalari dadi watu.

Komentar

Komentar