Lurah Mulusan Lakukan Ruwatan Terhadap Kayu Roboh Akibat Angin Kencang

oleh -
Musibah angin
Pepohonan di Kalurahan Mulusan roboh akibat angin kencang. (KH)

PALIYAN, (KH), — Musibah angin kencang di Kalurahan Mulusan dan Karangasem, Kapanewon Paliyan, Gunungkidul, Jumat, (11/3/2022) lalu menyebabkan 186 rumah rusak ringan hingga berat. Kebanyakan rumah mengalami kerusakan pada bagian atap.

Tak hanya karena tertiup angin, bagian rumah yang rusak juga diakibatkan karena tertimpa kayu roboh.

Berbagai jenis kayu yang roboh jumlahnya cukup banyak. Diperkirakan jumlahnya mencapai ratusan.

Warga Padukuhan Karangmiri, Kalurahan Mulusan, Wiyadi (52), Senin, (14/3/2022) menceritakan saat musibah angin kencang yang disebut puting beliung terjadi. Dia dan warga lain berlari menuju Masjid. Warga berniat berlindung di dalam masjid karena struktur bangunannya dinilai lebih kuat.

“Pusaran angin bertiup dari arah selatan ke utara. Angin berputar, warnanya gelap dikelilingi asap,” kata dia menunjukkan kengerian.

Di pusaran angin, ia melihat genteng, seng, asbes, dedaunan dan ranting beterbangan.

Sesaat setelah musibah, dia melihat lokasi yang dilalui pusaran angin porak poranda. Banyak pohon tumbang dan atap rumah jebol.

Lurah Mulusan Supodo menyebutkan, tiga hari pasca musibah terjadi rehabilitasi rumah telah mencapai 85 persen.

“Kami menyarankan kayu milik warga yang tumbang untuk digunakan memperbaiki struktur bangunan rumah yang rusak. Namun ada yang percaya bahwa kayu dari pohon roboh akibat musibah tak baik jika dipakai sebagai bahan penyusun bangunan rumah,” kata Supodo saat ditemui di posko.

Dia mengungkapkan, mitos itu masih dipercaya sebagian masyarakat. Namun demikian, Supodo meminta masyarakat lebih berfikir logis. Asal kondisi kayu masih punya kualitas atau memungkinkan digunakan, warga agar tak ragu memakainya.

“Untuk meyakinkan warga, kami sampaikan bahwa ritual ‘pembersihan’ atau ruwatan dengan tujuan menghilangkan pengaruh buruk dari kayu tumbang akibat musibah secara menyeluruh telah dilakukan. Kami berharap warga yang percaya mitos tak lagi takut memanfaatkan kayu,” terang dia.

Supodo sendiri tak mempercayainya. Dari yang dia tahu, ada yang mempercayai kayu roboh akibat musibah angin atau petir punya pengaruh buruk.

“Keluarga pemilik rumah bisa tak tenang selama mendiami rumah. Rumah juga terancam tak awet atau berisiko mudah rusak lagi. Seperti itu yang kami tahu,” imbuh Supodo. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar