Pagebluk dan Mitos

oleh -398 Dilihat
oleh
doa
Warga Gunungkidul khidmat dalam doa. (Foto : Wahyu Widayat)

“Ketika ingatan menjadi penuh beban, ia mencari kebisuan yang dalam”.

(Khalil Gibran)

Wajah Raden Pandu masygul, sedih tak terkira. Di hadapannya, bergelimang mayat rakyat jelata. Kerajaan Sriwedari porak poranda dan sunyi karena diserang wabah penyakit. Didampingi Prabu Dasabahu dan para punakawan, Raden Pandu berusaha tetap tegar.

Ia pun lalu mendekati Semar. Ki Semar kemudian membisikkan mantra penolak bala. Raden Pandu langsung bergegas menuju Setragopaya, kuburan nan luas di Kerajaan Sriwedari. Raden Pandu memejamkan mantra sejenak, sejurus kemudian ia membacakan mantra.

Tiba-tiba terdengar jeritan dari para makhluk halus, penghuni kubur Setragopaya. Para penghuni kubur merasa kepanasan karena tuah mantra Raden Pandu. Bahkan Sang Ratu Makhluk Halus pun melolong kesakitan. Ratu Makhluk Halus itu tak lain adalah arwah Dewi Panitra, istri Prabu Dasabahu — Raja Kerajaan Sriwedari.

Demikian sekuel lakon wayang “Raden Pandu Nyirep Pagebluk”.

Pagebluk

Bagi orang Jawa, wabah penyakit bukanlah hal baru. Tidak mengherankan, kosakata bahasa Jawa terkait wabah penyakit cukup banyak tercatat, antara lain: pagebluk, kalabendhu, pralaya, mahalaya dan malapetaka. Merujuk pada Zoetmoelder (1995), seorang ahli bahasa Jawa Kuno dan filolog mengatakan bahwa pagebluk berasal dari kata dasar “gebluk”, yang artinya jatuh, tumbang, dan tersungkur.

Pagebluk dengan demikian gambaran suatu kondisi dimana korban jiwa berjatuhan, bertumbangan, ataupun jatuh tersungkur. Hal tersebut terjadi secara serentak bahkan berskala luas hingga menewaskan banyak orang.

Tanah Jawa bukanlah tanah yang bebas dari pagebluk, wabah penyakit. Wabah penyakit flu Spanyol, kolera dan pes setidaknya pernah memporakporandakan para leluhur kita. Dan kemarin kita gagap dan gamang dengan hadirnya wabah pandemik (pagebluk) Corona Virus (Covid 19).

Covid 19 pun serta merta mengubah cara berpikir kita tentang kesehatan, ekonomi, sosial budaya dan bahkan agama. Tidak kalah menarik adalah bagaimana orang Jawa merespon Covid 19 melalui sikap dan perilakunya. Agaknya respon-respon yang muncul adalah indikasi tentang “melawan lupa” sebagai sebuah memoria passionis (ingatan akan penderitaan).

Melawan Lupa dan Ingatan Penderitaan

Frase politis “Melawan Lupa” buah pikir Milan Kundera dalam The Book of Laughter and Forgetting seolah hidup lagi. Sikap “lupa” entah sengaja atau tidak sengaja nampaknya menjadi tabiat buruk homo sapiens yang perlu dilawan.

Barangkali memang terkesan bombastis, namun demikianlah kenyataannya. Manusia mudah lalai dan abai dengan masalah yang dihadapi, yaitu melupakan mencari solusi terhadap akar masalah.

Saya menyakini, buah pikir Milan Kundera “Melawan Lupa” memiliki korelasi dengan pendahulunya, Walter Benjamin. Walter Benjamin merumuskan gagasannya dalam konteks politik, persis seperti Milan Kundera. Bagi Benjamin, “ingatan” adalah hal yang eksistensial.

Masa lalu berperan membentuk eksistensi manusia di masa kini. Dalam hal ini, ingatan berperan menjembatani antara subyek yang mengingat dan hal yang diingat. Masa lalu akhirnya berulang dengan intensitas yang berbeda dan terjadi di masa kini. Ingatan adalah bentuk perlawanan. Disinilah locus pagebluk dan mitos bagi orang Jawa mesti dikaji ulang.

Mitos

Mustahil untuk dibantah bahwa Covid 19 disebut sebagai pagebluk bagi orang Jawa. Tentu anggapan ini mendasarkan pada dampak Covid 19 terhadap hajat hidup manusia Jawa. Salah satu hal yang menarik dalam merespon Covid 19 adalah adalah munculnya kembali mitos-mitos yang selama ini dikenal oleh masyarakat.

Sejak kemunculan Covid 19 di Indonesia, tidak sedikit ikhtiar budaya dilakukan untuk mencegah wabah ini. Dalam catatan saya, mitos-mitos yang muncul adalah sayur lodeh, tembang-tembang anggitan Sunan Kalijaga, Sabdo Palon dan Naya Genggong, bala tentara Allah, memasang janur kuning dan kunyit di pintu rumah, makan kari ayam dan berjemur hingga teori konspirasi terkait Covid 19. Tidak sedikit unggahan tentang mitos-mitos ini bertebaran di media sosial.

Dalam masyarakat berkultur agraris, keberadaan mitos adalah hal yang biasa. Mitos bukanlah hal terkait benar dan tidak benar. Ia adalah sebentuk keyakinan masyarakat yang dirawat dan dipelihara.

Bagi orang Jawa seringkali mitos dihubungan dengan hal yang mistis, ganjil dan takhayul. Secara harafiah, mitos dianggap sebagai kepercayaan yang mendasarkan pada dongeng/narasi turun temurun yang sulit dibuktikan secara riil dan rasional. Bahkan kisah masa lalu sebagai tafsiran tentang alam dan semesta juga dianggap sebagai mitos.

Mitos lahir dari rasa gumun dan ketakjuban. Kegumunan, dan ketakjuban itulah yang kemudian melahirkan sikap penasaran, keingintahuan dan pertanyaan. Mitos diciptakan untuk menjaga harmoni. Tanpa mitos, manusia Jawa mengalami kekeringan batin. Mitos adalah cara manusia Jawa berkomunikasi dengan entitas yang lain. Di era serba digital, kita tetap membutuhkan mitos sebagai penyelaras hal yang serba teknis dan matematis.

Menurut Roland Barthes dalam Mythologies, mitos tidak berhubungan langsung dengan mitologi. Mitos adalah cara pemaknaan dari sebuah narasi/cerita atau wicara. Sangat mungkin bahwa apa yang saat ini diyakini sebagai mitos, tiba-tiba hilang dan tergantikan oleh mitos yang lain.

Mitos bukanlah tentang objek apa yang dituturkan melainkan bagaimana obyek itu disampaikan dan dalam situasi seperti apa. Oleh karena itu, apapun bisa menjadi mitos, tergantung ideologi yang ada dibalik mitos tersebut.

“Pembaca” dituntut jeli untuk menemukan asosiasi tentang apa dan siapa yang ada dalam mitos. Dalam bahasa Karen Amstrong, selain bagaimana mitos itu disampaikan, hal terpenting yang ada dalam mitos adalah nilai positif dan makna denotasi dibalik keberadaan mitos tersebut.

Penutup

Sebuah puisi pendek pernah ditulis oleh Erick Kastner. Demikian bunyinya: “Siapa yang lupa akan hal indah maka dia akan jadi jahat. Siapa lupa hal yang jelek maka ia akan jadi bodoh”. Pagebluk Covid 19 tidak untuk dilupakan. Covid 19 adalah bentuk lain pengulangan sejarah wabah penyakit yang menyerang umat manusia, manusia Jawa termasuk didalamnya.

Kemampuan mengingat dan menghidupkan kembali mitos dan nilai didalamnya merupakan upaya menjaga keseimbangan semesta dan menumbuhkan harapan untuk hidup. Kemampuan manusia berikhtiar secara budaya adalah bagian dari identitas manusia Jawa. Tanpa mitos, siapakah diri kita?

Penulis : Wahyu Widayat

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar