Di Lahan Kering, Hasil Padi Inpago Lebih Tinggi Daripada Padi Inpari

oleh -
Panen Padi Inpago di Ponjong. (KH)
iklan dispar

PONJONG, (KH),– Panenan padi Inpago terbukti memiliki hasil lebih tinggi dibanding padi Inpari. Selisih tiap hektarnya mencapai 1,4 hingga 2,3 ton.

Peneliti Balai Penelitian Teknologi Pertanian (BPTP) DIY, Sutardi, SP., MSc., mengungkapkan, hasil uinan padi varietas Inpago 7,7 ton per hektar atau kisaran 7,2 – 8,3 ton per hektar Gabah Kering Panen (GKP).

“Demikian juga bobot jerami padi Inpago jauh lebih tinggi dibandingkan padi Inpari dengan selesih 3 ton tiap hektar,” terang Sutardi saat memantau panen padi Kelompok Tani Sri Rejeki, Dusun Trenggono, Desa Sidorejo, Kecamatan Ponjong, Gunungkidul bersama Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul belum lama ini.

Menurutnya, menanam padi Inpago memiliki dua keuntungan. Selain keuntungan hasil panen, jerami yang umum digunakan petani sebagai cadangan pakan ternak juga lebih banyak dihasilkan. Padi Inpago menghasilkan 28 ton jerami per hektar, sedangkan padi Inpari menghasilkan 25 ton jerami per hektar.

Ditambahkan, padi yang ditanam Kelompok Tani Sri rejeki diantaranya varietas Inpago 8, 10, 12, serta Inpari 42 GSR, dan Inpari 30. Padi lahan kering tersebut sebelumnya ditanam dengan sistem budidaya padi Largo Super atau Larikan Padi Gogo. Selain sistem tersebut, penanaman juga telah menggunakan sentuhan teknologi mesin tanam Atabela serta pemupukan biohayati.

“Berdasar hasil, yang direkomendasikan untuk penanaman di lahan kering Gunungkidul yakni sistem penanaman Largo Super untuk padi varietas Inpago atau Inhibrida dengan penggunaan alat tanam Atabela karena efisien menghemat waktu dan tenaga kerja,” jelas Sutardi.

Dukuh Trunggono, Sumilan melaporkan bahwa para petani di wilayahnya berhasil menerapkan introduksi paket teknologi Largo Super seluas 30 Hektar.  Pada musim tanam pertama 2020/2021 mendatang berencana menanam kembali padi varietas Inpago karena hasilnya tinggi serta jeraminya disenangi untuk pakan ternak.

Sementara itu, Kepala DPP Gunungkidul, Ir.Bambang Wisnu Broto menyampaikan terimakasih atas pendampingan teknologi yang dilakukan oleh BPTP Balitbangtan DIY. Dari hasil panen seluas 30 hektar sebesar 153 – 231 ton Gabah Kering Panen (GKP) bisa untuk mencukupi cadangan pangan beras selama setahun bagi masyarakat Trenggono.  Bahkan cadangan tersebut surplus. Selanjutnya kedepan para petani dapat memilih teknologi budidaya padi yang sesuai dengan kebutuhan petani atau teknologi spesifik lokal yang sudah teruji seperti Largo Super. (Kandar)

Komentar

Komentar