Usaha Penangkaran Murai Milik Ustadz Sandi Beromset Rp 20 juta Per Bulan

oleh -
Ustadz Sandi Rahman. (KH/ Edi Padmo)
kadhung tresno

WONOSARI, (KH),– Suatu sore yang mendung, di awal musim penghujan 2020, KH bertandang ke rumah Ustadz Sandi Rahman (49), di Dusun Kemorosari 2, Kalurahan Piyaman, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul.

Di rumah yang tampak asri dipenuhi berbagai jenis Bonsai, tanaman buah dan bunga, KH disambut kicau puluhan berbagai jenis burung yang riuh. Tercipta harmoni suara alam layaknya di tengah hutan. Ustadz Sandi Rahman dengan ramah mempersilahkan KH untuk duduk di sebuah balai kayu, persis di depan kandang penangkaran burung Murai batu yang berjajar jajar di tengah rimbunyna pohon pepaya dan bunga-bunga yang bermekaran. Lebah-lebah kecil (tawon Lanceng), tampak berseliweran hilir mudik hinggap di berbagai bunga dan gerabah-gerabah tanah liat yang berjejer jejer di gantung sebagai sarangnya.

Tak berselang lama dari kedatangan KH, Istri Ustadz Sandi, Dewi Bekti Utami menyuguhkan teh panas dan gorengan. “Monggo sak wontene, di kersakke,” Ibu Dewi dengan ramah mempersilahkan kami untuk menikmati hidangan yang di suguhkan.

“Tanaman buah dan bunga ini sengaja saya tanam di sela sela kandang tangkar, tujuannya biar adem, suasana mirip di alam, sehingga burung burung akan betah dan tidak mudah stres,” kata Ustadz Sandi mengawali obrolan kami sore itu, seiring rintik gerimis hujan yang mulai turun.

“Saya memulai menangkarkan burung di tahun 2004, waktu itu saya beternak love bird, kebetulan di tahun 2010, burung jenis love bird ini booming, saya mendapat keuntungan yang lumayan. Waktu itu bisa untuk saya buat rumah depan itu, dan sebagian saya belikan bakalan bakalan Murai”, cerita Ustadz Sandi.

Dengan ketekunan yang luar biasa, penangkaran Murai milik Ustadz Sandi berkembang pesat, saat ini Dia menggunakan bendera SRGK FARM (Sandi Rahman Gunungkidul Farm) untuk usaha penangkaran burung miliknya.

Dari cerita Ustadz Sandi, ada ratusan burung yang sekarang memenuhi kandang. Namun unggulannya tetap pada jenis Murai batu. SRGK mempunyai 10 pasang indukan, dengan rata-rata tiap 28 hari tiap indukan menetaskan 2 sampai 4 ekor anak. Jadi, produksi dari 10 pasang indukan rata rata per bulan menghasilkan 20 sampai 25 ekor anakan. Dengan harga jual anakan sapihan per ekor Rp 1 sampai 1,5 juta, maka SRGK Farm meraup omset rata-rata Rp 20-an juta per bulan dari penangkaran Murai Batu.

“Tapi tidak mesti, angka-angka itu di kurangi angka kematian (mortality), dan biaya pakan plus pemeliharaannya,” ujar Ustadz Sandi.

Selain Murai batu sebagai produk unggulan, ada 6 jenis burung lain yang bisa ditangkarkan oleh SRGK Farm, yaitu jenis Koci, Kacer jawa, Cimblek, Decu, Cucak Ijo dan Blackstroot.

Secara umum kita ketahui bersama bahwa tekhnik penangkaran burung, terutama jenis Murai batu, terkenal ribet dan mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi. Bahkan ada beberapa peternak yang harus menyiapkan kandang tertutup. Tidak sembarang orang bisa masuk, untuk kelas penangkaran besar bahkan ada yang sampai memasang CCTV di kandang, untuk mengamati perkembangan burung, dan meminimalisir orang yang masuk. Hal ini bertujuan agar burung Murai batu yang ditangkarkan tidak stres atau gagal. Beda sekali dengan sistem penangkaran yang di buat SRGK, di mana kandang tangkar semi terbuka, di penuhi dengan tanaman tanaman hijau, dan bahkan waktu Itu KH di ajak masuk kandang oleh Ustadz Sandi. Terlihat memang, kehadiram kami di dalam kandang tidak begitu berpengaruh terhadap perilaku burung-burung yang ada di dalamnya.

“semua itu tinggal awalnya, jika awal kita buat ribet ya ribet, tapi jika awal kita buat mudah, ternyata juga tidak seribet yang orang bicarakan. Kuncinya itu, dan satu lagi kiatnya, setiap kita masuk ke kandang, kita harus membawa makanan (jangkrik), jadi burung akan hapal (niteni). Kita masuk itu membawa oleh-oleh,” terang Ustadz Sandi panjang lebar.

Kondisi lingkungan kandang Sandi Rahman Gunungkiudl Farm. [KH/Edi Padmo]
Kiat-kiat SRGK Farm, menurut Ustadz Sandi tidak ada yang disembunyikan, siapapun yang ingin belajar, pintu akan terbuka lebar. “Saya punya prinsip, apapun yang saya lakukan asalkan itu baik, saya niati ibadah, jika ada orang lain yang bertanya soal penangkaran burung, dengan senang hati akan saya berikan kiat-kiatnya, ilmu yang dibagikan tidak akan habis, bahkan bisa bertambah, saya bisa memberikan ilmu kepada orang lain itu justru ada dua keuntungan yang saya peroleh, pertama dari ilmu itu sendiri, ke dua dari orang lain yang mengamalkannya dan bermanfaat untuk keluarga atau yang lainnya,” terang dia.

Gerimis agak mereda, KH diajak berkeliling di lokasi SRGK Farm oleh Ustadz Sandi. SRGK Farm telah menerapkan sistem integrasi bidang-bidang usaha. Ada 10 ekor sapi, dan Kambing, kotak kotak budidaya Jangkrik, dan berbagai jenis tanaman pakan hijau ternak, sayur dan buah-buahan. Ada juga tempat pengolahan pupuk organik,

Komentar

Komentar