Terdampak Pandemi, Sopir Antar Kota Banting Stir Bikin Miniatur Mobil

oleh -
Mugiyono menunjukkan karya miniatur mobil yang ia buat. (KH/ Kandar)

WONOSARI, (KH),— Pandemi Covid-19 berdampak pada berbagai sektor bidang usaha dan pekerjaan. Tak terkecuali bagi orang yang berkecimpung di dunia bidang jasa transportasi, seperti sopir misalnya. Pandemi yang terjadi membuatnya benar-benar terpukul.

Seperti yang dialami Mugiyono, warga Kalurahan Baleharjo, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul ini. Pandemi Covid-19 membuatnya benar-benar herhenti dari pekerjaannya di balik kemudi mobil.

“Persis setelah Covid-19 merebak saya berhenti. Biasanya menggunakan mobil truk mengantar sayur dari Dieng ke Jakarta dan Surabaya,” kenang bapak 4 anak ini.

Sesekai juga, ia mengantar cabai dari Bantul ke luar kota. Lantas akibat berbagai faktor karena Covid-19 membuat dia benar-benar kehilangan pekerjaan.

Suami dari Sri Bawati ini saat ditemui, Jum’at (5/3/2021) mengisahkan pengalamannya sebelum menjadi sopir antar kota. “Sekitar tahun 1985-an saya merantau menjadi kernet di Jakarta. 6 bulan kemudian bisa nyetir lalu jadi sopir,” tutur lelaki yang punya hobi melukis ini.

Usai pulang ke Gunungkidul, Mugiyono lantas mengemudi angkutan umum di Gunungkidul. “Pernah omprengan trayek Wonosari-Rongkop pakai Colt,” timpal dia.

Pernah pula ia menjadi sopir truk yang melayani pengadaan material bangunan. Terakhir dia angkut sayuran dan barang ke luar kota. Dengan sesekali tertawa dia panjang lebar menceritakan pengalaman bekerja di bidang jasa transportasi.

Pasca pekerjaan sopir mandek, dirinya sempat bingung. Kesukaannya menggambar lantas membuatnya punya ide. Mugiyono menggambar membuat pola miniatur mobil di papan kayu. Ada bus, truk, sedan serta gambar mobil antik. Ia memberanikan diri memulai membuat miniatur mobil. Bahan yang digunakan berupa bahan limbah. Diantaranya  kayu jati belanda.

Dirinya mengaku tak gengsi hasil kerajinannya dicap buruk. “Justru saya kenalkan dulu melalui medsos. Biar orang lain meniali bagus tidak? laku tidak?” kata dia sembari menghisap rokok kretek.

Dari pengenalan melalui medsos itu apa yang diimpikan terwujud. Produk minitaur mobil satu per satu laku. Dirinya mematok harga antara Rp 300 hingga 500 ribu.

“Ya bersyukur ada yang mau beli,” ucap Mugiyono bangga. Di ruang tamu rumahnya, ia pajang belasan miniatur mobil berbagai ukuran. Di samping rumah, yang ia jadikan ruang kerja, ada bebepara miniatur setengah jadi.

“Ini bekas garasi truk, saya jadikan ruang kerja,” kata dia sembari menunjukkan ruangan dengan dinding papan yang menempel di bagunan rumah utama itu.

Mugiyono berseloroh seraya meyakini, setiap ada kemauan pasti ada jalan keluar. Pengakuannya, apa saja akan ia lakukan dan tempuh untuk bertahan hidup. “Bersyukur 3 anak sudah kerja. Yang 1 masih butuh pembiayaan karena masih SD,” tukas dia. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar