Suratimin Giat Ajak Pemuda Desa Garap Potensi Lokal

oleh -
Suratimin, tokoh konservasi lingkungan. KH
iklan dispar
Suratimin, tokoh konservasi lingkungan. KH
Suratimin, tokoh konservasi lingkungan. KH

PATUK, (KH)— Sudah tidak asing lagi, nama Suratimin warga Desa Semoyo Kecamatan Patuk ini dikenal sebagai tokoh pegiat konservasi lingkungan. Bahkan atas dedikasinya ia menerima Anugrah Kalpataru kategori perintis lingkungan tahun 2013 silam.

Tiga bidang yang dicapai meliputi pengelolaan Hutan Lestari, Pengelolaan Media Komunitas Radio Desa Kawasan Konservasi (Radekka) FM dan Desa Inventarisasi Karbon. Saat ditemui di kediamannya, ia menuturkan sedang menggalakkan agar pemuda bersedia menggarap potensi lokal yang ada.

“Sebagai tindak lanjut dan pengembangan Hutan Rakyat Lestari maka potensi  yang hendak kami upayakan ada dua baik kayu dan non kayu,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Ia menginginkan, masyarakat tidak dengan mudah menjual kayu glondongan terburu-buru dengan tujuan untuk memperoleh nilai jual yang tinggi. Upaya tersebut telah ia gagas dengan mendirikan Forest Bank Indonesia (FBI).

FBI adalah lembaga keuangan yang dapat melayani jasa pinjaman dengan agunan kayu, namun adanya berbagai kendala upaya ini berjalan terseok-seok. Pemahaman masyarakat dan kebiasaan serba praktis untuk segera mendapatkan uang menjadi musuh yang terus dihadapi untuk dikikis.

“Pemanfaatan masyarakat biasanya bersifat tebang butuh, karena kebutuhan mendesak selain hanya dijual masih dalam bentuk glondongan atau belum digarap, terkadang ukuran kayu pun masih kecil,” ucapnya menyayangkan.

Potensi kayu dan non kayu hasil konservasi yang ia garap bersama kelompoknya selama kurun waktu 5-6 tahun cukup baik. Bahkan kayu yang berada di Hutan Rakyat Desa Semoyo telah tersertifikasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN).

“Sehingga agar nilai jual kayu lebih tinggi lagi maka perlu digarap, sayangnya masyarakat secara umum enggan mencoba sesuatu yang baru, mereka butuh contoh atau ada hasil nyata terlebih dahulu,” kata Suratimin mengungkapkan salah satu kendala terberat.

Kemudian pendirian berbagai kelompok untuk memudahkan mengorganisir ia lakukan, ada Karya lestari Mebel, Remaja Semoyo Migunani (Ramayana), lalu sebagai upaya regenerasi juga mendirikan Sekolah anak Petani (SAP).

Karya Lestari Mebel mencoba menggarap potensi kayu yang ada, ada berbagai produk mebelair yang dihasilkan, ada kursi, meja dan tempat tidur, selain itu juga mencoba melakukan kerjasama dengan perusahaan dengan produk flashdisk. Suratimin dan kawan-kawannya membuat dan menyediakan casing flashdisk.

“Kalau Ramayana memiliki fokus untuk melakukan penanaman pohon di titik-titik sumber air yang berjumlah 20 lokasi. Hal ini juga perlu kreatif, misalnya dengan bekerjasama dengan bidan desa, setiap ada warga yang melahirkan maka diminta untuk menanam inimal 2 bibit pohon,” lanjut Suratimin.

Sedangkan untuk SAP sendiri selain disibukkan dengan kegiatan materi pelengkap pembelajaran sekolah formal, di sekolah yang dilaksanakan pada sore hari itu diisi dengan materi norma-norma kesopanan dan budaya cinta lingkungan.

“Jarang anak muda yang berani mengklaim dirinya petani, kebanyakan malu, karena petani dianggap rendahan. Maka dari itu kita akan gagas agar  petani lebih eksklusif, mereka akan menggarap kayu dengan hasil produk kelas nasional bahkan internasional,” ucapnya optimis.

Ia menyebutkan, selain kayu ada potensi tanaman buah sirsak, buah ini berpeluang dijadikan berbagai produk olahan, ada dodol, selai, dan minuman jus. Saat ini sudah ada kegiatan praktek pembuatan yang dilanjutkan upaya pemasaran oleh anak-anak Ramayana. (Kandar)

Komentar

Komentar