Progres TTP Nglanggeran, Hasil Perbulan Lebih Dari Rp. 5 Juta

oleh
Manajer harian TTP, Sudiyono. KH/ Kandar
Manajer harian TTP, Sudiyono. KH/ Kandar
Manajer harian TTP, Sudiyono. KH/ Kandar

PATUK, (KH)— Sejak beroperasi Taman Teknologi Pertanian (TTP) yang berada di lahan seluas 4.600 meter persegi diatas tanah hibah dari Sultan Ground (SG) ini menunjukkan progress hasil yang semakin baik.

Bangunan gedung yang dilengkapi peralatan dan mesin pengolah bahan pangan potensi lokal di wilayah Patuk ini berjalan seperti yang diharapkan. Masyarakat sekitar mulai merasakan manfaat dari program yang bersumber dari APBN melalui Kementrian Pertanian ini.

Disampaikan Manajer harian TTP, Sudiyono beberapa waktu lalu, TTP diproyeksikan sebagai pusat diseminasi, pusat pengolahan kakao dan susu kambing etawa (pabrik mini), geray, inovasi hidroponik sayuran, screen field bunga krisan, dan inovasi teknologi lain khususnya pembibitan sayuran dan buah-buahan,

“Sekaligus sebagai show window dan juga gedung pertemuan. Pembangunan gedung dan pengadaan peralatan mesin pabrik pengolahan kakao dan susu dilakukan pada tahun 2015 lalu, secara bertahap terus dilengkapi,” ujarnya.

Gedung megah di kawasan embung Nglanggeran ini awalnya direncanakan menjadi pusat pengembangan hilirisasi teknologi yang dijalankan oleh lima kelompok atau lima dusun diantaranya; untuk pengembangan berbasis Padi+Sapi di Padukuhan Nglanggeran wetan dengan nama kelompok Mugodadi dan Padukuhan Doga dengan kelompok Margodadi. Berbasis kambing+kakao di Padukuhan Gunung Butak dengan kelompok Ngudi Makmur dan Padukuhan Karangsari, serta untuk pengolahan dan pemasaran hasil di Nglanggeran Kulon  ,

Ada perbedaan realisasi dengan perencanaan dalam pengembangan onfarm ditingkat kawasan petani, sebelumnya ada pembagiannya dengan rincian 2 lokasi menjadi model integrasi kakao+kambing, 2 lokasi pengembangan padi+sapi dan satu lokasi sebagai pengolahan hasil, tetapi pada prakteknya saat ini masing-masing dusun juga mengembangkan inovasi teknologi integrasi kambing+kakao.

“Selain itu kebutuhan biji kakao tidak hanya dari Desa Nglanggeran saja tetapi disuplai dari wilayah se-Kecamatan Patuk. Pengembangan dari olahan kakao di TTP telah menghasilkan beberapa produk,” terang Sudiyono.

Produk-produk tersebut diantaranya Susu Kambing Etawa, Coklat Instan, Susu Kambing Coklat, dan beberapa jenis Permen Coklat lainnya. Belum lama ini merek produk Coklat diberi nama baru yakni SINcho, kependekan dari Science Innovation network chocolate.

Sementara itu, disampaikan oleh kepala Produksi, Tutik, hasil penjualan produk TTP dari waktu ke waktu meski fluktuatif namun cenderung mengalami kenaikan. Tutik mengungkapkan, dalam sebulan hasil penjualan berbagai produk memperoleh hasil antara Rp. 5 sampai 10 juta.

Keberhasilan ini tentunya tak lepas dari banyak pihak yang terlibat, selain dari APBN melalui Litbang kementan, dalam pengembangan TTP ini Pemkab Gunungkidul serta dari akademisi Universitas Gajah Mada (UGM) juga memiliki andil.

Berdasarkan RPJMD Kabupaten Gunungkidul 2016-2021 sudah diagendakan dana pendampingan oleh Bappeda melalui pengembangan inovasi teknologi pertanian dan perkebunan guna mendukung ketahanan pangan.

Untuk lebih memberikan impact yang semakin luas bagi masyarakat, bussines plane TTP di 2017 yang telah digagas diantaranya; upaya penguatan pengelolaan TTP oleh masyarakat, peningkatan kapasitas pengolahan kakao, kontrak petani dengan kawasan pendukung, peningkatan pemasaran hasil di luar kawasan.

Selain itu juga akan dilakukan Edukasi proses produksi di gedung TTP center (kunjungan wisata dan lainnya), pendirian toko/ mart TTP baik di gedung dan wilayah sekitarnya, dan prototipe kawasan pertanian modern berintegrasi wisata (Agrowidyawisata). (Kandar)

Komentar

Komentar