Sempat 6 Tahun Hidup di Jalanan, Anak Punk Asal Ponjong Memutuskan Buka Usaha Sablon

oleh -
Pratisna (31) sedang menyablon. (KH)

KARANGMOJO, (KH),– Jalan kehidupan setiap manusia memang sering tidak selalu seperti yang diharapkan. Banyak realitas hidup yang harus dihadapi, yang terkadang memaksa setiap orang untuk banyak berkompromi dengan keadaan. Hal inilah yang pernah dilakoni oleh Pratisna (31), pria asli Gunungkidul, kelahiran Ponjong 28 Juni 1990.

Setelah lulus SMP Pratisna memutuskan untuk merantau ke Bandung, Jawa barat. Di sana dia berusaha mencari jati diri, bekerja serabutan dan akhirnya tergabung dalam Komunitas Punk. Sebuah Komunitas/ aliran gaya hidup yang menekankan sebuah perjuangan akan perlawanan dan kebebasan.

Kehidupan yang keras di jalanan membuat Pratisna tertempa mental dan fisiknya. Di Bandung itulah Pratisna, oleh teman temannya dipanggil dengan nama Si Bag’s, nama yang sampai sekarang masih dia pakai sehari-hari.

Ditemui di studio sablon miliknya, di Padukuhan Kalangan 2, Kalurahan Ngipak Kapanewon Karangmojo, Sibag’s tampak sedang sibuk menggarap beberapa pesanan kaos yang sedang dalam proses pengerjaan.

“Pandemi ini, omset saya turun hampir 70 persen, dulu sempat ada 8 karyawan, sekarang tinggal 2 orang,” ujar Sibag’s.

Sibag’s bercerita, awal mula dia mendirikan cetak sablon dimulai tahun 2010. Mulanya ia bekerja di sebuah perusahaan cetak sablon di Yogyakarta. Ilmu yang dia dapat di tempat bekerja kemudian ia terapkan untuk membuka usaha. Di tahun 2012 dia mengenalkan label “Weerstand.co”, sebagai Branding untuk memulai usaha cetak sablon miliknya.

“Label Weerstand.co ini saya rintis sekitar tahun 2012, Weerstand.co sendiri saya maknai sebagai sebuah semangat baru, sebagai anak Punk, saya ingin mengatakan bahwa idealisme aliran Punk ini tidak sekedar diartikan sebagai sebuah kebebasan secara mutlak, tapi juga harus di terjemahkan dan diwujudkan dalam bentuk karya nyata yang bermanfaat,” terang dia.

Sebagai seorang anak Punk yang malang melintang hidup di jalanan sejak tahun 2004 juga tidak memungkiri, bahwa image masyarakat umum kepada anak Punk yakni identik dengan keliaran, berandalan, mabuk dan berkelahi. Jangankan masyarakat umum, dia juga mengakui bahwa masih banyak anak Punk yang mengartikan kebebasan ala Punk itu masih sebatas itu.

“Nongkrong, ngamen, dapat uang buat mabuk. Memang masih banyak yang seperti itu, Weerstand.co sendiri saya rintis untuk mengubah image itu. Bahwa anak Punk juga harus mampu berkarya nyata, bentuk perlawanan dan kebebasan yang didengungkan aliran Punk, diwujudkan dalam karya.” kata Sibag’s lagi bersemangat.

Dari cerita Sibag’s, titik balik dia memutuskan untuk berubah persisnya pada tahun 2010. Saat dia memutuskan untuk kerja di sebuah percetakan di Yogyakarta. Di tahun itu, disela-sela dia bekerja, saat pulang ke Gunungkidul Sibag’s mulai merintis Branding produk pertamanya yaitu Gundul Handayani. Brand usaha yang sampai saat ini diteruskan oleh saudaranya.

Kemudian di tahun 2012, militansinya terhadap aliran Punk, dia wujudkan dengan mendirikan usaha sablon dengan brand brand Weerstand.co. Sebuah usaha yang bisa dikatakan sering dijadikan wahana teman-teman Punk belajar berkarya dalam bidang cetak mencetak atau sablon.

“Banyak teman-teman Punk, atau yang lain yang sering menginap di sini, belajar sablon ataupun berkarya dalam bidang yang lain, jadi di sini bisa dikatakan sebagai rumah singgah,” ujar Sibag’s sembari tertawa.

Suami dari Villa, dan putri dari Lovely yang masih berusia 2 tahun ini, banyak mengungkapkan suka-duka dan cerita tentang hijrahnya dia dari kehidupan jalanan yang keras, dan memutuskan untuk menjalani kehidupan yang umum.

“Tahun 2017 saya menikah, dan setelah itu saya harus betul-betul berjuang untuk keluarga, usaha yang saya rintis ini sebetulnya sudah berjalan, pernah omset kotor saya perbulan tembus angka 75 juta,” imbuh dia.

Pratisna (31) saat kegiatan pelatihan sablon. (KH)

Pengaruh Pandemi dan lesunya perekonomian secara umum membuat usaha sablon Weerstand.co milik Sibag’s juga terkena dampaknya. Pembatasan kegiatan masyarakat yang diterapkan pemerintah untuk menekan penyebaran Pandemi, membuat banyak event kegiatan yang dibatalkan.

“Pemesanan kaos atau yang lain sangat tergantung dari ramainya kegiatan atau event yang diselenggarakan  masyarakat. Kalau tidak ada event, ya pesenan otomatis sepi, ada 6 karyawan yang terpaksa saya rumahkan karena sepinya pesanan,” lanjut Sibag’s.

Produk spesialis Weerstand.co sendiri, selain kaos juga berupa Jamper ataupun Kemeja. Ada dua orang karyawan yang khusus menangani menjahit model pakaian. Sementara untuk pemasarannya, Weerstand.co mengandalkan media Online.

Disamping usaha yang berorientasi hasil, Weerstand.co sendiri saat ini banyak bergerak dalam bidang social. Di Studionya, Sibag’s mendirikan perpustakaan mandiri. Disediakan bagi anak anak, atau siapapun yang ingin belajar lewat buku. Beberapa kali Weerstand.co dan teman-teman Punk mengadakan bakti sosial berupa bedah rumah.

“Saya pribadi membebaskan studio ini digunakan oleh siapa saja, yang ingin belajar, tidak hanya komunitas Punk, asal masih dalam bentuk yang positif,” kata dia.

Untuk mengisi sepinya pesanan, saat ini Sibag’s banyak melakukan uji coba atau eksperimen tentang teknik sablon yang baru. Dirinya juga mengisi waktu dengan kegiatan pelatihan untuk Karang Taruna, atau anak-anak sekolah. Bahkan saat keluarga disibukkan dengan kegiatan menanam dan panen padi musim ini, ia turun tangan membantu kerepotan kegiatan bertani keluarga.

Ke depan Sibag’s dan Weerstand.conya punya harapan, jika Pandemi telah berlalu, dan ekonomi kembali bergairah, dia akan mengembangkan usahanya tidak hanya sekedar sablon, tapi bisa merambah ke produk merchandise yang lain.

“Di bidang usaha sablon, di Gunungkidul sendiri saat ini ada lebih dari 50 vendor/ pengusaha sablon. Kami tergabung dalam sebuah paguyuban, dan tiap bulan diadakan semacam pertemuan,” lanjutnya.

Saat disinggung soal Gedung Budaya Gunungkidul yang hampir siap, yang kabarnya menyediakan tempat untuk pemasaran produk produk cinderamata asli Gunungkidul, Sibag’s tampak bersemangat menyambutnya.

“Program yang sangat bagus, kami punya harapan besar jika nanti itu betul-betul bisa terwujud, produk cinderamata asli dari Gunungkidul bisa mendapat tempat di wilayahnya sendiri. Tentu hal ini bisa mengangkat kesejahteraan atau ekonomi para pelaku seni dan kerajinan,” tukasnya. [Edi Padmo]

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar