Remaja, Seksualitas, dan Proses Perkembangan Diri

oleh -
Aktivitas diskusi antarsiswa SMKN2 Wonosari. Foto: Gemma.
iklan dispar
Aktivitas diskusi antarsiswa SMKN2 Wonosari. Foto: Gemma.
Aktivitas diskusi antarsiswa SMKN2 Wonosari. Foto: Gemma.

KABARHANDAYANI — Masyarakat Gunungkidul tentu dibikin gempar disertai rasa keprihatinan mendalam terkait kasus pembunuhan bayi baru lahir yang dilakukan oleh 2 orang anak muda pra-nikah di wilayah Semanu dan sedang ramai dibicarakan masyarakat saat ini. Kemudian disusul peristiwa hilangnya anak usia sekolah di wilayah Semanu dan akhirnya ditemukan dalam kondisi sudah terbunuh dalam kondisi sangat mengenaskan di wilayah Panggang. Lantas apabila menelisik data statistik kejadian pernikahan dini yang masih tidak sedikit terjadi di wilayah Gunungkidul, maka kejadian-kejadian tersebut sebenarnya memberikan tanda rentannya permasalahan psikologis dalam diri anak muda yang sedang mengalami perkembangan diri dalam kaitannya dengan permasalahan seksualitas.

Masalah seksualitas sebenarnya selalu menjadi topik yang hangat dan menarik untuk dibicarakan. Cobalah ikuti perbincangan ketika kelompok bapak-bapak atau kelompok ibu-ibu sedang ngerumpi santai. Perbincangan tentang seksualitas atau hal-hal yang nyrempet-nyrempet seksualitas pasti gaung bersambut meriah. Di sisi lain, sebagian besar masyarakat (Jawa perdesaan, seperti di Gunungkidul) pada umumnya masih menganggap masalah seksualitas ini menjadi hal tabu untuk dibicarakan secara eksplisit. Masih ada yang menganggap “ora ilok” manakala orang secara vulgar mendiskusikan masalah seksual.

Kedua fenomena tersebut menunjukkan, masalah seksualitas memang menjadi topik hangat, menarik, dan juga sensitif. Permasalahan seksual sejatinya telah menjadi suatu hal yang sangat melekat (baca: bawaan) pada diri manusia. Seksualitas tidak bisa dihindari oleh makhluk hidup, karena dengan seks makhluk hidup dapat terus bertahan menjaga kelestarian keturunannya.

Pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah  seksual sangat penting dalam pembentukan hubungan baru yang lebih matang dengan lawan jenis.  Padahal pada masa remaja informasi tentang masalah seksual sudah seharusnya mulai diberikan, agar remaja tidak mencari informasi dari orang lain atau dari sumber-sumber yang tidak jelas atau bahkan keliru sama sekali.

Pentingnya Pendidikan Seksual pada Remaja

Pada dasarnya, pengetahuan tentang masalah seksual menjadi penting bagi pemuda-remaja. Terlebih lagi bagi  remaja/pemuda sejatinya secara alamiah memang berada dalam potensi seksual yang aktif. Ini karena berkaitan dengan dorongan seksual yang dipengaruhi hormon sesuai perkembangan fisiknya dalam masa transisi pemuda-remaja menjadi pemuda-dewasa. Masa transisi pemuda-remaja menjadi pemuda dewasa ini dan sering dialami dalam kondisi tidak memiliki informasi yang cukup mengenai aktivitas seksual mereka sendiri (Handbook of Adolescent Psychology, 1980). Kondisi kurang cukupnya informasi dan pemahaman tentang masalah seksual yang tidak memadai tersebut sejatinya akan sangat berbahaya bagi perkembangan jiwa remaja.

Fakta menunjukkan, sebagian besar remaja tidak mengetahui dampak dari perilaku seksual yang mereka lakukan. Seringkali remaja sangat tidak matang untuk melakukan hubungan seksual, terlebih lagi jika harus menanggung resiko dari hubungan seksual tersebut.

Karena meningkatnya hasrat atau dorongan dalam diri remaja pada masalah seksual, dan secara fisik dirinya sedang berada  dalam potensi seksual yang aktif, maka remaja berusaha mencari berbagai informasi mengenai hal tersebut. Dari sumber informasi yang  mereka dapatkan, pada umumnya hanya sedikit remaja yang mendapatkan  seluk-beluk seksual berasal dari orang tuanya. Oleh karena itu remaja mencari atau mendapatkan dari berbagai sumber informasi yang mungkin dapat diperoleh, misalnya dari sekolah atau perguruan tinggi, membahas dengan teman-teman, buku-buku tentang seks, media massa atau internet.

Arus jaman yang makin meniadakan sekat dan derasnya aliran komunikasi dan informasi yang hampir tanpa batas ini sejatinya membutuhkan peran orang tua dan kaum pendidik untuk bersikap lebih tanggap dalam menjaga dan mendidik anak dan remaja agar ekstra berhati-hati terhadap aneka fenomena sosial, terutama yang berkaitan dengan masalah seksual yang berlangsung saat ini.

Seiring perkembangan yang terjadi, sudah saatnya pemberian informasi dan pengetahuan masalah seksualitas pada anak dan remaja ditingkatkan. Pandangan sebagian besar masyarakat yang menganggap seksualitas merupakan suatu hal yang alamiah, yang nantinya akan diketahui dengan sendirinya setelah mereka menikah sehingga dianggap suatu hal tabu untuk dibicarakan secara terbuka nampaknya secara perlahan-lahan harus diubah.

Sudah saatnya pandangan semacam ini harus diluruskan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan membahayakan bagi anak dan remaja sebagai generasi penerus bangsa. Remaja yang hamil di luar nikah, aborsi, penyakit kelamin adalah contoh dari beberapa kenyataan pahit yang sering terjadi pada remaja sebagai akibat pemahaman yang keliru mengenai seksualitas.

Karakteristik Seksual Remaja

Pengertian seksual secara umum adalah sesuatu yang berkaitan dengan alat kelamin atau hal-hal yang berhubungan dengan perkara-perkara hubungan intim antara laki-laki dengan perempuan.  Karakter seksual masing-masing jenis kelamin memiliki spesifikasi yang berbeda hal ini seperti yang pendapat berikut:

Sexual characteristics are divided into two types. Primary sexual characteristics are directly related to reproduction and include the sex organs (genitalia). Secondary sexual characteristics are attributes other than the sex organs that generally distinguish one sex from the other but are not essential to reproduction, such as the larger breasts characteristic of women and the facial hair and deeper voices characteristic of men (Microsoft Encarta Encyclopedia, 2000).

Pendapat tersebut seiring dengan pendapat Hurlock (1991), seorang ahli psikologi perkembangan. Ia mengemukakan tanda-tanda kelamin sekunder yang penting pada laki-laki dan perempuan. Menurut Hurlock,  pada remaja putra: tumbuh rambut kemaluan, kulit menjadi kasar, otot bertambah besar dan kuat, suara membesar dan lain,lain. Sedangkan pada remaja putri: pinggul melebar, payudara mulai tumbuh, tumbuh rambut kemaluan, mulai mengalami haid, dan lain-lain.

Seiring pertumbuhan primer dan sekunder pada remaja ke arah kematangan yang sempurna, maka muncul juga hasrat dan dorongan untuk menyalurkan keinginan seksualnya. Kondisi merupakan suatu yang wajar karena secara alamiah dorongan seksual ini memang harus terjadi untuk menyalurkan kasih sayang antara dua insan, sebagai fungsi pengembangbiakan dan mempertahankan keturunan.

Perilaku Seksual

Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini dapat beraneka ragam, mulai dari perasaan tertarik hingga tingkah laku berkencan, bercumbu dan senggama. Obyek seksual dapat berupa orang, baik sejenis maupun lawan jenis, orang dalam khayalan atau diri sendiri. Sebagian tingkah laku ini memang tidak memiliki dampak, terutama bila tidak menimbulkan dampak fisik bagi orang yang bersangkutan atau lingkungan sosial. Tetapi sebagian perilaku seksual (yang dilakukan sebelum waktunya) justru dapat memiliki dampak psikologis yang sangat serius, seperti rasa bersalah, depresi, marah, dan agresi.

Sementara akibat psikososial yang timbul akibat perilaku seksual antara lain adalah ketegangan mental dan kebingungan akan peran sosial yang tiba-tiba berubah, misalnya pada kasus remaja yang hamil di luar nikah. Belum lagi tekanan dari masyarakat yang mencela  dan menolak keadaan tersebut. Selain itu resiko yang lain adalah terganggunya kesehatan yang bersangkutan, resiko kelainan janin dan tingkat kematian bayi yang tinggi. Disamping itu tingkat putus sekolah remaja hamil juga sangat tinggi, hal ini disebabkan rasa malu remaja dan penolakan sekolah menerima kenyataan adanya murid yang hamil diluar nikah. Masalah ekonomi juga akan membuat permasalahan ini menjadi semakin rumit dan kompleks.

Perilaku Penyimpangan Seksual

Berbagai perilaku seksual pada remaja yang belum saatnya untuk melakukan hubungan seksual secara wajar antara lain dikenal sebagai :

  • Masturbasi atau onani yaitu suatu kebiasaan buruk berupa manipulasi terhadap alat genital dalam rangka menyalurkan hasrat seksual untuk pemenuhan kenikmatan yang seringkali menimbulkan goncangan pribadi dan emosi.
  • Berpacaran dengan berbagai perilaku seksual yang ringan seperti sentuhan, pegangan tangan sampai pada ciuman dan sentuhan-sentuhan seks yang pada dasarnya adalah keinginan untuk menikmati dan memuaskan dorongan seksual.
  • Berbagai kegiatan yang mengarah pada pemuasan dorongan seksual yang pada dasarnya menunjukan tidak berhasilnya seseorang dalam mengendalikannya atau kegagalan untuk mengalihkan dorongan tersebut ke kegiatan lain yang sebenarnya masih dapat dikerjakan.
  • Dorongan atau hasrat untuk melakukan hubungan seksual selalu muncul pada remaja, oleh karena itu bila tidak ada penyaluran yang sesuai (menikah) maka harus dilakukan usaha untuk memberi pengertian dan pengetahuan mengenai hal tersebut.

Sementara itu Sarlito W. Sarwono (Psikologi Remaja,1994) menerangkan ada beberapa faktor-faktor yang dianggap berperan dalam munculnya permasalahan seksual pada remaja,  yaitu:

  • Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual remaja. Peningkatan hormon ini menyebabkan remaja membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku tertentu
  • Penyaluran tersebut tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia perkawinan, baik secara hukum oleh karena adanya undang-undang tentang perkawinan, maupun karena norma sosial yang semakin lama semakin menuntut persyaratan yang terus meningkat untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental dan lain-lain)
  • Norma-norma agama yang berlaku, dimana seseorang dilarang untuk melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Untuk remaja yang tidak dapat menahan diri memiliki kecenderungan untuk melanggar hal-hal tersebut.
  • Kecenderungan pelanggaran makin meningkat karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan melalui media masa yang dengan teknologi yang canggih (Misalnya: VCD, foto, majalah, internet, dan lain-lain) menjadi tidak terbendung lagi. Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba, akan meniru apa dilihat atau didengar dari media massa, karena pada umumnya mereka belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orangtuanya.
  • Orangtua sendiri, baik karena ketidaktahuannya maupun karena sikapnya yang masih mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak, menjadikan mereka tidak terbuka pada anak, bahkan cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah ini.
  • Adanya kecenderungan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat, sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita, sehingga kedudukan wanita semakin sejajar dengan pria.

Pendidikan Seksual

Sarlito dalam bukunya Psikologi Remaja (1994) menerangkan, secara umum pendidikan seksual adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan. Masalah pendidikan seksual yang diberikan sepatutnya berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, apa yang dilarang, apa yang dilazimkan dan bagaimana melakukannya tanpa melanggar aturan-aturan yang berlaku di masyarakat.

Pendidikan seksual merupakan cara pengajaran atau pendidikan yang dapat menolong muda-mudi untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada dorongan seksual. Dengan demikian pendidikan seksual ini bermaksud untuk menerangkan segala hal yang berhubungan dengan seks dan seksualitas dalam bentuk yang wajar.  Menurut Singgih, D. Gunarsa, penyampaian materi pendidikan seksual ini seharusnya diberikan sejak dini ketika anak sudah mulai bertanya tentang perbedaan kelamin antara dirinya dan orang lain, berkesinambungan dan bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan dan umur anak serta daya tangkap anak.

Dalam hal ini pendidikan seksual idealnya diberikan pertama kali oleh orangtua di rumah, mengingat yang paling tahu keadaan anak adalah orangtuanya sendiri. Tetapi sayangnya di Indonesia tidak semua orangtua mau terbuka terhadap anak di dalam membicarakan permasalahan seksual. Selain itu tingkat sosial ekonomi maupun tingkat pendidikan yang heterogen di Indonesia menyebabkan ada orang tua yang mau dan mampu memberikan penerangan tentang seks tetapi lebih banyak yang tidak mampu dan tidak memahami permasalahan tersebut. Dalam hal ini maka sebenarnya peran dunia pendidikan sangatlah besar.

Tujuan Pendidikan Seksual

Pendidikan seksual selain menerangkan tentang aspek-aspek anatomis dan biologis juga menerangkan tentang aspek-aspek psikologis dan moral. Pendidikan seksual yang benar harus memasukkan unsur-unsur hak asasi manusia. Juga nilai-nilai kultur dan agama diikutsertakan sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga.

Adapun tujuan pendidikan seksual dengan lebih lengkap dimaksudkan sebagai upaya sebagai berikut:

  • Memberikan pengertian yang memadai mengenai perubahan fisik, mental dan proses kematangan emosional yang berkaitan dengan masalah seksual pada remaja.
  • Mengurangi ketakutan dan kecemasan sehubungan dengan perkembangan dan penyesuaian seksual (peran, tuntutan dan tanggungjawab)
  • Membentuk sikap dan memberikan pengertian  terhadap seks dalam semua manifestasi yang bervariasi
  • Memberikan pengertian bahwa hubungan antara manusia dapat membawa kepuasan pada kedua individu dan kehidupan keluarga.
  • Memberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral yang esensial untuk memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan berhubungan dengan perilaku seksual.
  • Memberikan pengetahuan tentang kesalahan dan penyimpangan seksual agar individu dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat mengganggu kesehatan fisik dan mentalnya.
  • Untuk mengurangi prostitusi, ketakutan terhadap seksual yang tidak rasional dan eksplorasi seks yang berlebihan.
  • Memberikan pengertian dan kondisi yang dapat membuat individu melakukan aktivitas seksual secara efektif dan kreatif dalam berbagai peran, misalnya sebagai istri atau suami, orang tua, anggota masyarakat.

Jadi, tujuan pendidikan seksual adalah untuk membentuk suatu sikap emosional yang sehat terhadap masalah seksual. Kemudian, membimbing anak dan remaja ke arah hidup dewasa yang sehat dan bertanggung jawab terhadap kehidupan seksualnya. Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak menganggap seks itu suatu yang menjijikan dan kotor. Tetapi lebih sebagai bawaan manusia, yang merupakan anugerah Tuhan dan berfungsi penting untuk kelanggengan kehidupan manusia, dan supaya anak-anak itu bisa belajar menghargai kemampuan seksualnya dan hanya menyalurkan dorongan tersebut untuk tujuan tertentu (yang baik) dan pada waktu yang tertentu saja.

Kiat Mengajarkan Pendidikan Seksual

Para ahli berpendapat, pendidik yang terbaik adalah orang tua anak itu sendiri. Pendidikan yang diberikan termasuk dalam pendidikan seksual. Membicarakan masalah seksual adalah yang sifatnya sangat pribadi. Ini membutuhkan suasana yang akrab dan terbuka dari hati ke hati. Tentunya hal inilah yang dimaksud pendidik terbaik adalah orang tua dari anak itu sendiri.

Hal ini akan lebih mudah diciptakan antara ibu dengan anak perempuannya, atau bapak dengan anak laki-lakinya. Memang tidak ditutup kemungkinan dapat terwujud bila dilakukan antara ibu dengan anak laki-lakinya, atau bapak dengan anak perempuannya. Dalam membuka pengajaran pendidikan seksual dalam keluarga ini, maka akan lebih efektif apabila dimulai dengan rileks, dimulai dari hal-hal santai yang sehari-hari dihadapi dalam keluarga, sehinga pembicaraan mengalir tidak menjadi kaku, penuh kebingungan dan kehabisan bahan pembicaraan.

Dalam memberikan pendidikan seks pada anak, akan lebih efektif apabila dimulai dari sisi orang tua yang menjelaskan. Proses mendidik juga akan lebih berhasil apabila terencana, sesuai dengan keadaan dan kebutuhan anak. Sebaiknya pada saat anak menjelang remaja dimana proses kematangan baik fisik, maupun mentalnya mulai timbul dan berkembang kearah kedewasaan.

Psikolog Singgih D. Gunarsa (1995) memberikan catatan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam proses pendidikan seksual pada remaja:

  • Cara menyampaikannya harus wajar dan sederhana, jangan terlihat ragu-ragu atau malu.
  • Isi uraian yang disampaikan harus obyektif, namun jangan menerangkan yang tidak-tidak, seolah-olah bertujuan agar anak tidak akan bertanya lagi, boleh mempergunakan contoh atau simbol seperti misalnya : proses pembuahan pada tumbuh-tumbuhan, sejauh diperhatikan bahwa uraiannya tetap rasional.
  • Dangkal atau mendalamnya isi uraiannya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan dengan tahap perkembangan anak. Terhadap anak umur 9 atau 10 tahun belum perlu menerangkan secara lengkap mengenai perilaku atau tindakan dalam hubungan kelamin, karena perkembangan dari seluruh aspek kepribadiannya memang belum mencapai tahap kematangan untuk dapat menyerap uraian yang mendalam mengenai masalah tersebut.
  • Pendidikan seksual harus diberikan secara pribadi, karena luas sempitnya pengetahuan dengan cepat lambatnya tahap-tahap perkembangan tidak sama buat setiap anak. Dengan pendekatan pribadi maka cara dan isi uraian dapat disesuaikan dengan keadaan khusus anak.
  • Pada akhirnya perlu diperhatikan bahwa usahakan melaksanakan pendidikan seksual memang perlu diulang-ulang. Selain itu juga perlu untuk mengetahui seberapa jauh sesuatu pengertian baru dapat diserap oleh anak, juga perlu untuk mengingatkan dan memperkuat (reinforcement) apa yang telah diketahui agar benar-benar menjadi bagian dari pengetahuannya.

Setiap keluarga pasti memiliki kondisi yang berbeda-beda satu sama lain. Berbeda itu bisa dalam kondisi pekerjaan sehari-hari yang berpengaruh pada aktivitas keluarga, berbeda dalam latar belakang ranah pengetahuan, pendidikan, perekonomian, dan lain-lainnya. Tetapi perbedaan itu sejatinya tidak lantas menjadi alasan sulitnya pendidikan seksualitas pada remaja itu berlangsung. Karena pada dasarnya setiap keluarga pasti memiliki harapan masa depan yang cerah. Begitu pula, setiap keluarga pasti berharap, anak-anaknya bakal menjadi harapan masa depan keluarga.

Oleh karena itu, setiap keluarga, entah itu sang ayah atau sang ibu, dan juga para guru di sekolah, mereka pasti dianugerahi kemampuan dan kebijaksanaan untuk mendidik anak-anaknya melalui ragam “bahasa” yang dipahami dan dimengerti dalam sanubarinya. Dan tentunya, sesederhana bermacam-macam “bahasa” itu bakal dilaksanakan dalam mendidik anak-anaknya. Tentu saja, para pemuda-remaja perlu lebih tanggap untuk dapat menerima ragam “bahasa” yang disampaikan orang tuanya. Cara dahsyat untuk mengerti ragam didikan orang tua juga para guru di sekolah adalah sikap rendah hati, membuka diri untuk bersemai menjadi anak muda yang bertanggung jawab.

____

Penulis: A Widyaningtyas.

Bacaan lanjut:

  • Handbook of Adolescent Psychology, Richard M Lerner & Laurence Steinberg, John Wiley & Son, 1980.
  • Developmental Psychology, Hurlock E, Tata Mc Graw-Hill, 1991.
  • Microsoft Encarta Encyclopedia, 2000
  • Psikologi Remaja, Sarlito W Sarwono, Rajawali Press.
  • Psikologi Praktis Anak, Remaja dan Keluarga, Singgih D Gunarsa & Yulia Singgih D Gunarsa, BPK Gunung Mulia.
  • Psikologi Perkembangan, Singgih D Gunarsa, BPK Gunung Mulia.
  • Perilaku Seks di Kalangan Remaja dan Permasalahannya, Sunanti Zalbawi Soejoeti, Media Litbang Kesehatan, Vol XI Tahun 1, 2001.

Komentar

Komentar