Pemudik Banjiri Gunungkidul, Pemkab Tak Akan Lakukan Karantina Massal

oleh -
Mudik dengan sepeda motor. Dok: Tempo.
iklan dispar

GUNUNGKIDUL, (KH),– Penerapan karantina massal terhadap pemudik tidak akan ditempuh Pemkab Gunungkidul guna menekan penyebaran Coronavirus Diseae 2019 (Covid-19). Ada opsi lain yang dinilai lebih aman untuk diterapkan.

Sebagaimana data yang dirilis Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Gunungkidul, hingga saat ini ada 7 ribuan pemudik dari berbagai kota, utamanya dari Jabodetabek.

“Karantina secara bersama-sama tidak diambil karena berbagai pertimbangan, salah satunya menekan penyebaran yang lebih luas. Pemudik saat pulang tidak diketahui apakah terjangkit atau tidak. Jika ada yang positif berada dalam karantina massal maka justru berisiko menularkan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty, Senin, (6/4/2020).

Adapun pilihan yang diambil yakni isolasi secara mandiri baik pemudik, Orang Dalam Pemantauan (ODP), maupun Pasien Dalam Pemantau (PDP). Jika terdapat gejala maka akan dipertimbangkan untuk dilakukan perawatan di rumah sakit.

Menurutnya, isolasi mandiri asal dilakukan secara benar dan disiplin diyakini dapat menekan penyebaran virus Corona. “Jika memang perlu dirawat di rumah sakit karena gejala Covid-19 serta memiliki riwayat datang dari daerah terpapar makan akan ditempatkan di RSUD Wonosari atau Panti Rahayu,” terang Dewi.

Saat ini juga tengah disiapkan Rumah Sakit (RS) Saptosari sebagai tepat perawatan pasien khusus Covid-19. Selain sarana prasarana, regulasi untuk penggunaannya juga sedang dibahas Gugus Tugas Pengendalian Covid-19 Gunungkidul.

Bupati Gunungkidul, Badingah menegaskan, Pemda belum berencana untuk menyediakan tempat khusus pemudik karena beberapa alasan, diantaranya belum ada sarana yang cukup aman dan memadai untuk menampung pemudik. Akibatnya jika pemudik  dikonsentrasikan di satu tempat akan terjadi kerumunan.

“Jika memungkinkan kami justru akan mendorong tempat atau rumah yang belum dipakai di kecamatan atau desa agar sementara dijadikan tempat tinggal darurat pemudik,” kata dia. Rumah tinggal darurat tersebut oleh Gugus Tugas Covid1-9 masih akan dikoordinasikan agar memperoleh perhatian dukungan dari Kecamatan ataupun desa.

“Pemda Gunungkidul akan terus  berupaya melayani masyarakat sesuai kebutuhan dan kemampuan Pemda agar semua bisa tetap dalam koridor menjaga  social and physical distancing,” tandas Badingah.

Badingah menerangkan, mengenai RS Saptosari dari sisi bangunan atau gedung telah siap. Saat ini setidaknya telah tersedia 30 tempat tidur.

“Bisa dioptimalkan menjadi 60 tempat tidur. Segala sesuatunya sedang disiapkan termasuk Sumber Daya Manusianya,” imbuh Badingah.

Covid-19 Sangat Berdampak Bagi Dunia Usaha, Wirausahawan: Karantina Pemudik Lebih Tepat

Mengenai banyaknya perantau yang pulang dari berbagai kota sangat dikhawatirkan oleh masyarakat, diantaranya wirausahawan. Salah satu pemilik usaha laundry, Erwin Hidayat memilih menutup usahanya semenjak mulai banyak pemudik yang berdatangan. Dirinya khawatir jika tidak ada screening ketat oleh pihak berwenang terhadap pemudik. Lebih-lebih pemudiak tidak menjalani karantina atau isolasi mandiri, lantas mereka bepergian seenaknya, maka risiko penyebaran jauh lebih tinggi.

Komentar

Komentar