Pandemi Tak Halangi Tradisi Gumbregan di Gunungkidul

oleh -
gumbreg
Tradisi Gumbregan di Kapanewon Ponjong. (KH)

PONJONG. (KH),– Pandemi COVID-19 tak menghalangi pelaksanaan Gumbregan masyarakat petani di Dusun Garon , Desa Tambak romo , Kapanewon Ponjong , Kabupaten Gunungkidul, belum lam ini.

Tradisi Jawa yang ada sejak lama ini justru digelar lebih meriah ketimbang biasanya. Warga bersama Sanggar Seni Jodhipati menggelar upacara Gumbregan secara akbar, serentak dan terpusat.

Pengasuh sanggar seni Jodhipati , Roni AW mengatakan, Gumbregan merupakan tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun silam ini. Tradisi ini merupakan wujud ungkapan syukur warga petani atas ternak yang sehat dan beranak pinak .

“Karena masih dalam suasana pandemi tradisi Gumbregan digelar dengan menerapkan protokol kesehatan,” kata Roni.

Lanjut dia, tradisi peninggalan nenek moyang yang masih banyak dilakukan warga petani ini di Jawa ini, diawali dengan kenduri di area kandang sapi dan kambing milik warga yang hendak diikutkan dalam tradisi Gumbregan .

Seusai didoakan oleh sesepuh warga , hasil bumi berupa nasi ketan dan air yang disiapkan disiramkan ke hewan – hewan ternak.

Sementara itu, warga setempat dan anak – anak yang tergabung dalam Sanggar Seni Jodhipati melakukan arak – arakan menuju ke pinggir sungai yang biasa digunakan untuk memandikan ternak.

Dengan diiringi kesenian tarian Jawa kolaborasi, hewan – hewan ternak diarak dan disambut warga , layaknya anak yang sedang berulang tahun .

Dilokasi yang ditentukan, bagian terakhir tradisi Gumbregan digelar, dilakukan upacara permohonan dan doa kepada Tuhan agar ternak – ternak warga diberikan kesehatan serta dapat beranak pinak dalam jumlah yang banyak.

“Makna dari tradisi ini adalah wujud syukur warga atas hewan ternak yang sehat. Bersamaan diharapkan ternak dapat beranak pinak. Memiliki hewan ternak bagi warga petani merupakan berkah, keberadaan ternak juga sebagai tabungan yang sewaktu-waktu dapat dijual demi masa depan anak cucu,” papar Roni.

Tradisi gumbregan sendiri digelar setiap delapan bulan sekali atau saat memasuki Wuku Gumbreg dalam kalender Jawa Kuno. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar