Kenduri Ruwahan, Tradisi Ucap Syukur dan Hormati Para Leluhur

oleh -
Kenduri ruwahan di Desa Giring Paliyan. KH/Atmaja.
iklan dispar
Kenduri ruwahan di Desa Giring Paliyan. KH/Atmaja.
Kenduri ruwahan di Desa Giring Paliyan. KH/Atmaja.

PALIYAN,(KH) — Ruwahan merupakan tradisi masyarakat perdesaan di Gunungkidul yang masih lestari sampai saat ini. Tradisi ruwahan secara mudah dibahasakan dengan acara “kirim ndonga kanggo para leluhur” atau mendoakan orang yang telah meninggal dunia. Doa tersebut ditujukan kepada Tuhan Sang Maha Pencipta untuk mendoakan orang tua, kakek, nenek, tokoh pendiri kampung, wali, dan sanak saudara lainnya.

Tradisi ini dilakukan mulai pertengahan bulan Ruwah (bulan ke-8 dalam kalender Jawa atau bersamaan dengan Sya’ban dalam kalender Hijriah). Oleh karena itu disebut sasi ruwah dalam bahasa Jawa.

Warso Rejo, salah seorang kaum di Desa Giring mengatakan, pada pertengahan bulan Ruwah, masyarakat melakukan sedekah dengan membagikan makanan berupa nasi beserta lauk pauk, kolak pisang, kue apem, dan ketan kepada para tetangga. Makanan yang akan dibagikan telah didoakan bersama sebelum dibagikan.

“Terdapat makanan yang wajib ada seperti kolak, kue apem, dan ketan. Konon, makanan tersebut mengandung makna,” katanya. Selasa (09/06/2015).

Ia menjelaskan, beberapa makanan saat kenduri Ruwahan mengandung arti, di antaranya, kolak untuk mengingatkan adanya Sang Khalik atau Sang Maha Pencipta. Kue apem untuk mengingatkan agar kita memohon ampun atau bertobat. Ketan untuk mengingatkan hati yang bersih dan selalu remaket (lekat) dengan sesama.

“Kalau sedekah dengan membagikan makanan dilakukan sendiri-sendiri, ada pula sedekah yang dilakukan bersama-sama. Dalam Ruwahan bersama-sama. Warga kampung berkumpul untuk mendoakan arwah leluhur,” jelasnya.

Selain kenduri, warga juga melakukan ziarah ke makam para leluhur maupun sanak saudara. “Ziarah ke makam dilakukan sebelum kenduri dilaksanakan,” imbuhnya. (Atmaja).

Komentar

Komentar