Kegigihan Yuniari Jualan Jamu, Peroleh Prestasi Dan Rezeki

oleh -
Yuniari. Foto : KH/Kandar
iklan dispar
Yuniari. Foto : KH/Kandar
Yuniari. Foto : KH/Kandar

WONOSARI,(KH) — Kemampuan dalam meramu berbagai jenis jamu atau minuman herbal, membutuhkan waktu yang cukup panjang. Bekerja selama puluhan tahun pada perusahaan produk herbal menjadi modal awal Yuniari. Selain itu, Yuniari warga Padukuhan Singkar 1, Desa Wareng, Kecamatan Wonosari, setiap punya kesempatan blusukan menemui banyak peramu dan penjual jamu tradisional di seputar Pasar Bringharjo Yogya.

“Selain memiliki riwayat belajar jurusan biologi, saya sering mengikuti seminar-seminar hasil penelitian UGM seputar herbal dan sejenisnya. Dari pengalaman empiris itu saya dapat menentukan resep terbaik dari bahan herbal,” kata Yuniari, ketika bercerita mengenai awal mula mendirikan usaha pembuatan jamu dan minuman herbal.

Dirinya mempunyai keinginan kuat untuk memaksimalkan manfaat tanaman empon-empon yang tumbuh di pekarangan atau di sekeliling tempat tinggalnya, karena dirasa masih diabaikan.

Singkatnya, April 2014, setelah berhenti bekerja, Yuniari mulai merintis usaha itu. Promosi ke sana ke mari, berupaya membuat terobosan dan mencoba setiap peluang untuk mengenalkan produknya, Dia lakukan. Dampingan dari Disperindagkop, Dinas Pertanian dan lainya, untuk mengikuti pameran atau promosi jamu dan minuman herbal, menjadi bagian upayanya.

Kini, Yuniari telah mulai merasakan kegigihan usahanya. Belum lama ini produknya dinobatkan sebagai juara 1 pada Lomba kreasi oleh-oleh makanan khas Jogja pada kategori oleh-oleh minuman khas Jogja untuk umum/IKM yang diselenggarakan Disperindagkop UKM DIY.

Perkembangan usahanya cukup baik. Hampir sebagian besar toko oleh-oleh di Gunungkidul menyediakan produk minuman herbalnya, seperti secang, beras kencur, bandrex, kunir asem, sari jahe, Nonifit, curminoid dan lainnya.

“Untuk pemenuhan bahan baku, kita mengajak warga sekitar membuat kelomopok ‘Muktiya’ yang beranggotakan ibu-ibu, untuk menanam empon-empon dan tanaman lain sebagai penyuplai bahan baku produk saya,”.

Secara langsung Yuniari memberikan pelatihan bagaimana menanam dan penanganan pemanenan. Saat ini ada 13 ibu rumah tangga yang tergabung. Untuk tenaga produksi, ada sebanyak 7 orang yang Ia libatkan, berasal dari keluarga, saudara dan tetangga.

“Produk Yuniari tanpa pengawet dan higienis. Rumah sebagai tempat produksi ini kita namakan Timoer  Santosa,” Pungkasnya. (Kandar)

Komentar

Komentar