Tingkatkan Imunitas dan Tangkal COVID-19 dengan Resep Herbal

oleh -
herbal
Sukamto banyak menghasilkan produk herbal untuk pengobatan dan menjaga stamina tubuh. (KH/ Edi Padmo)

SEMIN, (KH),– Tingginya angka penyebaran COVID-19 di Gunungkidul akhir-akhir ini membuat risau banyak kalangan. Jumlah orang yang terpapar dan pasien yang harus mendapat perawatan angkanya semakin tinggi. Kondisi tersebut membuat Gunungkidul masuk dalam kategori zona merah.

Pemerintah tengah berupaya sekuat tenaga untuk menekan angka penyebaran Pandemi ini. Mulai dari menggenjot target vaksinasi masyarakat, gencarnya sosialisasi dan penegakan Prokes dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro. Namun begitu, penyebaran virus terus meningkat.

Beberapa hal yang mempengaruhi tingginya penularan adalah munculnya banyak klaster pada kegiatan sosial masyarakat. Hal ini memang sulit untuk dihindari, karena untuk mengubah kebiasaan masyarakat yang sudah turun-temurun memang tidak mudah.

Kecenderungan masyarakat yang banyak tidak percaya akan bahaya Covid19 juga sangat berpengaruh, sehingga mereka sering lalai dalam penerapan Prokes.

Menurut pendapat para ahli, virus apapun bisa  menyerang tubuh. Begitupun juga Virus Corona ini. Terlebih saat tubuh manusia terpapar dan terinfeksi dalam keadaan imunitas menurun, maka serangan virus terhadap organ tubuh, terutama organ pernafasan, cukup berbahaya. Seperti diketahui, penyebab utama kematian (mortality) bagi pasien Covid19 adalah kegagalan fungsi organ pernafasan atau paru-paru.

Jumat (25/6/2021), KH menyempatkan diri berbincang  dengan seorang Herbalis. Pengobatan Herbal yang dilakukan selama ini tentu saja menggunakan bahan-bahan dari alam, terutama tumbuh-tumbuhan.

Adalah Sukamto SPd (59), warga Padukuhan Bendungan, Kalurahan Sumberejo, Kapanewon Semin, Gunungkidul. Pria yang sehari-hari bertugas sebagai guru mata pelajaran PPKN di SMP N Manyaran, Wonogiri ini telah 25 tahun menekuni dunia Herbal.

“Saya belajar herbal atau jamu- jamuan pertama kali tahun 1996, waktu itu saya nyantrik di tempat Raden Bronto Sudibyo, ahli herbal Keraton Yogyakarta yang mengajar di CD Bethesda” ujarnya membuka obrolan.

“Sejak itu saya aktif  belajar dari buku-buku tentang pengobatan tradisional, saya juga berhasil menamatkan sebuah kursus herbal, di Yayasan Herbal Nusantara di Jepara,” lanjutnya.

Menurut Sukamto, menyikapi resiko penyebaran Pandemi Covid19 saat ini yang paling penting adalah dengan cara menjaga daya tahan tubuh atau imunitas.

“Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah menjaga pikiran kita untuk tetap tenang, tidak panik, kita harus enjoy dan optimis bahwa tubuh kita kuat, sehingga tidak stres. Karena ketika pikiran stres atau panik, imunitas tubuh akan turun,” terangnya.

Sukamto melanjutkan, pada prinsipnya virus apapun akan mati atau tidak berkembang dengan suhu panas dan air garam. Untuk itulah dia merekomendasikan saat tubuh terasa tidak enak badan, agar segera mengkonsumsi banyak air hangat.

“Corona itu pada prinsipnya seperti virus Influenza, bedanya Corona bisa menyerang paru-paru, tapi sebelum menyerang paru-paru, virus akan berada pada saluran pernafasan hidung dulu, dengan berkumur dan membersihkan hidung dengan air hangat atau air garam setiap bangun tidur, maka itu dapat mengurangi atau mematikan virus,” lanjutnya.

Menurutnya, selain upaya diatas, saat mulai timbul gejala,  kita harus banyak mengkonsumsi rendaman air Kencur, Jeruk nipis, atau Jahe yang sudah dipotong-potong.

“Kencur itu obat ampuh untuk menghancurkan dahak. Di dahak inilah virus awal berada. Pilek, demam, hilang rasa atau penciuman adalah tanda-tanda awal Corona, fase itu biasanya berlangsung dalam 4 atau 5 hari awal, atau masa inkubasi, virus belum masuk ke paru-paru,” jelasnya.

“Kencur, jeruk nipis/lemon itu obat tradisional yang banyak mengandung vitamin C tinggi, untuk kencur bisa dikunyah langsung. Jeruk diiris, Kencur digeprek kemudian direndam air hangat. Rendaman pagi diminum sore, atau rendaman sore diminum pagi hari, Jahe berfungsi untuk memperlancar darah dan menjaga kehangatan tubuh,” terang Sukamto lagi.

Pada fase virus masih berada di saluran pernafasan hidung, dengan resep di atas seseorang bisa meminimalisir kemungkinan virus berkembang dan masuk ke paru-paru. Tapi saat virus berhasil masuk ke paru-paru, maka gejala awal yang timbul adalah badan ngilu, tidak bertenaga, suhu tubuh tinggi, dan ketika parah maka akan sulit bernafas.

“Jika gejala itu mulai timbul, untuk obat herbalnya saya merekomendasikan rebusan daun dan batang Sambiloto dan Bawang Putih yang dipotong-potong atau digeprek, ini ampuh untuk antibiotik alami dan akan membantu antibodi tubuh yang mulai berperang melawan virus,” lanjutnya.

Suhu badan yang tinggi menurut Sukamto adalah tanda-tanda antibodi tubuh sedang berusaha mematikan virus yang masuk. Rebusan Sambiloto dan Bawang Putih mengandung zat antibiotik alami yang sangat ampuh membantu meningkatkan antibodi, sehingga jika antibodi menang, virus dalam tubuh bisa diatasi.

“Bawang putih, di samping sebagai anti biotik, juga untuk menambah stamina tubuh. Akan lebih bagus jika dikunyah langsung, bercampur enzim ludah tubuh bisa mudah menyerap dan menghasilkan antibodi baru,” ungkap dia.

Saat disinggung soal penyakit penyerta (Komorbird) yang biasanya akan berakibat fatal terhadap pasien Covid19, Sukamto menyebut bahwa pengobatan herbal yang dilakukan harus dua arah, yaitu pengobatan penyakit penyerta dan Covid itu sendiri.

“Harus tahu dulu, penyakit penyertanya apa, jadi herbal yang diberikan nanti tidak berisiko buruk untuk penyakit penyerta,” lanjutnya.

Dia mencontohkan, saat pasien Covid19 mempunyai penyakit penyerta Diabetes atau gula, maka rebusan Sambiloto harus dicampur dengan Kayu Manis.

Sukamto melanjutkan, untuk menyikapi keadaan sekarang ini, dengan gencarnya kabar di media sosial yang tidak semuanya benar tentang Covid19, sangat berpengaruh terhadap mental masyarakat mengahadapi Pandemi.

herbal
Sukamto, herbalis dari Semin. (KH/ Edi Padmo)

“Banyak yang ketakutan berlebih, tetapi juga banyak yang tidak percaya. Keduanya sama-sama berisiko tinggi. Kita harus bisa menyikapi hal ini dengan bijaksana, optimis, meningkatkan imunitas tubuh, taat Protokol Kesehatan, dan menyebarkan sugesti baik bagi yang lain adalah hal-hal yang bisa kita lakukan bersama untuk menghadapi Pandemi,” imbuh Sukamto.

Lebih lanjut Sukamto berharap, tekhnik pengobatan herbal ini bisa menjadi alternatif untuk kesehatan masyarakat luas. Dia menyatakan bahwa alam menyediakan semuanya untuk kebutuhan manusia, termasuk obat-obatan.

“Di tempat saya mengajar, selain PPKN saya juga mengajar ekstrakurikuler tentang ilmu herbal atau jamu. Saya berharap generasi penerus tidak kehilangan pengetahuan tentang pengobatan berbasis alam atau tradisional, banyak murid saya yang meneruskan pendidikan di bidang farmasi,” ujar Sukamto.

Jamu herbal produksi Sukamto diberi merk “YogaYogi”, untuk saat ini dia masih sebatas memproduksi jenis herbal makanan atau minuman instan, Jahe, Temulawak, Kunyit dan lain lain.

“Untuk pasien sakit yang dibawa ke sini, biasanya sudah dari rumah sakit, dan hal pertama yang saya tanyakan adalah rekam medis rumah sakit. Dari situ saya bisa mengetahui jenis penyakitnya dan  menentukan ramuan herbal untuk pengobatannya,” tambahnya.

Pria ramah, hangat,  murah senyum dan sangat komunikatif  ini tampak segar dan muda jika dibanding dengan usianya yang sudah mendekati kepala enam.

“Saya setahun lagi sudah pensiun, saya punya harapan, mengisi hari tua dengan membangun semacam balai pelatihan atau pendidikan khusus untuk pengetahuan herbal, sehingga ilmu pengobatan tradisional ini tidak hilang,” pungkasnya. (Edi Padmo)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar