Pasar Produk Herbal dan Tepung Singkong di Eropa Masih Terbuka Lebar

oleh -
Peluang produk industri herbal Indonesia di pasar internasional. Dok: KBRI Den Haag.
iklan dispar

KH.- Pasar produk herbal dan tepung singkong di Eropa terbuka lebar. Hal ini ditegaskan dalam rilis yang dikeluarkan KBRI Den Haag – Belanda.

Menyitir data statistik yang diolah oleh Kementerian Perindustrian, disebutkan bahwa industri kimia, farmasi dan pengobatan tradisional diperkirakan tumbuh 5,59% pada kuartal pertama tahun 2020. Hal ini ditunjang oleh potensi besar Indonesia dalam hal tanaman obat yang tumbuh pesat di berbagai wilayah.

Ditengarai ada sekitar 40.000 spesies tanaman obat yang dikenal di seluruh dunia, dan 30.000 spesies tersebut berasal dari tanaman obat yang ada di wilayah Indonesia. Karena itulah, peluang pasar besar tersebut mesti dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Dalam catatan KBRI Den Haag – Belanda, beberapa negara yang masih memiliki peluang besar tujuan ekspor hasil industri herbal Indonesia antara lain: Australia, Taiwan, Singapore, India, Hong Kong, Japan, Malaysia, China, South Korea, Suadi Arabia, France, Germany, USA, Russia, dan  Netherlands.

Senada dengan rilis yang dikeluarkan KBRI Den Haag, Nextari Sekartami, warga asal Gunungkidul yang tinggal menetap di Rotterdam juga berkirim info ke KH, bahwa pasar produk herbal dari Indonesia untuk Eropa terutama Belanda permintaannya tinggi sekali.

“Tetapi bukan dalam bentuk jamu, tapi dalam bentuk jahe fresh, kunyit fresh, laos fresh, atau sere fresh. Karena orang-orang Belanda sendiri memang tidak minum jamu. Biasanya herbal fresh itu akan dijual fresh, atau untuk campuran bahan pembuatan obat di pabrik farmasi,” ungkap Tari.

Tari mengungkapkan, sebenarnya ada produk potensial dari Gunungkidul yang peluangnya besar diserap pasar industri di Belanda, yaitu tepung cassava atau tepung singkong. Ia menambahkan, kegunaan produk tersebut utamanya sebagai bahan baku produk farmasi dan kosmetik. Kemudian, u untuk bisa diekspor tentu saja harus produk unggulan yang berkualitas ekspor.

Tari yang bekerja di perusahaan PostNL ini menambahkan, untuk bisa tahu bagaimana yang kualitas ekspor bisa dikonsultasikan ke Kementerian Perindustrian atau Dinas Perindag. Ia juga memberikan tips kepada siapapun yang ingin menjual produk keluar negeri agar melakukan ekspor sendiri, tidak melalui broker atau makelar, untuk menghindari tersandung masalah dengan broker atau makelarnya.

Berdasarkan pengalaman praktis, beberapa hal yang perlu dipersiapkan dalam memulai ekspor antara lain: legalitas perusahaan, kualitas produksi, kapasitas produksi. Kemudian hal praktis yang tidak kalah penting adalah rajin mengikuti pelatihan atau mempelajari syarat dan ketentuan eksport serta syarat dokumen apa saja yang wajib disertakan.

Mengingat ekspor adalah proses transaksi internasional, tips tambahan yang disampaikan Tari berikut ini juga berguna. Pertama, SDMnya minimal harus mampu berbicara Bahasa Inggris karena sasarannya adalah menjual keluar negeri. Kedua, rajin browsing potential buyer dan potential market menggunakan analisis data pasar. Ketiga, rajin komunikasi dengan Kementerian Perdagangan atau Disperindag setempat untuk mendapat informasi tentang pelatihan eksport dan permodalan. Keempat, bisa join fb atau instagram PPEI Kemendag untuk update info terbaru. (Tugi).

Komentar

Komentar