Berbincang dengan Sri Hartini, Penjaga Hutan Adat Wonosadi

oleh -
Hutan
Sri Hartini, Ketua Kelompok Jagawana Ngudi Lestari. (KH)
iklan golkar idup fitri

GUNUNGKIDUL, (KH),– Kalurahan Beji, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul memiliki hutan yang dikenal dengan nama Hutan Adat Wonosadi. Pada hutan seluas 25 hektare tumbuh berbagai flora.

Sebelum kembali menjadi sebuah hutan, kawasan tersebut merupakan lahan yang nyaris gundul. Tutupan lahan berupa pepohonan nyaris habis karena aktivitas penebangan yang dilakukan masyarakat karena kebutuhan ekonomi dan pemenuhan bahan bangunan sekitar tahun 1965.

Namun karena inisiatif dan kerja keras tokoh bernama Sudiyo, lahan yang sebelumnya hanya menyisakan 4 pohon endemik berupa Asam Jawa tersebut dapat kembali pulih menjadi sebuah hutan. Sudiyo merupakan printis penanaman pepohonan. Dengan dukungan masyarakat melalui pembentukan kelompok, hutan dapat dipulihkan. Kelompok inisitaif masyarakat bernama Ngudi Lestari, membutuhkan waktu lama untuk mengembalikan kawasan yang berada di Dusun Duren dan Sidorejo itu kembali hijau dan rimbun oleh pepohonan.

Ketua kelompok Ngudi Lestari, Sri Hartini (53) saat ditemui beberapa waktu lalu menyampaikan, penanaman pohon dan perawatan dipelopori mendiang ayahnya, Sudiyo.

“Setelah dua dekade kondisinya kembali seperti saat ini, menjadi hutan yang rimbun,” kata Sri.

Sri telah menggantikan posisi ayahnya semenjak 2011. Persis tidak lama setelah Sudiyo meninggal dunia. Dulu, selain melakukan upaya penanaman, Sudiyo juga terus menerus mengedukasi mengenai pentingnya kelestrian kawasan hutan. Selain kepada masyarakat, pengetahuan mengenai hutan juga diberikan kepada Sri Hartini sejak kecil.

Sri Hartini yang kemudian punya pengetahuan dan kemauan merawat hutan diminta oleh Sudiyo untuk menggantikannya sebagai penjaga hutan, atau dalam kepengurusan kelompok yang telah terbentuk, menjadi ketuanya. Kekompakan bersama masyarakat menjaga kelestarian hutan mampu menjauhkan ancaman serius dampak dari rusaknya hutan terhadap kelangsungan hidup masyarakat.

“Ada sendang Beji yang hampir mati karena dulu pepohonan minim di kawasan hutan. Akibatnya suplai irigasi untuk pertanian terganggu,” sambung Sri.

Kondisi itu Sri sebut sangat berpengaruh pada produktivitas pertanian masyarakat. Sadar dengan bahaya ketahanan pangan, penjagaan dan pemulihan hutan semakin serius dilakukan oleh kelompok Ngudi Lestari.

Sri sempat mengaku ragu saat diminta orang tuanya. Namun setelah lurah setempat juga turut meminta, perempuan kelahiran 13 Agustus 1968 ini menyanggupinya.

Keyakinan Sri juga semakin bulat setelah suami dan anak-anaknya memberikan support. Sehingga selama ini, dia tak begitu kesulitan membagi waktu dan peran antara sebagai ibu rumah tangga dan ketua kelompok penjaga hutan.

Mantan pendidik PAUD ini optimis, selama hutan Wonosadi terjaga dengan baik, keseimbangan ekosistem di sekitarnya juga lebih terjaga. Contoh yang konkrit, terjaganya mata air di kawasan tersebut. Dengan tersedianya air yang cukup, kelangsungan hidup manusia dan makhluk lain tak akan terganggu.

“Pesan orang tua saya secara khusus memang terkait air. Jangan tinggalkan air mata, tapi wariskan mata air,” ujar Sri Hartini.

Dia panjang lebar menyampaikan, merawat kelestarian alam seiring sejalan dengan merawat adat tradisi dan budaya. Ada tradisi yang lahir dan lestari serta menjadi simbol eksistensi hutan terus dijaga. Namanya ritual Sadranan Wonosadi.

Dalam ritual Sadranan dimainkan kesenian rakyat berupa rinding gumbeng. Seni memainkan alat musik tradisional yang sangat lekat dengan keseharian masyarakat setempat.

Sri menceritakan, kesenian tersebut merupakan warisan nenek moyang. Dulu para leluhur masih memuja Dewi Sri sebagai dewi padi, mereka lalu menciptakan alat musik rinding dan gumbeng berbahan bambu. Tanaman bambu memang banyak tumbuh di sekitar permukiman penduduk.

Saat ini, kesenian tersebut hanya bisa ditemui di Dusun Duren, Kalurahan Beji, Kapamewon Ngawen. Perlu bakat khusus untuk memainkan alat musik rinding gumbeng tersebut.

“Kesenian rinding gumbeng pernah dipentaskan di tingkat provinsi maupun nasional,” tukas Sri Hartini.

Tak hanya keseniannya, Hutan Adat Wonosadi juga pernah meraih penghargaan di tingkat nasional sebagai percontohan keberhasilan pengelolaan hutan rakyat. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar