FLI, Sapa Aruh Dan Masih Adanya Intoleransi Di Gunungkidul

oleh -
Pembagian takjil oleh Forum Lintas Iman di depan alun-alun Wonosari bersamaan dengan kegiatan Deklarasi Sapa Aruh. foto: Istimewa.
iklan dispar
Pembagian takjil oleh Forum Lintas Iman di depan alun-alun Wonosari bersamaan dengan kegiatan Deklarasi Sapa Aruh. foto: Istimewa.

WONOSARI, (KH),– Melalui gerakan Deklarasi Sapa Aruh (tegur sapa), Forum Lintas Iman (FLI) Gunungkidul ingin berseru dan mengajak masyarakat agar dalam berkomunikasi kembali memiliki nilai dan membawa pesan persaudaraan, keakraban, dan perdamaian.

Mereka memandang bahwa dengan kembali membiasakan bertegur sapa dapat mengikis adanya perubahan dalam berinteraksi yang mencakup cara berkomunikasi, termasuk pola pikir, dan cara pandang masyarakat yang mengarah pada sikap tidak adanya kepedulian (awareness). Cenderung mementingkan diri sendiri atau kelompoknya serta mengsampingkan pentingnya empati. Bertindak adikara, seolah memiliki kewenangan karena berada dalam kelompok mayoritas atau superior.

Selain dampak tidak mengenal lingkungan sendiri, akibat yang ekstrim dapat timbul berupa sikap dan perilaku intoleransi. Tidak menyadari bahwa di sekitar terdapat kemajemukan, perbedaan serta adanya kebebasan serta hak asasi yang perlu junjung.

Salah satu tokoh dalam aksi, Endro Guntoro menyebut, tugas para aktivitis kerukunan kebebasan beragama tidak cukup hanya sekadar mendampingi penyelesaian kasus-kasus kekerasan dan intoleransi, tetapi juga harus menciptakan perjumpaan-perjumpaan nyata lintas iman, salah satunya dimulai melalui gerakan #sapaaruh, yakni bertemu, berkumpul dan berdialog.

“Kami sadar betul, sapa aruh menjadi penting sebagai awal membangun komunikasi dan sosialisasi yang damai,” katanya, Rabu, (21/6/2017).

Sambung dia, FLI Gunungkidul telah hadir selama 12 tahun menjadi wadah silaturahmi lintas agama dan kepercayaan, sebagai kesadaran akan hidup di tengah kemajemukan bangsa. Banyaknya wadah-wadah komunitas lintas agama dan kepercayaan cukup dibutuhkan dalam situasi nasional seperti sekarang ini. Ajang pertemuan-pertemuan dan syiar kebangsaan yang dilakukan patut terus digelorakan.

Memang, tidak menutup mata bahwa masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan oleh semua pihak. Termasuk diantaranya Pemkab. Masih ada persoalan di daerah terkait gagalnya masyarakat terampil dalam hidup berdampingan, menerima segala perbedaan di tengah masyarakat.

“Kuncinya masyarakat harus terus dilatih lebih terampil hidup berdampingan dalam perbedaan,” tambahnya. Endro mencontohkan, fakta riil adanya intoleransi di Gunungkidul seperti kasus penolakan pembangunan gedung klasis di Grogol beberapa waktu lalu.

Menurutnya, beberapa pihak yang memiliki kewajiban melatih bagaimana hidup berdampingan, diantaranya Pemkab, pemerintah desa, dan para pegiat perdamaiaan lintas agama/ kepercayaan.

Lebih jauh diungkapkan, masih perlu diperbanyak lagi komunitas-komunitas kemajemukan, komunitas lintas agama dan lain sebagainya untuk mengkampanyekan sapa aruh dan kesungguhan implementasi nilai-nilai pancasila.

Ternyata, Endro menegaskan, adanya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan FLI belum bisa sepenuhnya membuat masyarakat menyadari adanya perbedaan yang ada bahkan belum mau menerima perbedaan tersebut

“Mudah-mudahan budaya sapa aruh kembali muncul di msyarakat Gunungkidul, sehingga antar individu, antara anggota masyarakat, antar penganut agama dan kepercayaan dapat hidup rukun berdampingan,” harapnya.

Pada kegiatan Deklarasi Sapa Aruh yang digelar dilengkapi dengan aksi pembagian 1.500 takjil kepada pengendara yang melintas di jalan depan alun-alun Wonosari. Nampak peserta aksi yang berasal dari penganut Agama Islam, Kristen, Katholik, Budha, dan Hindu serta Penghayat kepercayaan turun ke jalan membagikan takjil untuk berbuka puasa bagi umat Muslim. (Kandar)

Komentar

Komentar