Budi Wibowo: Bertani Organik adalah Sebuah Kemerdekaan

oleh -
Tanaman Organik Tomat Milik Budi Wibowo di Karangsari, Semin; ia merdeka membuat pupuk sendiri
Tanaman Organik Tomat Milik Budi Wibowo di Karangsari, Semin; ia merdeka membuat pupuk sendiri

Setelah Budi menerangkan panjang lebar tentang proses pembuatan Pupuk Bokasi, lalu kami menuju ke sebuah tong besar. Di sana rupanya Budi memproses pupuk organik cair dan pestisida organik. Budi kembali menerangkan, “Ini proses pembuatan pupuk organik atau pestisida organik, di dalam karung itu clethong baru, Mas, atau bisa juga rumen sapi atau kambing (kotoran hewan yang masih ada di lambung, sehabis hewan disembelih). Saya masukkan karung dan saya rendam di dalam tong. Saya masukkan juga segala jenis buah-buahan busuk, atau berbagai jenis bunga/kembang, ini untuk pupuk organik cair.”

“Bagus juga di campur urin hewan, sapi, kambing, atau paling bagus kelinci. Urine mempunyai kadar N (nitrogen) tinggi, bagus untuk perkembangan daun tanaman,” Budi meneruskan dengan semangat. “Saat cairan ini diaplikasikan sebagai pestisida organik cair, maka bisa ditambahkan cabai busuk atau empon-empon, tergantung jenis hama yang menyerang.” Budi menjelaskan bahwa pestisida organik memang bersifat “mengusir” bukan “membunuh” hama. Yang selama ini dipelajari Budi bahwa ketika pestisida kimia membunuh satu hama, maka hama yang lain akan menyerang tanaman, karena bisa jadi hama yang dibunuh oleh satu pestisida merupakan predator untuk hama yang lain. Jadi, saat predatornya mati, hama akan berkembang dengan sangat cepat dan menyerang tanaman. Ia menceritakan bahwa ia selama ini berusaha mempraktekkan keseimbangan ekosistem alami di kebun pertaniannya.

Selada.[foto:NR]
Selada.[foto:NR]
Gambas.[foto:NR]
Gambas.[foto:NR]
Selain menanam sayur-sayuran, Budi juga menyewa lahan yang agak luas untuk menanam melon. Beberapa waktu lalu Budi menanam 2500 batang melon, dengan modal sekitar 12 juta. Ia memeroleh hasil kotor 27 juta. Laba bersih Budi dari budidaya melon sekitar 15 juta dalam kurun waktu 2 bulan. “Untuk melon, memang bisa untuk mendapat uang, Mas, asal panen bagus dan harga pas baik. Tapi terus terang untuk melon saya tidak seratus persen menerapkan organik, karena dengan modal yang besar, saya tidak berani spekulasi. Masalahnya lahan lain di sekitar lahan saya tidak ada yang menerapkan organik. Dan itu berat bagi petani organik seperti saya,” begini Budi memberikan alasan untuk tanaman melonnya. “Paling tidak pupuk dasar saya perbanyak pupuk organik buatan sendiri. Ini sudah lumayan mengurangi modal. Dan hasil di kualitas buah melon, saya berani bertanding, dengan penerapan 50 persen sistem organik, tingkat kemanisan buah melon saya lebih manis dibanding yang seratus persen sistem kimia,” beginilah keyakinannya.

 “Keadaan pertanian khususnya lahan saat ini sudah sampai titik jenuh, Mas. Tanah sudah banyak kehilangan unsur haranya. Jika kita menanam tanpa diberi pupuk kimia yang cukup, tanaman tidak akan berkembang,” ujarnya amat prihatin. “Satu-satunya jalan ya kita harus segera mengkonservasi dan merehabilitasi lahan pertanian, dengan cara sistem bertani ramah lingkungan. Secara perlahan kita mulai mengurangi penggunaan pupuk dan bahan-bahan kimia, dan bersamaan dengan itu menambah penggunaan pupuk organik. Nanti setelah sekitar 5 tahun mendatang, tanah akan mulai bisa pulih unsur haranya,” harap Budi.

Ia juga berharap bahwa gerakan kesadaran tentang pertanian ramah lingkungan memang harus segera digaungkan. Kesadaran pertanian ramah lingkungan menjadi semangat dan gerakan bersama, karena tidak mungkin dengan kondisi lahan pertanian yang masih menjadi satu kawasan akan bisa menerapkan sistem pertanian organikjika hanya satu atau dua orang yang mengerjakan. Mengawali gerakan ini, Budi menceritakan bahwa beberapa tahun yang lalu dia dan beberapa temannya pernah membentuk Kelompok Petani Jejaring Rakyat Mandiri (JERAMI) Gunungkidul. Waktu itu, JERAMI bekerja sama dengan Yayasan SATUNAMA Yogyakarta dan intens menggarap isu-isu pertanian ramah lingkungan.

Budi Wibowo dan kebun organiknya.[foto:NR]
Budi Wibowo dan kebun organiknya.[foto:NR]
“Kelemahan para petani kita salah satunya yaitu semangat mandheg di program. Semangat awal menggebu, tapi begitu program selesai ya organiknya lupa,” ujar Budi dengan senyum kecut. Disinggung KH soal kepedulian Dinas Pertanian tentang pertanian organik ini, Budi mengatakan bahwa bertani organik ini beratnya saat memulai, “Dinas pertanian kalau bahasa Jawanya itu awang-awangen untuk memulai program. Karena ya itu tadi, habis program selesai, petani kembali ke pertanian kimia! Ini yang saya maksud, pertanian organik membutuhkan kesabaran dan kejujuran.”

Harapan ia jauh ke depan, akan terjalin satu jaringan petani organik se-Gunungkidul, yang nantinya bisa melebar  ke jaringan kerja sama antar kelompok tani se-Gunungkidul. “Siapa tahu dengan fasilitasi program pemerintah, saya dan teman-teman yang peduli dengan pertanian organik ini, bisa mempunyai suatu kawasan terpadu yang di sana nantinya kita bisa belajar bareng-bareng tentang pertanian dan inovasi pertanian, sehingga kaum muda bisa tertarik untu belajar pertanian,” menutup obrolan kami sore itu.

Setelah itu KH pamit. Kemerdekaan petani yang mandiri adalah harapan dan pemikiran di saat ulang tahun ke-75 Kemerdekaan RI seperti sekarang ini. Tak lupa satu tas plastik besar sayur organik hasil budidaya Budi menjadi oleh-oleh yang dengan merdeka (bebas) KH bawa pulang.

[KH/Edi Padmo. Ini adalah tulisan tentang profil petani organik Gunungkidul, dalam rangka memeringati dan memaknai Ulang Tahun ke-75 Indonesia: merdeka di bidang Pertanian]


Curicullum Vitae

Budi Wibowo.[foto:NR]
Budi Wibowo.[foto:NR]
Nama Lengkap:
Budi Wibowo
Tempat, Tanggal Lahir:
Jakarta, 21 Mei 1975
Alamat:
Kerdon RT 03 RW 02 Kalurahan Karangsari Kapanewon Semin Kabupaten Gunungkidul
No. HP:
085228286728 – 085729091642
Agama:
Kristen
Hobi:
Olahraga dan Musik

Pendidikan Formal:
SD Negeri Payaman II Semin (1983-1989)
SMP Bopkri Semin (1989-1992)
SMA Negeri Semin (1992-1995)

Organisasi:
Gerakan Angkatan Muda Kristen Gunungkidul sebagai anggota (2008-Sekarang)
Search and Rescue Darat Kabupaten Gunungkidul sebagai anggota (2009-Sekarang)
ASB-World Bank untuk Anak Berkebutuhan Khusus sebagai Kader Desa (2011-Sekarang)

Pendidikan Non-Formal               :
Pelatihan Usaha Ekonomi Desa Simpan Pinjam (UEDSP) – (1997)
Pelatihan Pertanian Organik (1999)
Jaringan Kerja antar Kelompok Tani (JAKKET) se-Karesidenan Surakarta (1999)
Pelatihan Pertanian dan Peternakan (2000)
Pelatihan Pertanian Organik bagi Petugas dan Petani (2002)
Pelatihan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Bidang UMKM dan Koperasi (2008)
Pendidikan dan Pelatihan Search dan Rescue Kabupaten Gunungkidul (2010)

Pengalaman Kerja:
Fasilitator Pupuk Organik pada Yayasan Sumber Sari di Semin (2001-2002)
Fasilitator Teknologi Pertanian Organik pada Yayasan Peduli Lingkungan “Lestari” di Kabupaten Rote Provinsi Nusa Tenggara Timur (2005)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar