Alat Terapung yang Ditemukan Nelayan di Perairan Gunungkidul milik Amerika

oleh -
rama buoy
RAMA Buoy yang ditemukan nelayan Pantai Baron. (Screenshoot channel youtube Update Disini)
ucapan natal pemkab

GUNUNGKIDUL, (KH),– Benda atau alat yang dianggap asing oleh warga pesisir Gunungkidul terkuak. Semula benda yang ditemukan nelayan terombang ambing di laut tersebut ditengarai sebagai Early Warning System (EWS) Tsunami. Namun setelah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika  (BMKG) memberikan keterangan, alat tersebut ternyata merupakan Research Moored Array for African Asian Australian Monsoon Analysis and Prediction (Rama) Buoy.

BMKG melakukan pengecekan alat tersebut setelah mendapat informasi ada nelayan Pantai Baron menemukannya pada jarak sekitar 3 mill dari garis pantai. Petugas SAR Satlinmas setempat sebelumnya juga telah mengevakuasinya ke pantai Baron.

Dalam keterangannya di channel youtube Update Disini, Peneliti Puslitbang BMKG, Muhammad Najib mengungkapkan, alat tersebut milik National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat. Hal itu terkonfirmasi dengan adanya tulisan yang menempel di alat tersebut.

“Itu lembaga dengan fungsi seperti BMKG kalau di Indonesia. Amerika memang memasang banyak sekali alat seperti ini di wilayah Samudera Hindia, Samudera Atlantik dan lain-lain,” terang Najib.

Lebih jauh disampaikan, alat tersebut untuk mengukur kondisi atmosfer di permukaan laut. Kegunaannya untuk menyediakan data terkait cuaca. Sebab kondisi di lautan berhubungan dengan kondisi di daratan.

“Kondisi atmosfer di laut dan darat saling mempengaruhi. Dengan mengetahui kondisi atmosfer di laut nanti bisa dihitung atau kalkulasi kondisi atmosfer yang ada di darat,” imbuh dia.

Contohnya, Najib melanjutkan keterangan, siklon tropis yang terjadi bisa dideteksi jika mengetahui beberapa indikator yang ada di laut. Seperti suhu permukaan laut, tinggi rendahnya tekanan udara di sekitar laut, dan lain-lain.

Lebih jauh dipaparkan, Data dari Rama Buoy akan disatukan dengan format tertentu yang dinamankan data global. Data global selanjutnya akan digunakan sebagai model prakiraan cuaca.

Keberadaan Rama Buoy yang dipasang di luar Zona Ekonomi Eksklusif  (ZEE) atau di atas 200 kilometer dari pantai sangat penting kegunaannya. Indonesia sendiri juga tergabung dalam project RAMA tersebut, diantaranya dengan realisasi penempatan alat setidaknya di 9 tempat. Diantaranya ditempatkan 1 alat di wilayah selatan Jawa dan sepanjang barat Sumatera dekat dengan India ada 8 alat.

“Alat yang ditemukan ini kondisinya di beberapa bagian sudah rusak. Kami akan klarifikasi dengan pihak-pihak berwenang mengenai tempat alat ini sebelumnya ada di mana. Dalam ekspedisi di wilayah selatan Jawa, terakhir dilakukan tahun 2015. Tetapi waktu itu tidak menemukan alatnya. Sejak saat itu jika dicari selalu gagal dan tidak  menemukannya,” terang Najib.

Selanjutnya, pihaknya akan berkoordinasi dengan pimpinan termasuk dengan NOAA mengenai kelanjutan tindakan terhadap peralatan tersebut.  Apakah akan dibongkar atau ada instruksi lain.

“Kami berterimakasih kepada nelayan dan Tim SAR Satlinmas setempat yang secara sukarela mengamankan alat tersebut. Hal ini menunjukkan penduduk di wilayah ini sudah sangat teredukasi mengenai pentingnya peralatan-peralatan yang dipasang oleh pemerintah yang bertujuan untuk kemaslahatan dan kemanfaatan masyarakat luas. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar