UPK Kecamatan Patuk Membentuk Kelompok Pengrajin Tas Daur Ulang

oleh -
Tas daur ulang plastik bekas seharga Rp.100.000 Foto : Atmaja
iklan dispar
Tas daur ulang plastik bekas seharga Rp.100.000 Foto : Atmaja
Tas daur ulang plastik bekas seharga Rp.100.000 Foto : Atmaja

PATUK,(KH) — Setelah berhasil melatih warga dalam mendaur ulang sampah plastik menjadi sebuah produk yang mempunyai nilai jual, pihak Kecamatan Patuk berencana membuat kelompok pengerajin tas daur ulang sampah non organik.

Melalui Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Kecamatan Patuk, sebanyak 36 warga yang mengikuti pelatihan merupakan kader yang mewakili 11 Desa yang ada di Kecamatan Patuk. “Rencananya setiap desa mempunyai satu kelompok pengerajin daur ulang tas dan dompet plastik bekas,” ucap Agus Triono selaku ketua UPK Kecamatan Patuk.

“Selain melakukan pendampingan bertahap, kami bekerjasama dengan pengerajin tas plastik sampah yang sudah berhasil memasarkan produk daur ulang kebeberapa kota di Indonesia bahkan setiap bulan sudah mengekspor produk tas tersebut ke luar negeri,” jelasnya.

Sementara itu selaku narasumber sekaligus pengerajin tas asal Kabupaten Bantul, Junaidi memaparkan, Sampah plastik merupakan masalah yang sering dijumpai. Menurutnya masyarakat di Indonesia tercatat sebagai pemakai 100 miliar plastik per tahun.

Didampingi dengan istrinya, Junaidi menjelaskan salah satu usaha yang bisa dilakukan untuk mengurangi jumlah plastik adalah melakukan daur ulang menjadi sesuatu yang berharga dan menghasilkan uang.

“Karena itu, kami melakukan daur ulang sampah plastik menjadi bahan dasar pembuatan aneka macam aksesoris dan tas wanita yang estetik, ‘trendy’, dan memiliki nilai jual yang tinggi,” ucapnya.

Berangkat dari hal itu, inovasi pembuatan aksesoris dan tas wanita pun muncul. “Bahan yang dibutuhkan antara lain plastik kresek, kain tisu, kain furing, bahan tas, resleting, dan benang jahit, lalu semuanya dibuatkan berbagai macam desain dan dijahit,” paparnya

Menurut dia, keunggulan tas daur ulang plastik sampah adalah unik, ramah lingkungan (“green product”), jumlah barang terbatas (kerajinan), dan harganya terjangkau yakni Rp.15.000 hingga Rp.80.000, sedangkan produk lain bisa mencapai Rp.100.000 hingga Rp.200.000.

Dengan adanya kerjasama dengan warga Patuk harapannya dapat menguntungkan semua pihak. “Karena selama ini produk yang saya buat belum cukup untuk memenuhi permintaan yang ada. Dengan adanya kerjasama ini diharapkan produk dapat semakin bertambah dan dapat memenuhi permintaan,” pungkasnya.(Atmaja)

Komentar

Komentar