Toko Mebel di Seputar Wonosari Tak Ada Yang Menjual Produk Lokal

oleh -
Berbagai produk mebel kiriman dari luar laris di Gunungkidul. KH/ Kandar
iklan dispar
Berbagai produk mebel kiriman dari luar laris di Gunungkidul. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Sangat sedikit, bahkan tidak ada produk mebelair dari pembuat atau pengrajin lokal Gunungkidul yang karyanya dijual di toko-toko atau pusat penjualan mebelair di seputaran Wonosari.

Hal tersebut disampaikan salah satu karyawan toko penyedia aneka mebelair di jl Kyai Legi Wonosari, Agung. Selama bertahun-tahun ia bekerja di Toko Karya Manunggal, belum sekalipun toko ditempatnya bekerja menjual produk mebel produksi lokal.

Bahkan meski sempat memproduksi sendiri berbagai produk mebel, saat ini memilih berhenti dan mengandalkan suplai produk jadi dari luar wilayah Gunungkidul. Kenyataan ini bertolak belakang sebagaimana pengakuan banyak pengrajin yang kesulitan dalam hal pemasaran.

“Dahulu pernah buat sendiri, tetapi sekitar lima tahun terakhir mengandalkan kiriman dari luar. Semua produk mebel yang dijual di sini kebanyakan datang dari Sragen dan Solo dan Pasuruan” terang Agung, Jum’at, (20/1/2016).

Menurutnya, penyebab sejumlah toko lebih memilih mendatangkan dari luar karena produk dari Gunungkidul kalah bersaing dalam hal harga. Tidak sedikit sejumlah toko beralasan karena kualitas.

Seperti dicontohkan, satu set kursi tamu kiriman dari Sragen dapat dibeli seharga Rp. 1.350.000. Dari harga tersebut masih memungkinkan untuk dijual kembali dengan mengambil keuntungan yang wajar.

“Untuk pasaran umum kalau dari lokal tidak boleh harga segitu. Terkadang kualitasnya juga kalah. Kecuali mebel yang menyediakan produk dengan kayu melalui pemesanan jenis kayu khusus, kalau itu jelas itu lebih mahal,” jelas Agung.

Pertimbangan lain, berbagai produk seperti; Bufet, almari,kursi  dan kursi gajah serta yang lain. si pengirim bersedia mengganti dengan model yang baru apabila terlalu lama tidak laku atau karena model sudah ketinggalan.

Sementara itu di toko Mebel lain,  hal yang sama diungkapkan, Heni pemilik toko mebel tidak menjual produk mebelair lokal. Awalnya, dirinya sempat menerima pasokan berupan tempat tidur/ dipan pari pemroduk lokal, namun hal tersebut hanya bertahan sebentar saja.

“Saya yakin dan percaya saja dengan spesifikasi yang disampaikan pembuat. Ternyata ukuran dipan tidak sesuai, sehingga pelanggan saya kecewa, karena kasur tidak dapat diletakkan di atas dipan secara presisi,” ujar Heni, pemilik Toko Heni Mebel ini.

Semenjak peristiwa itu dirinya enggan membeli produk lokal untuk dijual lagi. Senada dengan Agung, harga mebel lokal yang tinggi membuat Heni kesulitan untuk menjualnya lagi. Dirinya berpendapat sebenarnya potensi kayu di Gunungkidul cukup melimpah, namun kenapa tidak ada sentra mebel yang berani bersaing baik dalam hal kualitas dan harga dengan wilayah luar.

“Saya biasa mendatangkan dari Cawas dan Pasuruan. Kalau dari Gunungkidul sepertinya malah banyak kayu dijual glondongan ke luar, lalu sebagian kembali menjadi produk jadi siap pakai,” urai Heni. (Kandar)

Komentar

Komentar