Telaga Kering, Saatnya Menyisihkan Uang Untuk Persiapan Beli Air

oleh -
Telaga Njowo di Padukuhan Pakel, Desa Planjan, Kecamatan Saptosari. KH/ Kandar
iklan dispar
Telaga Njowo di Padukuhan Pakel, Desa Planjan, Kecamatan Saptosari. KH/ Kandar
Telaga Njowo di Padukuhan Pakel, Desa Planjan, Kecamatan Saptosari sudah kering. KH/ Kandar

SAPTOSARI, (KH)— Berdasar prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau akan dimulai pada Bulan Mei ini. Tanda-tanda telah masuk musim kemarau memang sudah cukup jelas, antara lain sudah tidak lagi hujan, hingga mengakibatkan air telaga surut atau bahkan kering sudah terjadi dibeberapa tempat.

Seperti yang terjadi di Telaga Njowo, Padukuhan Pakel, Desa Planjan, Kecamatan Saptosari, telaga ini tegolong lebih cepat surut setelah dibangun, sejak sekitar 4 tahun terakhir. Meski sekitar sepertiga dari 150 warga telah memilki saluran air dari PDAM, telaga ini masih sangat diandalkan.

“Untuk mencuci, memandikan ternak, dan juga mandi bagi sebagian warga. Sewaktu sebelum diperbaiki dengan alat berat airnya lebih awet,” kata Mardi Utomo salah satu warga yag tinggal tidak jauh dari telaga, Kamis, (27/5/2016).

Akibatnya, penggunaan air di Bak Penampungan Air Hujan (PAH) milik masing-masing warga lebih intens, sehingga cadangan air cepat habis. Lalu, bagi yang tidak memiliki saluran air dari PDAM maka akan membeli kepada warga yang memiliki sambungan air guna mengisi bak tampungan air mereka.

Telaga Njowo, cerita Mardi, masa air menggenang perbedaannya cukup mencolok antara sebelum dan sesudah dikeruk. Diriwayatkan, tujuan pengerukan sebelumnya untuk menambah volume tampungan air telaga, atau kedalaman telaga.

“Telaga dulu memang agak dangkal, sedangkan air juga mudah surut, tetapi setelah dikeruk air malah lebih cepat lagi habisnya,” tutur dia. Disebutkan, selama ini meski pada puncak musim hujan, belum pernah air memenuhi telaga yang setelah dibangun memiliki kedalaman sekitar tiga meter ini. Ia menyebut, kondisi genangan air terbanyak mencapai kedalaman setengah meter saja.

“itu hanya bertahan dalam hitungan hari saja lho, beda saat dinding telaga hanya model terasiring menggunakan batu saja,” timpal dia.

Dengan begini, menghadapi musim kemarau warga harus menyediakan dana untuk persiapan membeli air. Membeli dari tetangga yang punya meter air (red, saluran PDAM), sudah menjadi kebiasaan, harga untuk setiap meter kubiknya yakni Rp. 10 ribu.

Banyaknya dana yang dikeluarkan untuk mencukupi kebutuhan air sangat dipengaruhi jumlah anggota keluarga. “kalau saya menyesuaikan jumlah uang saja, jika dirata-rata, apabila jumlah keluarga ada antara 4 hingga 5, maka jumlah uang yang dihabiskan antara Rp. 900 ribu hingga Rp.1,5 juta dalam satu musim kemarau,” papar Mardi. (Kandar)

Komentar

Komentar