Satgas Berani Hidup: Inilah Langkah Pencegahan Tindakan Bunuh Diri

oleh -
Cegah Tindakan Bunuh Diri. Dok: beritahati.com
iklan dispar
Cegah Tindakan Bunuh Diri. Dok: beritahati.com
Cegah Tindakan Bunuh Diri. Dok: beritahati.com

WONOSARI, (KH) — Sesuai dengan modul yang disusun Satgas Berani Hidup, maka langkah-langkah pencegahan tindakan bunuh diri dilakukan dalam ruang lingkup pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Pencegahan primer adalah tindakan mencegah sebelum orang mempunyai niat melakukan tindakan bunuh diri dengan memperhatikan faktor-faktor risikonya. Lingkup pencegahan sekunder adalah deteksi dini dan terapi yang tepat pada orang yang telah melakukan percobaan bunuh diri. Lingkup pencegahan tersier adalah tindakan untuk mencegah berulangnya percobaan bunuh diri.

Berdasarkan ruang lingkup tersebut, maka program  dan kegiatan yang dilaksanakan Satgas Berani Hidup mengacu pada pencegahan primer, sekunder, dan tersier.

Lingkup Pencegahan Primer:

  1.  Membuat buku pedoman, buku saku, leaflet, poster, lembar edukasi tentang  pengenalan faktor risiko,  pengelolaan faktor risiko, pencegahan dan pengelolaan dampak psikologis dan sosial bunuh diri
  2. Sosialisasi informasi tentang bunuh diri melalui media edukasi, media massa dan terintegrasi dengan aktivitas sosial budaya
  3. Mengoptimalkan sistem informasi yang sudah ada di masing masing instansi baik instansi kesehatan maupun non kesehatan dengan memasukkan materi tentang pencegahan bunuh diri
  4. Pemerintah membuat edaran tentang himbauan kepada pemangku kepentingan, tokoh masyarakat untuk menyampaikan materi tentang pengenalan faktor risiko bunuh diri dalam forum formal maupun non formal

Lingkup Pencegahan Sekunder:

  1. Melakukan pemeriksaan dan tatalaksana awal di layanan kesehatan
  2. Optimalisasi pelaksanaan rujukan medis
  3. Membentuk sistem rujukan psikososial terintegrasi
  4. Pelatihan kader, tokoh masyarakat, pemangku kebijakan dan petugas kesehatan untuk dapat melakukan/meningkatkan kemampuan deteksi dini dan pengelolaan
  5. Melakukan upaya pengembangan akses ke layanan kesehatan jiwa

Lingkup Pencegahan Tersier:

  1. Mengembangkan sistem komunikasi informasi dan edukasi tentang faktor risiko bunuh diri dan deteksi dini
  2. Membentuk gugus tugas pencegahan bunuh diri dari tingkat kabupaten sampai kelurahan
  3. Mengembangkan rehabilitasi psikososial berbasi masyarakat
  4. Penguatan ketahanan keluarga

Penyediaan Akses ke Layanan Medis, Psikologi, Ekonomi, Sosial dan Religi

Akses ke layanan kesehatan medis, psikologis, ekonomi , sosial  dan religi menjadi sangat penting, Karena seringkali ketika seseorang terdeteksi menderita gangguan jiwa dan berisiko bunuh diri tidak tahu bagaimana mencari pertolongan. Untuk itu perlu unsur unsur terkait membuat suatu sistem yang memudahkan kelompok risiko bunuh diri dan keluarganya mencari bantuan.

Upaya Pencegahan Bunuh Diri oleh Masyarakat

Bunuh diri dapat dicegah. Semua anggota masyarakat dapat melakukan tindakan yang akan menyelamatkan kehidupan dan mencegah bunuh diri. Sangat dibutuhkan kerjasama yang erat antara individu, keluarga, masyarakat, profesi dan pemerintah untuk bersama mengatasi masalahnya.

Bila menemukan orang dengan ciri risiko tinggi tindakan bunuh diri, maka anggota masyarakat dapat melakukan:

  • Mencoba menjalin kontak dan mengenali pelaku tindakan bunuh diri beserta latar belakangnya.
  • Mendengarkan dengan penuh perhatian dan biarkan pelaku tindakan bunuh diri berbicara mengenai perasaannya.
  • Mencoba mengenali masalah dan memahami perasaannya.
  • Menghargai pemikirannya dan jangan menyalahkan keputusan mereka untuk bunuh diri.
  • Menelusuri situasi yang dialami sekarang dan pengalaman serta keyakinannya pada masa lalu.
  • Menelusuri pilihan alternatif yang positif yang mungkin dan dapat dilakukan sesuai dengan diri, nilai dan hal yang disenangi oleh orang tersebut.
  • Mengidentifikasi cara terbaik yang dapat dilakukan untuk menolong mereka dalam situasi krisis.
  • Memberi mereka harapan dan optimisme.
  • Membantu mereka mengurangi beban pikirannya.
  • Melibatkan mereka dalam kegiatan sosial dan rekreasi seperti bertemu orang, berbicara kepada teman, mendengarkan radio, menonton televisi (bukan yang menayangkan tentang bunuh diri), menghadiri pertemuan sosial dan lain-lain. Semua usaha tersebut dalam rangka meningkatkan perasaan sejahtera.
  • Merujuk mereka kepada konselor atau tenaga kesehatan jiwa (psikiater, psikolog atau pekerja sosial).
  • Mengikuti saran dari dokter atau konselor, khususnya kepatuhan terhadap terapi.
  • Mendampingi dan bantu mereka dengan segala cara yang mungkin dilakukan.
  • Meneruskan berinteraksi, mendengarkan dan menawarkan dukungan.

Bila situasi krisis sudah berlalu, penting untuk tetap memberikan dukungan agar mereka mampu mengatasi tantangan hidup dengan cara yang positif. Jika pikiran bunuh diri tetap ada, diperlukan dukungan konselor dan profesional lain. Jadi, mereka perlu dirujuk ke tenaga yang tepat.

Semua anggota masyarakat sebenarnya dapat bertindak sebagai konselor yang terbatas yaitu dengan cara berkomunikasi, berempati, memberi dukungan dan menunjukkan arahan yang positif bagi orang tersebut.

Upaya Pencegahan Bunuh Diri oleh Keluarga

Keluarga merupakan pusat dari semua kegiatan dalam kehidupan individu. Konflik interpersonal, hubungan yang terganggu dan kehidupan yang tidak harmonis merupakan faktor pencetus yang penting dalam tindakan bunuh diri.

Keluarga perlu memberi dukungan dan melakukan upaya untuk mencegah bunuh diri. Anggota keluarga dapat melakukan upaya yang efektif dengan berbagai cara, antara lain:

  • Mengidentifikasi tanda-tanda dari stres dan kecenderungan bunuh diri. Karena ekspresinya sangat unik untuk setiap budaya, maka keluarga harus mengenali kecenderungan tersebut.
  • Membina hubungan yang erat dengan pelaku, penuh perhatian, mendengarkan, menghargai perasaan serta memahami emosinya.
  • Menunjukkan bahwa keluarga ingin menolongnya.
  • Lebih baik membangun potensi kekuatan pelaku dari pada terpaku pada kelemahannya.
  • Jangan tinggalkan seorang diri anggota keluarga yang mempunyai keinginan bunuh diri.
  • Menjauhkan pelaku dari benda yang membahayakan dirinya seperti: obat-obatan, racun, benda tajam, tali dan lain-lain.
  • Secara bertahap bangkitkan kembali keinginan untuk hidup (untuk beberapa situasi dapat terjadi dengan cepat).
  • Mengajari dan mempraktekkan metode penyelesaian masalah dan timbulkan rasa optimis.
  • Mencoba untuk meminimalkan konflik di rumah dan mengembangkan latihan pemecahan masalah bersama dengan anggota keluarga yang lain.
  • Mendorong anggota keluarga tersebut untuk mencari pertolongan profesional, rumah sakit atau LSM yang tepat. Mereka yang mempunyai masalah kesehatan jiwa biasanya tidak mau dilabel dengan ”gangguan jiwa”. Oleh karena itu persuasi merupakan faktor kunci untuk membawanya ke dokter. Konsultasi dengan dokter tidak cukup hanya satu kali. Untuk mendapatkan perubahan yang bermakna diperlukan konsultasi yang teratur dan perlu mengikuti saran yang diberikan oleh dokter.
  • Membantu anggota keluarga tersebut untuk mengatasi krisis dengan berbagai cara yang realistik dan cocok dengan yang bersangkutan.
  • Tetap mengobservasi dan mewaspadai tindakan, reaksi dan perilakunya.
  • Memberikan perhatian khusus diberikan pada usia lanjut, penyakit terminal, gangguan jiwa (depresi, alkoholisme, tindak kekerasan dan lain-lain) dan penderita cacat.
  • Mengidentifikasi lembaga atau tokoh dalam masyarakat untuk membantu kasus spesifik (misalnya sekolah, lembaga tenaga kerja, lembaga sosial, institusi kesehatan, tokoh agama dan sesepuh atau tokoh masyarakat).
  • Memberikan perhatian yang penuh kasih sayang, pengertian dan dukungan (selain dari memberi pengobatan yang diperlukan secara teratur), dapat mencegah terjadinya tindakan bunuh diri.

Upaya Pencegahan yang Lebih Luas

Menurut dokumen yang disusun Satgas Berani Hidup, masyarakat mempunyai tanggungjawab yang besar untuk mencegah tindakan bunuh diri. Masyarakat perlu dan mesti menciptakan norma perilaku untuk membantu anggota masyarakat bertumbuh dengan cara yang positif, sehat dan merasa sejahtera. Jadi pengaruh positif dari masyarakat dapat mempengaruhi individu untuk berhenti dari perilaku merusak.

Problem besar pada masyarakat yang sedang dalam transisi adalah menurunnya sistem nilai secara bertahap, perubahan yang cepat yang diikuti oleh konflik yang disebabkan oleh adanya peluang baru dan frustrasi yang timbul akibat dari perubahan sosial masyarakat. Jadi setiap institusi dan individu di dalamnya dapat memainkan peranan yang amat penting untuk mencegah tindakan bunuh diri. Masyarakat perlu membangun mekanisme pertahanan sosial yang meliputi pencegahan, terapi dan pelayanan ”after care” untuk mengurangi tindakan bunuh diri.

Masyarakat, organisasi dan LSM mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengembangkan pelayanan pencegahan, pelayanan gawat darurat, pelayanan ”after care” dan program pencegahan. Mendata dukungan dari kelompok lokal merupakan langkah penting dalam membuat program dan mengidentifikasi sumberdaya yang ada.

Masyarakat lokal dapat membantu program pencegahan bunuh diri dengan cara mengangkat isu lokal, masalah dan penyebab bunuh diri kepada pengambil keputusan (misalnya memperbaiki kualitas hidup masyarakat ekonomi lemah, mengurangi tindak kekerasan dan kriminalitas, menghilangkan stigma, menghilangkan sikap diskriminasi, mempengaruhi media massa lokal dan memperbaiki informasi data tentang bunuh diri).

Baca artikel sebelumnya: Satgas Berani Hidup: Berikut Ciri dan Gejalan Pelaku Bunuh Diri

Artikel terkait di Swarawarga: Seputar Mitos dan Fakta tentang Bunuh Diri

(Kandar).

 

Komentar

Komentar