Satgas Berani Hidup; Berikut Ciri dan Gejala Pelaku Bunuh Diri

Gantung diri. dok. KH
Gantung diri. dok. KH

WONOSARI, (KH)— Paparan lanjutan berikut adalah tentang ciri dan gejala yang pada umumnya terjadi pada pelaku yang beresiko melakukan bunuh diri.

Menurut modul yang disusun Satgas Penanggulangan Resiko Bunuh Diri, individu dengan risiko bunuh diri memiliki gejala atau ciri sebagai berikut:

  • Kehilangan status pekerjaan dan mata pencaharian.
  • Kehilangan sumber pendapatan secara mendadak karena migrasi, gagal panen, krisis moneter, kehilangan pekerjaan, bencana alam.
  • Kehilangan keyakinan diri dan harga diri.
  • Merasa bersalah, malu, tak berharga, tak berdaya, dan putus asa.
  • Mendengar suara-suara gaib dari Tuhan untuk bergabung menuju surga.
  • Mengikuti kegiatan sekte keagamaan tertentu.
  • Menunjukkan penurunan minat dalam hobi, seks dan kegiatan lain yang sebelumnya dia senangi.
  • Mempunyai riwayat usaha bunuh diri sebelumnya.
  • Sering mengeluh adanya rasa bosan, tak bertenaga, lemah, dan tidak tahu harus berbuat apa.
  • Mengalami kehilangan anggota keluarga akibat kematian, tindak kekerasan, berpisah, putus hubungan.
  • Pengangguran dan tidak mampu mencari pekerjaan khususnya pada orang muda.
  • Menjadi korban kekerasan rumah tangga atau bentuk lainnya khususnya pada perempuan.
  • Mempunyai konflik yang berkepanjangan dengan diri sendiri, atau anggota keluarga.
  • Baru saja keluar dari RS khususnya mereka dengan gangguan jiwa (depresi, skizofrenia) atau penyakit terminal lainnya (seperti kanker, HIV/AIDS, TBC, dan cacat).
  • Tinggal sendirian di rumah dan menderita penyakit terminal tanpa adanya dukungan keluarga ataupun dukungan ekonomi.
  • Mendapat tekanan dari keluarga untuk mencari nafkah atau mencapai prestasi tinggi di sekolah.
  • Mendapat tekanan/bujukan dari organisasi/ kelompoknya.

“Individu dengan risiko tinggi ini pada umumnya menunjukkan perilaku tertentu. Perilaku tersebut adalah kurangnya minat dalam kehidupan dan adanya kebimbangan terhadap hidup atau  mati (bersifat ambivalen),” urai dokter Ida, beberapa waktu lalu.

Sementara, sebagian besar individu yang mengalami gangguan jiwa seperti depresi, skizofrenia, gangguan afektif, penyalahgunaan alkohol/ NAPZA lainnya, menunjukkan berbagai gejala yang spesifik yang dapat diidentifikasi terhadap penyakitnya.

Berdasarkan riset kesehatan yang telah diterbitkan dalam berbagai jurnal, terdapat gejala umum yang ditemukan pada orang yang cenderung bunuh diri, yaitu:

  • Merasa sedih
  • Sering menangis
  • Anxietas dan gelisah
  • Perubahan mood (senang berlebihan sampai sedih berlebihan)
  • Perokok dan peminum alkohol berat
  • Gangguan tidur yang menetap atau berulang
  • Mudah tersinggung, bingung
  • Menurunnya minat dalam kegiatan sehari-hari
  • Sulit mengambil keputusan
  • Perilaku menyakiti diri
  • Mengalami kesulitan hubungan dengan pasangan hidup atau anggota keluarga lain
  • Menjadi ”sangat fanatik terhadap agama” atau jadi ”atheis”
  • Membagikan uang atau barangnya dengan cara yang khusus

Oleh karena, dalam bagian lingkup pekerjaan Satgas Penanggulangan Resiko Bunuh Diri, apabila mengetahui individu dengan gejala tersebut, maka segeralah dibantu. Intervensi yang dilakukan oleh siapapun akan dapat menyelamatkan kehidupannya atau mencegah bunuh diri.

Keluarga yang Berisiko Melakukan Bunuh Diri

Terdapat pula sejumlah keluarga yang berisiko tinggi untuk melakukan bunuh diri. Karena keluarga berada dalam keadaan krisis, maka gejala yang terdapat pada salah seorang anggota keluarga tidak dapat terlihat oleh anggota keluarga lainnya.

Keluarga yang beresiko tinggi untuk melakukan bunuh diri mempunyai ciri sebagai berikut:

  • Mempunyai anggota keluarga dengan gangguan jiwa, atau sakit berat, penyakit stadium terminal atau mempunyai anak yang cacat.
  • Sedang berkabung.
  • Hidup bersama dengan seseorang yang mengalami ketergantungan alkohol atau kecanduan NAPZA.
  • Terdapat anggota keluarga yang pernah berusaha atau telah melakukan bunuh diri pada masa yang lalu.
  • Hubungan dalam keluarga yang retak atau keadaan emosi yang terganggu.
  • Penghasilan sangat rendah, pengangguran (kehilangan pekerjaan mendadak).
  • Hidup dalam lingkungan yang berbahaya (kriminal atau tidak aman).
  • Baru saja pindah ke daerah perkotaan dan hidup dalam situasi tanpa adanya dukungan sosial.

Masyarakat dengan Risiko Tinggi

Indentifikasi masyarakat atau lokasi atau tempat spesifik yang didefinisikan sebagai area geografis dengan kecenderungan bunuh diri yang tinggi. Tempat tersebut adalah sebagai berikut:

  • Kantong-kantong tertentu dalam area geografis dengan angka bunuh diri yang tinggi.
  • Masyarakat ekonomi miskin (populasi di daerah kumuh dan migran).
  • Masyarakat yang sering mengalami bencana alam (banjir, badai, gunung meletus dan tanah longsor).
  • Masyarakat petani yang mengalami gagal panen.
  • Daerah dengan masyarakat yang mengalami kekerasan politik dan sosial.
  • Masyarakat dengan angka prostitusi, tindak kekerasan, penggunaan alkohol dan penyalahgunaan NAPZA lainnya yang tinggi.
  • Tempat risiko tinggi tertentu seperti penjara, kantor polisi, tempat terpencil, hotel dan bahkan rumah sakit.

Perilaku bunuh diri merupakan interaksi dari faktor risiko (yang merupakan stresor) dan daya tahan individu tersebut.

Karakteristik Kepribadian Pelaku Bunuh Diri

Terdapat 3 gambaran utama kepribadian pelaku bunuh diri:

  • Ambivalensi. Keinginan untuk tetap hidup dan keinginan untuk mati berkecamuk pada pelaku bunuh diri. Terdapat dorongan untuk lari dari pedihnya kehidupan, sekaligus terdapat pula keinginan untuk bertahan hidup. Banyak pelaku bunuh diri sesungguhnya tidak ingin mati, hanya saja mereka tidak merasa bahagia dengan kehidupannya. Bila diberikan dukungan dan keinginan untuk hidup ditingkatkan, maka risiko bunuh diri akan berkurang.
  • Impulsivitas. Bunuh diri juga merupakan tindakan impulsif. Sebagaimana juga impuls lain, impuls bunuh diri juga bersifat sementara dan berlangsung hanya beberapa menit atau beberapa jam. Biasanya dicetuskan oleh peristiwa sehari-hari yang negatif. Dengan mengatasi keadaan krisisnya serta mengulur waktu, maka petugas kesehatan dapat menolong mengurangi keinginan bunuh diri.
  • Rigiditas. Pada saat melakukan tindakan bunuh diri, pikiran, perasaan dan perilakunya terbatas. Mereka terus memikirkan bunuh diri saja dan tidak dapat menemukan jalan ke luar lain dari masalahnya. Mereka berpikir secara kaku.

 

Perasaan Pikiran
Sedih, depresi “Saya lebih baik mati”
Kesepian “Saya tidak bisa berbuat apa- apa”
Tak berdaya “Saya sudah tak mampu lagi”
Putus asa “Saya telah gagal dan menjadi beban”
Tak berharga “Orang lain akan lebih senang tanpa saya”

Gangguan Jiwa yang Berisiko Melakukan Tindakan Bunuh Diri

Penyebab terbesar bunuh diri adalah gangguan jiwa berupa depresi (penelitian dan laporan WHO). Secara berurutan adalah sebagai berikut; gangguan depresi (80%), skizofrenia (10%), gangguan demensia dan delirium (5%). Di antara orang-orang dengan gangguan mental tersebut, 25% memiliki ketergantungan dengan alkohol dan memiliki diagnosis ganda (Sadock & Sadock , 2003 dan WHO, 2000).

Bunuh diri dan gangguan jiwa sangat erat kaitannya. Namun sayangnya banyak bunuh diri yang tidak dapat dicegah karena masyarakat belum mengenal ciri-ciri gangguan jiwa,” ungka dr Ida. Menurut The World Health Report 2001, gangguan jiwa dan perilaku dialami kira-kira 25% dari seluruh penduduk pada suatu masa dalam hidupnya.

Mereka pada umumnya, lanjut Ida,  datang ke pelayanan kesehatan umum dan mendapatkan berbagai jenis obat untuk mengatasi keluhan fisiknya. Sementara masalah kesehatan jiwa yang melatarbelakangi keluhan fisiknya sering terabaikan, sehingga pengobatan menjadi tidak efektif. Strategi yang kurang komprehensif menjadi salah satu faktor gangguan jiwa berkembang menjadi berat dan berakibat fatal.

Pada pasien gangguan jiwa dengan risiko bunuh diri, perlu kiranya diperhatikan deliberating self harm atau cedera yang diakibatkan diri sendiri. Tindakan mencederai diri sendiri dan percobaan bunuh diri tidak selalu melibatkan keinginan untuk mati, meskipun terdapat hubungan yang erat antara percobaan bunuh diri, mencederai diri sendiri dan percobaan bunuh diri yang berhasil. Self injury pada pasien psikiatri diperkirakan 50 kali lebih besar dibandingkan dengan populasi umum (Roan,1994).

“Sebenarnya bunuh diri sangat mungkin dicegah. Pertama, sebagian besar orang yang melakukan tindak bunuh diri memiliki gangguan mental yang dapat didiagnosis. Kedua, tindak bunuh diri dan perilaku bunuh diri lebih sering ditemukan pada pasien psikiatri,” urainya.

Itu artinya, sambungnya, bila kita mengenali gejala gangguan jiwa dan secepatnya membawanya ke profesional di bidang psikiatri, maka besar kemungkinan gangguan jiwa tersebut dapat didiagnosa dan segera mendapatkan penanganan secara menyeluruh baik farmakoterapi (terapi obat-obatan), psikoterapi (terapi psikologis), intervensi religius (berdasarkan keyakinan dan agama yang dianutnya) serta intervensi sosial. (Kandar)

Baca artikel terkait:

Sesudah artikel ini: Inilah Langkah Tindakan Pencegahan Bunuh Diri

Sebelum artikel ini: Kenali Jenis dan Penyebab Bunuh Diri

Artikel di Swarawarga: Seputar Mitos dan Fakta tentang Bunuh Diri

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar