Kemenko PMK Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Jiwa dan Unit Cuci Darah di Gunungkidul

Kemenko PMK saat kunjungan di RSUD Wonosari. Kemenko PMK mendorong penguatan layanan Kesehatan Jiwa dan Unit Cuci Darah di Gunungkidul. (ist)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Menindaklanjuti audiensi Bupati Gunungkidul pekan lalu, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) melakukan kunjungan kerja lapangan ke Kabupaten Gunungkidul, Selasa (5/5/2026). Kunjungan ini berfokus pada dua pilar utama: peningkatan kualitas pendidikan dan perluasan layanan kesehatan strategis bagi masyarakat.

Pemerintah pusat memberikan perhatian khusus terhadap dinamika pendidikan di wilayah Wonosari dan Saptosari. Tim Kemenko PMK tengah mengkaji pengembangan sekolah terintegrasi sebagai solusi jangka panjang. Langkah strategis ini diharapkan mampu memutus kendala aksesibilitas dan meningkatkan mutu pendidikan di wilayah tersebut agar lebih merata.

Bacaan Lainnya

Isu kesehatan mental menjadi poin krusial dalam peninjauan ini. Berdasarkan data, terdapat lebih dari 1.800 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Gunungkidul. Sebagai langkah konkret, Kemenko PMK menggandeng pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk menjadikan Gunungkidul sebagai pilot project nasional penanganan kesehatan jiwa.

“Kami ingin memastikan gangguan kesehatan mental tidak berdampak buruk pada generasi muda. Ini adalah langkah antisipasi global yang harus dimulai dari tingkat daerah,” tegas Prof. Sukadiono, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan Kemenko PMK, saat mengunjungi RSUD Saptosari.

Apresiasi juga diberikan kepada RSUD Wonosari yang dinilai telah siap secara fasilitas, dengan dukungan dua dokter spesialis jiwa serta ketersediaan ruang rawat inap yang representatif.

Mempercepat Layanan Cuci Darah (Hemodialisa)

Selain kesehatan jiwa, pemerintah fokus menekan antrean layanan Hemodialisa (HD) yang saat ini mencapai 278 pasien. Rencana pengembangan kapasitas layanan cuci darah meliputi penambahan kapasitas hingga 20 tempat tidur (TT) di RSUD Wonosari dan pengembangan layanan baru di sektor selatan (RSUD Saptosari) dengan target 10 tempat tidur.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Ismono, menyatakan bahwa fasilitas fisik di RSUD Saptosari sudah sangat siap. “Instalasi oksigen sentral sudah tersedia. Fokus selanjutnya adalah pengadaan alat kesehatan dan hospital bed melalui dukungan pemerintah pusat,” jelasnya.

Kemenko PMK juga mendorong RSUD Saptosari untuk naik kelas dari tipe D ke tipe C. Untuk merealisasikan hal ini, Bupati Gunungkidul diarahkan segera melakukan audiensi dengan Menteri Kesehatan guna membahas pemenuhan Sumber Daya Manusia (SDM).

“Kebutuhan mendesak meliputi dokter spesialis, perawat, psikolog, hingga ketersediaan obat-obatan jiwa. Pemerintah pusat berkomitmen mengawal usulan ini agar manfaatnya segera dirasakan masyarakat luas,” pungkas Ismono seusai mendampingi tim Kemenko PMK.

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait