Gamping

oleh -
Batu gamping yang dijual di pasar-pasar perdesaan Gunungkidul. KH/WG
kadhung tresno
Batu gamping yang dijual di pasar-pasar perdesaan Gunungkidul. KH/WG
Batu gamping yang dijual di pasar-pasar perdesaan Gunungkidul. KH/WG

Ardi Gamping Gunungkidul yang identik dengan sebutan: 1) tempat sembunyi, 2) tempat lari para ‘kraman‘ [dalam relasinya dengan penguasa di Bumi Mataram bermakna ‘pemberontak‘], 3) tempat menepi-menyepi, mengendapkan banyak narasi purwa dan klasik tentang tokoh, pemikiran, wahyu, lingkungan sosiologi kuno, hutan, situs keramat alami, sains, yang hingga kini masih tertinggal-tertemui dalam kesadaran masyarakatnya.

Sembunyi, lari, dan menepi di goa, gunung-kerucut, song, hutan, sungai-bawah-tanah, dan situs keramat alamiah lain adalah laku para tokoh Gunungkidulan. Mereka yang membawa serta nalar kehidupannya; (bisa jadi) para tokoh langit yang mendapatkan wahyu; di kanan-kirinya bergelantungan nalar-nalar ilmiah, yang mengendap di kesadaran, juga di wilayah para-sadar, masyarakatnya.

Menutupi Diri

Seperti sifat gamping (kapur) yang ‘meneb‘, tertutup, yaitu sebuah endapan: material-unggul yang mencoba mengonggok di kedalaman. Toh secara alamiah-kimiawi yang ‘meneb‘ akan tinggal, di bawah; mengukuh-kokohkan yang-ada. Yang telah mengerak seperti stalagtit-stalagmit; yang hasrat, ego, dan kehendaknya tak lagi bergejolak.

Bak Sifat Batin Manusia

Meneb‘ adalah konsep kebatinan (istilah yang berhubungan dengan keruhanian, namun sering dilabeli makna negatif. Seperti halnya istilah-istilah: kejawaan, kekunoan, anima[isme], mitos, klenik, ‘gugon-tuhon‘, ‘othak-athik gathuk‘, ‘titen’, dll.). Semua itu yang mengandung kelarasan dengan wilayah kematerialan benda yang disebut gamping (kapur). Manusia yang telah ‘meneb‘ disebut ‘matu-gamping‘. Memiliki sifat seperti batu kapur.

Watu-gamping (batu-kapur), seperti halnya watu-gunung, adalah gambaran diri Gunungkidul: lahir-batin (tampaknya, ini adalah kualitas kemanusiaan yang ingin digapai oleh semua wangsa manusia; termasuk Gunungkidulan). Mendeskripsikan Gunungkidul sebagai sewangsa watu-gamping dan atau watu-gunung telah dilakukan dan diwariskan semenjak waktu-purwa, di cerita purwa.

Sang Kura-kura adalah penopang terbentuknya dunia. Dengan cangkangnya yang lebar nan kuat, Ardi atau Giri Mandara ditopangnya. Berputarlah Sang Kura-kura, melahirkan sari-pati kehidupan, yaitu air suci. Endapan pusarannya adalah yang disebut ‘sari’ (inti; bisa diartikan darah, atau air). Intisari pemutaran laut dengan gunung.

Darahnya Ardi Gamping Gunungkidul tak lain ya air, yang mengalir di goa-goa bawah tanah, sumber, kali, dsb., yang di awal waktu ‘nyencem‘ (merendam) Gunungkidul. Jika pun Gunungkidul diwakili perlambangan pusar (pusat) yang disebut ‘wana-sari‘, maka ia adalah darahnya hutan, inti dari hutan. Gunung, laut, hutan, ketiganya mengendap: mengembangkan wangsa-wangsa. Batu-batu yang menggumpal, bercampur air, dan panas (api; matahari); laksana susu yang mengental karena diaduk.

Batu-endap= ‘wangsa-meneb’. Jadilah dunia. ‘Watu gamping’ atau batu gamping atau ‘ardi gamping’ atau gunung gamping (sesebutan untuk wilayah Gunung Sewu) menjadi barang yang dicari, digali oleh wangsa Gunungkidul sebagai obyek mata pencaharian.

Watu-gamping tak ayal merupakan sandaran kehidupan: ‘upa-boga’ (sumber-pangan; dalam arti sebagai piranti memeroleh pendapatan), ‘usada‘ (pengobatan), ‘wewangunan‘ (pembangunan infrastruktur: jalan, jembatan, rumah, bendung), ‘tetanen‘ (basmi-hama dan rabuk), ‘olah-olah‘ (memasak; misal jenang sungsum, lonthong, dsb.), ‘nginang‘ (terapi kesehatan: kolaborasi gamping, gambir, dan sirih), dll.

Untuk memeroleh endapan, manusia perlu memisahkan material di atasnya (proses alam; kimiawi). Endapan terletak di bawah. Untuk mendapatkan ‘jur-juran gamping‘ (endapan kapur; biasa disebut ‘enjet‘), gamping perlu direndam dengan air, dibiarkan untuk sementara biar menjadi ‘enjet‘. Watu-gamping, batu kapur, itu jasad yang tadinya hidup yang telah ‘meneb‘; mengendap.

Gunungkidul yang gamping di sana-sini, yang berbentuk ‘pundhen‘ di mana-mana. Tak terbilang jumlahnya, akhirnya adalah endapan cara berfikir purwa: bagaimana sebuah wilayah geografi, atau suatu kemenjadian kosmos, tentu didukung oleh material-material yang ‘nglega wela-wela‘ terindera di atasnya. Yang sering dibatasi oleh sebuah lapisan (‘terrarosa‘), atau pintu, yang digunakan sebagai ‘portal‘ untuk terhubung dengan lapisan di atasnya atau di bawahnya (umpama ‘Sela-Matangkep‘ yang menghubungkan arcapada dengan kahyangan). Air di wilayah permukaan tanah Gunungkidul, yang tertahan digunakan untuk mengembangkan budaya pertanian: ‘olah-tani‘.

Yang, setelah sekian waktu, ikatan bersama (religi) wangsa Gunungkidulan adalah endapan atas budaya pertaniannya; yang penuh semangat hidup (‘eros‘), di atas watu gamping yang sebenarnya ‘empuk‘ namun disebut ‘keras‘. Yaitu paradoksi (doksa-purwa) tentang gamping.

Dan gamping, yang secara kasat-mata berada di permukaan (atas), yang menjadinya dengan mengendap. Termasuk wangsanya, mengada di trap ‘andhap‘ (bawah).

___

[Wong Gunung]

Komentar

Komentar