Ribuan Pengunjung Ngalap Berkah di Upacara Nyadran Gunung Genthong

oleh -
iklan dispar

GEDANGSARI, kabarhandayani.– Upacara adat Nyadran Gunung Genthong di Gadhean yang terletak di kaki Gunung Genthong, Padukuhan Manggung, Desa Ngalang, Gedangsari, Gunungkidul pada Selasa (10/6/2014) dihadiri oleh ribuan pengunjung.

Satijan, selaku pemangku adat menjelaskan, nyadran atau sadranan merupakan rangkaian ritual budaya yang sudah menjadi tradisi masyarakat Desa Ngalang sebelum tradisi rasulan digelar. Nyadran merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa dengan kenduri dan sesaji panggang tumpeng palawija yang isinya berupa ayam bakar, tumpeng dan hasil bumi warga Desa

Dalam acara ini, masyarakat Desa Ngalang berbondong-bondong mendatangi lokasi nyadran. Acara ini dibuka dan diisi dengan pemaparan dari pemangku adat yang juga merupakan Kepala Desa Ngalang mengenai mitos dan sejarah Gunung Genthong yang hingga saat ini masih dipercaya masyarakat sekitar.

Satijan memaparkan, berawal dari runtuhnya Kerajaan Majapahit, Raden Patah yang merupakan putra dari raden Brawijaya V mengajak ayahnya untuk masuk islam namun Raden Brawijaya V menolak dan memutuskan untuk pergi dari kerajaan. Hingga dalam perjalanannya, ia singgah di Gunung Genthong. Perginya Brawijaya hanya membawa klangenan (hewan piaran yang ia sukai) perkutut putih, kuda sembrani, anjing beserta beberapa abdinya. Ketika Raden Patah mendengar bunyi perkutut Brawijaya dia melempar padasan yang disebut gentong ke arah gunung ini sehingga gunung ini dinamakan Gunung Genthong dengan bukti sebuah genthong yang ada di puncak gunung tersebut.

Usai pemaparan mitos dan sejarah Gunung Genthong, nasi berkat dan makanan didoakan lalu dibagikan kepada warga yang menyaksikan upacara ini. Warga pun nampak antusias dan ngalap berkah dari berkat yang dibagikan.

Dalam upacara ini turut hadir pula perwakilan dari Diinas Kebudayaan dan Pariwisata Gunungkidul.

Satijan menjelaskan, malam sebelum hari upacara nyadran juga digelar bacaan mocopat yang intinya puji-pujian kepada Tuhan Yang Maha Esa. “Semoga dengan nyadran ini, rasulan besok dapat berjalan dengan lancar karena ini merupakan bentuk nguri-uri budaya yang tidak bertentangan dengan agama serta diharapkan dapat menyatukan agama dan bangsa,” ujarnya. (Mutiya/Hfs)

Komentar

Komentar