Rasulan, Lestari Budayaku Bersatu Masyarakatku

oleh -
kadhung tresno

SEMANU, kabarhandayani.– Rasulan Padukuhan Jonge dan Jelok, Desa Pacarejo, Semanu dimeriahkan oleh Gulungan-gulungan unik yang dibuat untuk tetap menjaga tradisi dan kelestarian kebudayaan Jawa.
Terlihat beberapa masyarakat yang tergabung di setiap RT mempertunjukkan karya dan hasil kreatifitas mereka, seperti RT 06 Padukuhan Jelok yang membawa burung besar dengan anyaman dari daun nangka. “Burung ini di buat sebagai perlambang negara Indonesia, yaitu burung Garuda,” Yanto (45) pembawa burung raksasa.
Mereka berkumpul di Telaga Jonge untuk kemudian berjalan menuju Balai Padukuhan Jelok dengan membawa berbagai Gulungan. Warga nampak menikmati acara tersebut meskipun terik Matahari menyengat kulit mereka, namun rasa senang membuat mereka tetap semangat membawa gunungan tersebut.
Ketua Panitia Rasulan Padukuhan Jelok dan Jonge Sarno Sutrisno mengungkapkan antusias warga sangat positif hal ini terlihat dari dua padukuhan yang melakukan kirab gunungan antusiasnya luar biasa. “Kirab di Padukuhan sudah berjalan selama dua tahun ini, terlihat animo masyarakat yang mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya,” jelas Sarno.
Kepada KH, Sarno memaparkan acara tersebut juga bertujuan untuk mempererat persatuan dan kerukunan masyarakat serta untuk melestarikan budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta, terkhusus Gunungkidul agar masyarakat tetap menjaga kelestarian budaya lokal. Saat ini sudah mulai nampak dalam berbagai acara baik rasulan maupun 17 Agustus di mana masyarakat memeriahkan acara tersebut dengan nuansa budaya Jawa.
“Itu membuktikan bahwa kebudayaan tetap terjaga dan semakin dilestarikan keberadaannya,” paparnya.
Lebih lanjut Ia menjelaskan anggaran dari acara rasulan tersebut murni dari swadaya masyarakat dan bantuan dari Karang Taruna Padukuhan Jelok dan Jonge. Kegiatan rasul meliputi olahraga sepakbola, pentas jathilan, kirab budaya dan ditutup dengan pagelaran wayang kulit.
“Untuk menjadikan acara lebih meriah kami sepakat untuk menggalang dana atau iuran sebesar Rp 65 ribu setiap Kepala Keluarga, dan puji sukur acara dapat terselenggarakan dengan baik,” kata Sarno.
Terakhir Sarno berharap agar kegiatan seperti ini tetap dipertahankan sebagai upaya melestarikan budaya jawa. “Sebagai warga Gunungkidul yang baik mari kita tetap menjaga dan melestarikan kebudayaan lokal agar kedepannya tetap lestari dan anak cucu kitapun mampu meneruskan kelestarian budaya lokal tersebut,” pungkasnya. (Atmaja/Hfs)

Komentar

Komentar