Ragam Sarana Pengairan Dalam Menunjang Produksi Pertanian Di Gunungkidul

oleh -
Bendung Payaman Desa Rejosari Semin sebagai irigasi pertanian warga. KH/ Kandar
iklan hut ri multazam
Bendung Payaman Desa Rejosari Semin sebagai irigasi pertanian warga. KH/ Kandar
Bendung Payaman Desa Rejosari Semin sebagai irigasi pertanian warga. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Meski mendapat julukan daerah kering ternyata di Gunungkidul terdapat ratusan sarana irigasi guna menunjang pengairan pertanian. Secara umum letak ketersediaan berbagai sarana pemanfaatan air tersebut berada di zona utara mulai dari sisi timur Gunungkidul dan zona tengah atau Ledok Wonosari.

Berdasar jenis sumber airnya, sarana irigasi ini dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk, diantaranya berupa: Bendung, Sumur dengan pompa, Bangunan pengambil Irigasi, Bangunan pengambilan dari sumber air, dan Bangunan pengambil air bersih atau air baku.

Sugeng, Kasubag Keuangan dan sekaligus Plt Bagian Umum Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Gunungkidul menyatakan, sarana irigari pertanian dan untuk pemanfaatan air lainnya mencapai 251 buah, dengan rincian jumlah Bendung ada 146, sumur dengan pompa ada 59 titik, dan bangunan pengambilan dari sumber air berjumlah 44.

“Sedangkan 2 sarana yang lain berbentuk Bangunan pengambil Irigasi dan Bangunan pengambil air bersih atau baku,” rinci dia, Rabu, (1/5/2016).

Dijelaskan, keseluruhan sarana tersebut menjadi tanggungan DPU dalam hal perawatannya, khususnya bidang pengairan. Sebaran posisinya, Bendung umumnya merupakan hasil rekayasa aliran anak sungai.

Dari sungai atau anak sungai tersebut dibuatlah bendung-bedung dengan memakai nama anak sungai atau kali itu sendiri, penamaan di antaranya juga menggunakan nama wilayah setempat. Seperti contohnya Bendung Banyunibo, Tegalsari, Semin, Bendung Semingkar Bunder Patuk, Bendung Ngawis Karangmojo dan lainnya.

Dominasi lelak bendung ini sedikitnya berada di tiga wilayah, yakni Kecamatan Patuk, Karangmojo dan Semin. Selain itu juga terdapat di beberapa wilayah lain seperti Ngawen, Gedangsari, Nglipar, Ponjong, Semanu, Wonosari dan beberapa di wilayah Playen.

Sedangkan adanya banyaknya sumur dengan pompa ini karena memang di wilayah Gunungkidul merupakan daerah karst yang memiliki goa dan sungai bawah tanah, Sumur dengan pompa umumnya berada di zona tengah seperti Wonosari dan Karangmojo, serta beberapa di Ponjong.

“Dilihat dari sisi perawatan, sumur dengan pompa ini merupakan sarana yang paling banyak membutuhkan biaya perbaikan,” ungkap Sutanto.

Dikatakan, DPU bertanggung jawab terhadap perawatan dan pengadaan spare part, meliputi pompa, filter udara, dan perangkat mesin pompa yang lainnya. Mekanisme penggantian suku cadang, kelompok pengguna air akan membuat surat resmi jika ada kerusakan.

Jika sumur pompa rusak, tutur Sugeng, piranti utama pompa yang bentuknya seperti peluru kendali harganya mahal, kisarannya 48 juta, 78 juta, dan lainnya. Tinggi rendah harga sesuai dengan kapasitasnya.

“Kalau debit tinggi diatas 40 liter per detik harganya dipastikan mahal. Bahkan pemasangan sangat hati-hati dan perlu seksama, begitu salah pasang dan terbakar tidak bisa terpakai lagi. Kita menggunakan produk buatan Jerman, Indonesia belum bisa buat. Biasanya rekanan memesan terlebih dahulu, antara 2 hingga 3 bulan,” jelasnya.

Diinformasikan, untuk tahun ini saja pembelian perangkat sumur pompa mencapai hampir satu milyar. Ia menganggap petani saat ini sudah diberi fasilitas yang memadai. Kecuali wilayah yang memang tidak ada potensi irigasi tersebut, seperti di wilayah Tepus, Saptosari, Panggang dan lainnya.

Menurutnya, saat ini potensi yang dapat diupayakan untuk menjadi sarana irigasi baru sudah sangat minim. Kalaupun ada efektifitas antara pembuatan dengan yang dihasilkan tidak seimbang. Disebutkan, hal ini tentunya juga berkaitan dengan ketersediaan dana.

Sedangkan untuk perawatan bendung, biasanya pada jalur pembagian air tertutup tanah dan rumput. Dalam setahun minimal dilakukan pembersihan sekali, kecuali jika terjadi longsoran tanah yang lumayan banyak.

Mengenai keberadaan Sungai Oya saat ini lebih mengarah ke wisata, ketika akan dilakukan pemanfaatan irigasi, misalnya pembuatan bendung, pembuatannya sangat membutuhkan biaya banyak. Menurutnya, karena tanah kanan kiri sungai lebih tinggi dari permukaan air sehingga tidak efektif. (Kandar)

Komentar

Komentar