Perhatian, Hulu Kasus Pembunuhan Dan Pembuangan Bayi Di Semanu

oleh -
Ilustrasi, sumber: Internet
iklan dispar
Ilustrasi, sumber: Internet
Ilustrasi, sumber: Internet

WONOSARI, (KH)— Belakangan ini banyak pihak prihatin dengan adanya kasus pembunuhan dan pembuangan bayi yang dilakukan seorang pelajar SMP di Semanu berinisial RK (16). Diawali hubungan asmaranya dengan Prs (20) hingga menyebabkan kehamilan yang tidak dikehendaki.

Tidak ingin menanggung malu dan belum siap dengan kehadiran si bayi, lantas RK berupaya menggugurkan bayi tersebut. Setelah RK melahirkan secara normal kemudian bayi dibunuh, lantas dibuang di area pemakaman wilayah setempat.

Kejadian luar biasa ini benar-benar membuat banyak pihak tak habis pikir. Potret suram kehidupan remaja di daerah menjadikan semua harus benar-benar waspada dengan pergaulan setiap anak dan remaja di sekeliling lingkungan.

Muhammad Thonthowi, Manajer Divisi Pengorganisasian Masyarakat dan Advokasi LSM Rifka Annisa menyebut kejadian ini faktor utamanya adalah perhatian. Terutama perhatian orang tua, kemudian lingkungan pergaulan atau masyarakat.

Menurutnya, kasus yang terjadi menambah rentetan panjang kekerasan seksual terhadap anak dan remaja dibawah umur khususnya di Gunungkidul, dan DIY pada umumnya. Dia mengatakan, orang tua tidak boleh abai terhadap persoalan remaja dan anak. Perhatian menjadi kuncinya.

Dirinya sangat prihatin dengan kasus yang seharusnya tidak terjadi, kalau, khususnya orang tua kemudian masyarakat peduli terhadap persoalan remaja dan anak. Diutarakan, ini akibat dari kelalaian orang tua dalam memberikan perhatian kepada anak mereka, pengasuhan anak tidak hanya cukup dengan memberikan uang jajan, biaya sekolah (SPP), dan fasilitas handphone,  tetapi juga memberikan perhatian secara psikis dan mental.

Dia memaparkan, masa remaja sering disebut saat untuk mencari jati diri, ingin diakui oleh komunitas dan lawan jenisnya. Ini butuh kontrol orang tua, sehingga tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan. Masyarakat juga harus ikut andil dalam hal ini. Jangan sampai tak acuh, karena remaja itu bukan anak kandungnya.

Sebagai LSM yang bergerak di bidang perlindungan anak dan perempuan pihaknya siap memberikan support. “Kami mendorong dan melakukan pendampingan agar anak ini tetap mendapat hak perlindungan. Salah satunya untuk pendidikannya, sembari proses hukum tetap berjalan,” urainya.

Dia menegaskan, RK adalah korban kekerasan seksual yang dilakukan orang dewasa, karena umurnya masih 16 tahun. Meski hubungan seksual terjadi lantaran suka sama suka, itu tetap masuk kategori kekerasan seksual, karena pasangannya  adalah remaja yang sudah masuk usia dewasa, yakni 20 tahun.

“Hubungan seksual dengan anak di bawah umur 18 tahun, itu berarti melakukan kekerasan seksual terhadap anak,” tandasnya.

Bahkan, tindakan menggugurkan janinnya itu adalah akibat dari kekerasan seksual yang dilakukan pasangannya. Menyingung faktor lain yang menjadi pendorong terjadinya kasus tersebut adalah fasilitas hp, maka penggunaan yang tanpa pengawasan sehingga mengakibatkan perilaku anak menyimpang seperti mengakses video dan gambar porno.

Sex atau mengenai kesehatan reproduksi, anak mendapat informasi dari  sumber yang tidak tepat, dari video dan gambar porno tadi. Sebenarnya masalah kesehatan reproduksi dapat diperoleh dari instansi atau lembaga terkait. “Seperti layanan konseling di Puskesmas atau tenaga kesehatan yang kompeten,” tambahnya.

Faktor lain yakni lingkungan ke dua, yaitu sekolah. Di samping orang tua, sekolah harus mempunyai andil besar menekan kejadian serupa, bagaimana sekolah dapat memberikan dan mengisi aktivitas positif bagi pelajar, materi kesehatan remaja juga memberikan tambahan materi budi pekerti luhur agar anak memiliki budi pekerti yang baik.

Lebih luas lagi, pinta dia, agar pemerintah bersama kelompok masyarakat dan ormas lebih waspada, jangan sampai kejadian ini terulang.

“Bukti tidak ada atau kurangnya perhatian dari keluarga, anak tersebut hamil tidak diketahui. Padahal secara fisik sangat kelihatan, dan secara psikologis juga kelihatan, harusnya bisa diketahui dari sikap dan perilakunya,” katanya lugas.

Thontowi yakin, hal-hal yang semestinya dapat diketahui karena terdeteksi secara dini, sehingga kasus ini bisa diantisipasi. Menurut pengamatannya, sesuai informasi yang diterima, sebenarnya masyarakat sudah mengingatkan kepada keluarga tentang pergaulan yang tidak sehat, namun karena sudah terlanjur terjadi, mestinya ini menjadi pelajaran bersama bagi masyarakat dan semua pihak.

Disinggung terkait penanganan kasusnya oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Gunungkidul, ia menilai sudah tepat, karena tidak melakukan penahan terhadap pelaku (RK), meski nanti pidana apa yang akan dijatuhkan diserahkan kembali ke pihak berwajib.

“Kita akan berikan pendampingan psikologis kepada anak tersebut, sebagai upaya agar anak tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Kita juga mendorong hak pendidikan tetap dilindungi yaitu untuk tetap mengikuti ujian,” harapnya

Di akhir perbincangan, ia menekankan, agar kasus ini menjadi pelajaran besar bagi siapapun, remaja, orang tua dan masyarakat. Mengingat, data yang ia miliki kasus perkawinan anak di Gunungkidul itu masih tergolong tinggi yakni ada 109 kasus pada tahun 2015 lalu. (Kandar)

Komentar

Komentar