Peningkatan Minat Baca Perlu Dukungan Perbup

oleh -
iklan dispar
Sarasehan Forum Perpustakaan Gunungkidul. KH/ Kandar
Sarasehan Forum Perpustakaan Gunungkidul. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Mengarah terciptanya budaya baca, serta mimpi menjadikan Kabupaten literasi, banyak hambatan dan tantangan yang dihadapi para pegiat minat baca di Gunungkidul. Terlebih Gerakan Indonesia Membaca (GIM) yang sempat digelar diharapkan tidak hanya sebatas seremonial belaka.

Instansi sebagai ujung tombaknya, Kantor Perpustakaan Dan Arsip Daerah (KPAD) Gunungkidul juga mengaku tak dapat melakukannya secara sendirian. Bersama forum komunitas perpustakaan pihaknya terus menggalakkan berbagai upaya agar minat baca masyarakat meningkat serta manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat.

“Gaung dari GIM juga belum tampak, Tahun 2017 mendatang akan kita buka sudut baca di dua lokasi. Kalau ada Perbup akan lebih mudah diterapkan disemua SKPD dan fasilitas publik,” kata Ali Ridlo MM dalam acara Sarasehan Forum Komunitas Perpustakaan di ruang rapat I Pemda Gunungkidul, Jum’at, (29/7/2016).

Dua lokasi tersebut terdapat di Rumah Sakit Umu Daerah (RSUD) dan Kantor Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu (KPMPT). Selain itu, realisasi program secara lebih luas, pihaknya bersama forum yang terdiri dari komunitas Gerakan Peduli Minat Baca (GPMB), Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), Asosiasi Tenaga Perpustakaan Seluruh Indonesia (ATPUSI), Perpusdes, Perpustakaan sekolah, dan lainnya terus mendorong lahirnya kebijakan yang juga berdampak pada anggaran, baik di lingkup Pemerintah desa dan institusi pendidikan untuk lebih memperhatikan keberadaan perpustakaan.

“Salah satunya alokasi anggaran kita harap benar-benar terpenuhi minimal 5 persen dari total anggaran di sekolah, begitu juga dengan desa, agar memasukkan alokasi untuk Perpusdes di APBDesnya,” tambah Ali.

Berkaca pada Perpustakaan terbaik nasional,  sambung Ali, peningkatan minat baca di kota Surabaya menunjukkan angka yang mencolok, karena dukungan anggaran juga tidak sedikit. Pada 2011 hanya mencapai 16 persen saja, tetapi di 2015 angka minat baca mencapai 65 persen.

Sementara itu Pj Sekda Gunungkidul, Drs Supartono menyampaikan, selain perihal anggaran harus ada motivasi untuk menyadarkan menyadarkan masyarakat untuk membaca. Pihaknya mengaku hal tersebut juga menjadi komitmen Pemda Gunungkidul.

“Kita sadar masih tertinggal masalah melek huruf, kita harap teman-teman pegiat di lapangan bekerja keras dan cerdas meski anggaran masih menjadi tantangan,” ujar Supartono.

Pihaknya berharap, melalui forum perpustakaan tercipta misi bersama untuk meningkatkan budaya baca, dan perkembangan perpustakaan demi kesejahteraan masyarakat. (Kandar)

Komentar

Komentar