Novel MARS, Aisworo Ang Dan Pandangannya Tentang Pendidikan

oleh -
Aisworo Ang, Penulis novel MARS yang diangkat ke layar lebar. KH/ Kandar
kadhung tresno
Aisworo Ang, Penulis novel MARS yang diangkat ke layar lebar. KH/ Kandar
Aisworo Ang, Penulis novel MARS yang diangkat ke layar lebar. KH/ Kandar

TEPUS, (KH)— Pendidikan, merupakan tema besar Novel MARS yang ditulis Aisworo Ang. Berangkat dari temuannya selama menjadi pendidik di SMK Muhammadiyah Tepus, gambaran problematika masyarakat terhadap pendidikan, kasus-kasus nyata di lapangan  ia angkat kedalam karya fiksi.

Karena faktor kondisi ekonomi sosial masyarakat Gunungkidul, sehingga pendidikan tidak menjadi prioritas atau kebutuhan dasar warga. Ketika ia bergerilya ke warga sekitar sekolah untuk melakukan promosi dan menyampaikan ajakan untuk bersekolah, banyak diantara orang tua menolak, lebih memilih anaknya supaya bekerja untuk laki-laki kemudian menikah dini bagi perempuan. Bukan bertujuan menunjukkan fakta negatif daerahnya semata, tetapi sedikit banyak gambaran upaya solusi diselipkan pada novel tersebut.

Novel dengan setting waktu 20 tahun yang lalu itu juga menceritakan fenomena populer Gunungkidul, yaitu gantung diri. Fakta mengenai kepercayaan penyebab adanya perbuatan nekat tersebut karena pulung gantung memang ada.

Kenyataannya demikian, pada beberapa sumber buku, secara ilmiah tragedi itu disebabkan adanya tekanan penderitaan yang berlipat mulai dari kemiskinan, sakit keras, tanah yang tandus, serta seolah terasing di kehidupan sosial. Atau adanya depresi akibat kesenjangan ekonomi.

“Inilah pulung gantungnya, pemicu pokok gantung diri juga saya sebut di novel itu, sebisa mungkin ada uraian upaya pemecahan pula. Andaikan Pulung Gantung itu menjatuhi seseorang yang memiliki istri cantik, kaya, ia sendiri spiritualnya bagus maka pulung gantung tidak akan mempan,” kata Aisworo sambil tersenyum saat ditemui beberapa waktu lalu.

Disinggung mengenai pembuatan film layar lebar yang mengangkat novel karyanya, ia berpendapat sangat bagus. Terbukti, ribuan penonton tersentuh hingga meneteskan air mata. Hal tersebut langsung ia temui saat diundang ke Jakarta pada pemutaran perdana yang dihadiri beberapa menteri salah satunya Menteri pendidikan.

“Tetapi sayangnya, sebagai penulis saya anggap ada beberapa hal yang tidak sesuai, antara sosok ibu Tupon di film dan novel tidak sesuai, Tupon dalam film wajahnya berkesan intelektual, sedangkan dalam novel itu sebagai sosok yang tertinggal, bodoh, tidak tahu apa-apa. apalagi Kinaryosih dalam film tidak bisa logat jawa medok,” ulasnya.

Selain itu ada beberapa adegan yang ada di dalam novel tetapi tidak muncul di film. Terlepas dari itu semua ia tetap bangga bahwa karyanya menarik serta layak untuk diangkat. Ada produser film yang bertaruh hingga 5 milyar dalam proses produksi dan promosinya.

Sesuai profesinya, sebagai guru, ia mengaku memang memiliki trust dalam dunia pendidikan dan tulis menulis. Menurutnya, menulis merupakan sarana mengolah emosional dan spiritual. Ketika tulisan enak dibaca ada kepuasan tersendiri, dilihat dari sisi intelektual menulis jelas memberikan banyak dampak manfaat yang baik, karena bagaimanapun sebelum menulis harus banyak membaca terlebih dahulu.

“Penulis yang hebat pastilah ia pembaca yang baik pula, tidak mungkin orang yang bisa menulis buku tidak membaca banyak buku, kalaupun ada sangat-sangat jarang. Paling tidak apabila membuat 1 buku minimal ia membaca 10 buku,” terang Guru Agama ini.

Dikaitkan dengan dunia pendidikan, buku dan kegiatan baca-tulis dianggapnya sebuah kunci, membicarakan hal keberhasilan sebuah pendidikan, entah mau menggunakan teori pendidikan terbaik pun di dunia ini, entah dari Finlandia misalnya, tanpa kembali ke buku, hasilnya pasti masih jauh dari harapan.

Sudah saatnya merubah mindset mengenai teori dan praktek dunia pendidikan, ia sangat sepakat dengan program Menteri Pendidikan, yakni 15 menit membaca buku dalam sehari. Bentuk dukungan ini dapat dilakukan dengan beberapa inovasi untuk lebih maksimal.

“Misalnya saat pelajar SMP masuk ke jenjang SMA, siswa diwajibkan membawa satu buku, lalu di taruh disudut kelas, misal ada 30 siswa otomatis ada 30 buku bisa untuk bergantian. Kemudian harus ada pemaksaan 15 menit membaca buku,” urainya.

MOS bukan tidak penting, jelas dia, tetapi apabila anggaran siswa untuk membeli berbagai keperluan pelaksanaannya dialihkan untuk beli buku manfaatnya jauh lebih baik. Kemudian, siswa diwajibkan setiap satu semester meresensi dua buku.

“Dalam satu tahun sudah empat buku, kalau sungguh-sungguh ini sudah luar biasa, karena membaca saja persentase yang masuk bisa dipahami dari buku itu paling 20 persen, kalau melakukan resensi kemungkinan besar lebih dari 50 persen,” papar dia. (Kandar)

Komentar

Komentar