Musim Kemarau, Pengelola Suaka Margasatwa Paliyan Rutin Kasih Minum Kawanan Monyet

oleh -
iklan dispar

PALIYAN, (KH),— Musim kemarau di Gunungkidul tak hanya berdampak terhadap manusia. Namun kemarau yang telah terjadi beberapa bulan ini juga berpengaruh terhadap kelangsungan hidup kera ekor panjang di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Paliyan.

Penanggungjawab proyek kerjasama Mitsui Sumitomo Insurance Group (MSIG) dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Gunawan Setiaji, Kamis (27/8/2020) mengatakan, daya dukung cadangan air berupa dua telaga yang berada di kawasan seluas 460 hektar ini telah mengering.

“Kami rutin menyediakan air di ember-ember yang ditempatkan di beberapa titik. Disediakam untuk kawanan kera yang sewaktu-waktu datang untuk minum,” kata Gunawan.

Jika tidak, kelangsungan hidup sekitar 5 koloni kera terancam. Menurut Gunawan, populasi dari 5 koloni kera itu ada 500-an ekor. Namun habitatnya masih banyak yang tersebar di luar SM Paliyan.

Untuk menjaga keseimbangan ekosistem SM termasuk kelangsungan hidup kera, BKSDA dan MSIG sebelumnya juga sudah menanam ribuan pohon buah. Hal tersebut dilakukan agar kawanan kera tidak menyerang lahan pertanian warga.

“Sebab kawasan SM Paliyan berdekatan dengan lahan pertanian,” imbuh Gunawan.

Pihaknya juga meminta petani penggarap lahan baik di kawasan SM maupun di sekitar SM agar memiliki kesadaran bersedia berbagi sumber bahan pangan diantaranya buah-buahan yang sengaja ditanam bagi koloni kera. Masyarakat petani diperbolehkan memetik aneka buah hanya saja tidak berlebihan.

Sambung Gunawan, penanaman sekitar 15 jenis pohon buah merupakan program rehabilitasi kerjasama antara BKSDA dan MSIG. Jenis buahnya antara lain, jambu monyet, nangka, pisang, dan lain-lain. Tujuannya tak lain untuk memberi daya dukung hidup bagi berbagai satwa. Keberhasilannya tak lepas dari dukungan masyarakat petani di sekitar SM.

Ia menilai kesadaran petani sudah ada untuk tidak berlebihan memanen tanaman buah, hanya saja masih saja ada oknum petani yang kesadarannya masih perlu dipupuk.

“Jangan sampai kawanan kera masuk ke pemukiman warga dan lahan pertanian,” terang Gunawan lagi.

Lebih jauh disampaikan, populasi kera ekor panjang dari tahun ke tahun tergolong stabil. Menurut pengamatannya belum pernah terjadi lonjakan populasi yang signifikan.

Keberadaan kera, diungkapkan Gunawan, dapat dijadikan parameter kelangsungan hidup manusia. Selama kera masih ada, dapat dipastikan pula kelangsungan hidup manusia masih berlangsung.

“Sebab, daya dukung hidup kebutuhan kera hampir sama dengan manusia,” (Kandar)

Komentar

Komentar