Merdeka Bagi Mereka yang Hidupnya Belum Merdeka

oleh -
Hariyati sedang memunggut limbah plastik. Foto : KH/ Dwianjani
iklan dispar
Hariyati sedang memunggut limbah plastik. Foto : KH/ Dwianjani
Hariyati sedang memunggut limbah plastik. Foto : KH/ Dwianjani

WONOSARI,(KH) — Pesta Hari Raya Kemerdekaan Bangsa Indonesia sudah usai. Masing-masing daerah menunjukan bukti sikap nasionalisme dengan mengadakan berbagai lomba. Kegiatan tersebut memberikan corak merah putih, baik di rumah atau di wilayah sekitar tempat tinggal mereka.

Teriakan “merdeka” pada setiap perayaan Kemerdekaan Negara Indonesia kerap menimbulkan pertanyaan dalam hati, apakah kita benar-benar merdeka? Apakah definisi dari kata Merdeka? Atau bagaimana bentuk merdeka sesungguhnya di masa modern ini.

Mungkin Kabupaten Gunungkidul adalah bagian kecil dari luasnya wilayah kepulauan Indonesia yang sangat kaya. Beberapa potret kehidupan nampak di saat bersamaan negeri ini merayakan ulang tahunnya.

Sejumlah pemulung masih sibuk mencari barang-barang bekas di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPAS) di Padukuhan Wukirsari, Desa Baleharjo, Wonosari. Saat itu bersamaan berlangsung Upacara Bendera yang digelar di lapangan Pemda. Nampak dari wajah mereka rasa lelah dan kepanasan akibat terik matahari. Mengingat saat itu jam menunjukan pukul 10.00 WIB. Bau busuk yang berasal dari sampah yang belum digiling dengan alat berat, menimbulkan ratusan, bahkan ribuan lalat menyertai para pemulung tersebut memungut sampah. Kondisi ini, merupakan kondisi yang setiap hari mereka rasakan.

Bukannya mereka lupa, bahwa saat itu merupakan hari peringatan sang proklamator menyatakan kemerdekaan. Bagi para pengais sampah tersebut, kehidupan keluarganya harus tetap berjalan dengan menjual barang-barang bekas dari TPAS Wukirsari. Dari sejumlah pemulung yang sedang sibuk memilih barang-barang yang dirasa laku, bila dijual di antaranya nampak tidak menggunakan sejumlah pelindung badan, seperti sepatu boots dan kaos tangan. Di antara tumpukan sampah, tentunya benda-benda tajam pasti ada.

Salah satu pemulung, Suryani (53) mengaku dirinya tahu betul bila tanggal 17 Agustus merupakan Hari Kemerdekaan Indonesia. Bahkan ketika ditanya berapa umur bangsa di ulang tahun kali ini ia menyebutkan usia 70 tahun. Ia mengaku tetap menjalankan pekerjaan ini di hari apapun, bahkan saat Hari Raya Keagamaan. Bagi salah seorang warga Wukirsai ini, tidak ada pilihan lain bagi dirinya untuk bisa mendapatkan uang guna memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

“Kalau Idul Fitri, ya sore saya ke sininya. Mau bagaimana lagi mbak. Suami saya juga hanya buruh. Sehari saya bisa membawa pulang uang Rp 30 ribu,” ucapnya sembari melepaskan penutup kepalanya, demi menghindari rasa bau busuk dari tumpukan sampah.

Merdeka bisa dikatakan sebagai sebuah istilah untuk menggambarkan rakyat yang bebas dari belenggu penjajah, dapat hidup layak, manusiawi, terpuji, dan beradab. Rakyat yang belum merdeka, menunjukkan negara yang belum merdeka pula. Begitulah rumus sederhana yang saat ini dirasa memenuhi aspek dari arti kata merdeka. Namun, Suryani tidak mau mengkambing-hitamkan kemampuan pemerintah yang belum bisa membantunya untuk bisa hidup lebih layak. Baginya, dirinya sendiri yang bertanggung jawab langsung untuk hidupnya, tanpa harus menuding kelemahan demi kelemahan pemerintah. Definisi merdeka bagi Suryani cukup sederhana, yakni negara yang sudah terbebas dari jajahan negara lain, itu dipandang sudah sangat membahagiakan bagi rakyat kecil sepertinya.

“Senang mbak, mungkin kalau belum merdeka, kita jauh lebih menderita lagi,” imbuhnya.

Hampir sama dengan Suryanti, Hariyati warga Kampung, Ngawen nampak sibuk mengumpulkan botol air mineral bekas yang mengotori lapangan Ngawen usai upacara pengibaran bendera. Ia juga mengajak serta anaknya yang berusia 6 tahun untuk memungut sampah yang laku untuk dijual itu. Hariyati yang mengandalkan hidupnya dengan bercocok tanam, mencirikan arti kemerdekaan yang nyaris sama dengan Suryani, meski juga sama-sama tidak ingin menyalahkan pemerintah daerah hingga pusat tentang kondisi ekonominya. Hariyati berharap kasus-kasus korupsi tidak lagi ia dengar. Baginya, terungkapnya kasus-kasus korupsi yang melibatkan para pejabat negara, cukup menyakiti hati rakyat sepertinya.

“Saya cuma berharap agar pemerintah bisa bekerja bersih, kasihan yang seperti kami ini,” imbuhnya.

Setelah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, Sukarno dan Mohammad Hatta mendambakan sumber daya alam Indonesia dikelola oleh anak bangsa sendiri. Untuk itulah, pemimpin RI tersebut mengirim sejumlah mahasiswa belajar ke negara-negara lain. Bapak bangsa ini berharap, sekembalinya para pemuda-pemudi ini bisa membangun negeri dan mengajarkan kepada anak bangsa lainnya, sehingga bangsa Indonesia menjadi makmur, kuat, tidak tergantung oleh bangsa lain, dan hidup berkecukupan dapat merata. (Maria Dwianjani)

Komentar

Komentar