Melihat Pentas Wayang Beber, Warisan Seni Eksentrik Di Gunungkidul

oleh -
Pertunjukan Wayang Beber Remeng Mangun Jaya di Padukuhan Gelaran, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo. KH/ Kandar.
iklan dispar
Pertunjukan Wayang Beber Remeng Mangun Jaya di Padukuhan Gelaran, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo. KH/ Kandar.

KARANGMOJO, (KH),– Gunungkidul memiliki ‘warisan’ kesenian yang terbilang langka, eksotis atau eksentrik. Kesenian tersebut berupa wayang beber. Menurut beberapa sumber wayang beber kuno atau yang berumur tua hanya ada dua, satu di Pacitan dan satu lagi di Padukuhan Gelaran II, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul.

Beberapa waktu lalu, tepatnya, Kamis, (27/7/2017) wayang beber dipentaskan. Tak hanya keberadaan wayang beber yang langka, pementasannya pun juga terbilang teramat jarang. Wayang beber dipentaskan melengkapi rangkaian kegiatan gelar budaya di Padukuhan Gelaran II, Desa Bejiharjo.

Meski pementasan beberapa waktu lalu menggunakan wayang duplikasi, tetapi banyak penonton yang hadir. Ditengah kerumunan penonton terdapat pula beberapa warga dari luar negeri turut menyaksikan.

Pementasan wayang beber biasanya menampilkan satu cerita atau satu lakon saja, yakni mengenai kisah asmara Raden Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji atau juga bisa disebut Galuh Candra Kirana. Sebelum pementasan, Sang Dalang, Karmanto, sedikit mengulas mengenai Wayang Beber.

“Wayang beber dibuat tahun 1.282 dengan Condro Sengkolo. Lalu dilanjutkan Raden Sungging Prabangkara. Wayang Beber ini bernama Ki Remeng Mangunjaya,” tutur Karmanto.

Komentar

Komentar