GUNUNGKIDUL, (KH),– Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Gunungkidul menggelar Lomba Gunungan di Taman Budaya Gunungkidul, Senin (28/9/2026). Sebanyak 16 kelompok ambil bagian dalam kegiatan tersebut setelah sebelumnya mengikuti proses pendaftaran.
Lomba tersebut menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk menampilkan kreativitas sekaligus mengenalkan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi gunungan.
Salah satu peserta berasal dari Kepek, Kapanewon Saptosari. Kelompok yang mengusung nama Gedebog Sakti Saptosari tersebut membawa gunungan yang tidak hanya disusun sebagai karya visual, tetapi juga memiliki filosofi yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan alam.
Perwakilan kelompok, Sumaryanto, menjelaskan bahwa setiap unsur yang digunakan dalam gunungan memiliki makna tersendiri. Mulai dari cikal, tanaman pangan utama seperti pari dan jagung, umbi-umbian berupa telo dan kimpul, hingga berbagai bumbu, sayuran dan buah.
“Keseluruhan unsur dalam gunungan mulai dari cikal, tanaman pangan utama (pari, jagung), umbi-umbian (telo, kimpul), bumbu-bumbuan (bawang, lombok), hingga sayur dan buah (waluh, gedang, tomat, terong, kacang panjang) serta penutupnya (janur, kambil gading)—membentuk sebuah simfoni kehidupan,” jelas Sumaryanto.
Menurutnya, susunan tersebut menggambarkan keterhubungan berbagai unsur kehidupan. Pangan yang tumbuh dari bumi menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia, sekaligus mengingatkan tentang hubungan manusia dengan alam.
Makna itu kemudian berlanjut pada tradisi ngalap berkah, ketika masyarakat memperebutkan isi gunungan setelah prosesi puncak kegiatan.
Sumaryanto menjelaskan, tradisi tersebut tidak semata-mata dimaknai sebagai upaya mendapatkan materi. Lebih dari itu, ngalap berkah menjadi simbol perebutan berkah, ilmu dan kebaikan yang berasal dari Bumi Pertiwi.
“Tradisi ‘ngalap berkah’ atau memperebutkan isi gunungan pada puncaknya bukan bermakna kesitimewaan materi semata, melainkan simbolis perebutan berkah, ilmu, dan kebaikan yang berasal dari Bumi Pertiwi,” ujarnya.
Filosofi tersebut, lanjutnya, menjadi pengingat agar manusia tetap menjaga keseimbangan alam, menjalani kehidupan secara bersahaja dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Bagi Kelompok Gedebog Sakti Saptosari, keikutsertaan dalam lomba juga bukan semata-mata untuk mengejar gelar juara. Mereka ingin terlibat langsung dalam kegiatan budaya sekaligus mengambil bagian dalam upaya pelestarian tradisi.
“Kelompok kami ikut karena ingin berpartisipasi dan terlibat aktif dalam pelestarian tradisi. Kemenangan atau juara bukan menjadi poin utamanya,” kata Sumaryanto.
Keikutsertaan kelompok asal Kepek tersebut sekaligus menunjukkan bahwa tradisi gunungan masih memiliki ruang untuk terus dihidupkan melalui keterlibatan masyarakat.
Di tengah perubahan zaman, gunungan tidak hanya dapat dipandang sebagai bagian dari prosesi budaya, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan pesan tentang pangan, alam, kehidupan, kebersamaan dan rasa syukur.
Lomba yang digelar Disbud Gunungkidul tersebut menjadi salah satu ruang pertemuan antara kreativitas masyarakat dan tradisi. Dari karya yang dibawa masing-masing kelompok, masyarakat tidak hanya dapat melihat bentuk dan keindahannya, tetapi juga memahami nilai yang berada di balik setiap unsur yang disajikan.
Dengan demikian, keikutsertaan dalam lomba bukan sekadar persoalan menang atau kalah. Ada upaya untuk menjaga agar simbol, filosofi dan nilai yang terkandung dalam tradisi gunungan tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.





