Lembu

oleh -
Si blengoh. Ingon-ingon lembu rajakaya para among tani. KH/Wg.
ucapan natal smkn 3 wonosari
Arca Lembu Nandi di Situs Kali Banteng WIladeg bukti sato-kewan ini sangat dimuliakan para among tani. KH/Wg.

Bahkan, pada awal waktu, manusia dan hewan adalah hibridasi. Darah manusia dan hewan ‘sama’. Manusia bisa dideskripsikan dengan “manusia-hewan” atau sebaliknya, hewan digambarkan dengan “hewan-manusia” (mungkin sekarang pun definisi ini masih ‘up to date’; istilah apa lagi yang lebih pas untuk menggambarkan prilaku manusia yang suka mencuri kalau bukan “manusia-kethek”, tangannya suka mencuri, suka korupsi?; istilah apalagi yang pas digunakan untuk “maribasakke” (mengumpamakan) manusia sok pintar yang tak mau berguru kepada manusia yang dianggap bodoh jika bukan ‘kebo ora gelem nusu marang gudele’?).

Nalar berpasang-pasangan antara manusia dan hewan, meskipun terlalu strukturatif-akut, memang demikian adanya. Genetika kemanusiaan yang mengalir dalam darah hewan saya yakin sekental genetika kehewanan dalam darah manusia. Eugen kemurnian dalam tubuh hewan, saya bertaruh, secemerlang kemurnian manusia.

Dan kemungkinan besar pertaruhan saya kalah.

Namun, yang mengkhawatirkan bagi kulawangsa manusia adalah, justru, kekalahannya jika bertanding satu-satu dengan hewan. Manusia horor bagi hewan, begitu sebaliknya. Sementara itu kemanusiaan dalam diri hewan bisa membesar tiada hingga, menjadikan hewan memenangi pertandingan. Karena, menurut saya, manusia dan hewan adalah blasteran. Jika fisik manusia mengalami kerusakan, ‘siapa’ lagi yang akan memplantasi jika bukan pasangannya: sato-kewan ini?

Unsur-unsur fisiologis manusia dan hewan saling mengisi-menggantikan. Rekayasa genetika ‘mencampurkan-menyilangkan’ dilakukan, baik atas apologi agar kulawangsa manusia tidak mengalami kekalahan versus sato-kewan atau agar sekulawangsa manusia bisa ‘ngakali’ kulawangsa lain (hewan dan tumbuhan) terus-menerus: politik “adu-kumba”; tentu demi kepentingannya. Pemblasteran dilakukan antara Lembu Jawa dengan Lembu Benggala. Atau Lembu Jawa dengan Lembu Australia. Yang awalnya terbelah dua, yang memecah namun sebenarnya berpasangan, lantas diblasterkan. Keturunan yang dihasilkan mewarisi genetika Yang-Dua atau Yang-Pasangan dan telah diblasterkan tadi. Sejalan dengan pemblasteran Lembu Amiluhur dengan seorang “simbok”, kemudian menurunkan anak “Lembu Peteng”.

Peranakannya (‘pranakane’) adalah ‘biji’ kehidupan yang dinaungi kegelapan (‘ima’); antara Lembu Andhini yang-kelangitan dengan yang-kebumian.

Begitu lah: lembu diblaster. Pun halnya tumbuhan, dan manusia. Mereka dicampurkan. Disilangkan. Dicampuhkan. Mungkin demi satu alasan arkais yang tetap kekinian: memblaster adalah teknik untuk menghasilkan ‘kaya’ atau ‘pala’ atau ‘winih’ atau ‘bibit’ (hasil) yang memuaskan dan membanggakan. Yaitu pranakan ‘supra’. Winih super. Bibit unggul. Bagaimana mampu menurunkan genetika super (eugen) akan selalu direkayasa dan dilakukan oleh kulawangsa manusia. Umumnya, genetika lembu super bercirikan langit, keturunan bathara-bathari. Berada di luar batas kenormalan manusia bumi. Di kedalaman sains yang dalam.

Jika nilai keunggulannya dicairkan dalam bentuk harta-kebendaan (uang), maka keturunan super sebagai hasil pemblasteran tadi akan memenuhi wajan-kekayaan: “bandha bandhu”. Mahal harganya. Mahal biaya memerolehnya. Mereka ibarat raja yang memiliki super-kekayaan. Maka, disebut lah mereka, lembu ingon-ingon itu, “rajakaya”. Berpasangan dengan seorang raja yang biasanya juga kaya.

Seorang raja (pemimpin) yang miskin, juga (maaf) petani miskin, mungkin disebabkan karena kebunnya tak kaya dan tak menghasilkan “raja-kaya”, secara psikis merasa tak memiliki “kapital” sehingga tak bisa mengatur rakyat dan kewilayahannya. Seorang among-tani tanpa rajakaya akan terganggu pikirannya. Raja-kaya adalah simbol kekuasaan seorang (raja), pun seorang petani. Di waktu sakral tertentu (ewuh, upacara-suci; di konteks jaman sekarang mungkin berupa upacara-hari-pengorbanan) para raja/pemimpin perlu dan penting menunjukkan ‘kekayaannya’ yang berupa ‘penyembelihan raja kaya’ (secara fisik rajakaya para pemimpin memang unggul dibanding yang lain) kemudian dibagikan kepada rakyatnya; mungkin laku-suci ini seperti upacara ‘aswamedha’ (penyembelihan kuda) yang dilakukan oleh Yudhistira kemudian dagingnya dibagi-bagikan kepada rakyat dan negeri tetangga.

Seorang petani perlu menunjukkan bahwa hasil kerja kerasnya “ngingu rajakaya” dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya: makan, sekolah, biaya berobat, dll. Bahkan hingga dibagi-bagikan kepada tetangga dalam naungan ‘berkat-slametan’ di waktu mitis tertentu (ewuh; duwe-gawe). Jika seorang raja/pemimpin memiliki rajakaya melimpah, tenang psikisnya. Jika seorang among tani mempunyai rajakaya, dan juga “iwen-iwen”, jenjem batinnya.

Agar memeroleh kepuasan-batin dan menghasilkan ‘kaya’ yang super, meskipun lembu-Simbok-saya bukan bibit-super, maka Simbok harus memahami ‘kawruh’ tentang perlembuan. Simbok saya harus memahami psikologi-klinis dan psikologi-seksual lembunya: Si Blengoh itu.

Psikologi-klinis penting bagi tahap perkembangan manusia. Psikologi seksual terlebih lagi. Hewan-hewan pun sama dengan manusia (sama-sama mamalia; “rationing-animal”), apalagi bagi para kulawangsa tani di desa seperti simbok saya yang ‘ngingu lembu, “iwen-iwen”, dan ‘wedhus’ di kandangnya. Gejala psikosomatis seekor lembu (estri) yang sedang menginginkan ‘dilakeni’ (dikawini) oleh seekor lembu jalu benar-benar dipahami oleh Simbok saya. “Wanci-laki” katanya. Hanya, tentu saja Simbok saya tidak menggunakan istilah-istilah psikologi. Simbok menggunakan ilmu “niteni” terhadap prilaku Blengoh dan lembu-lembu “ingon-ingon” Simbok sebelumnya. Prilaku lembu yang sedang “brai”. Sama persis dengan manusia atau dewa atau bathara yang sedang ‘brai’.

Komentar

Komentar