Lembu

oleh -
Si blengoh. Ingon-ingon lembu rajakaya para among tani. KH/Wg.
ucapan natal smkn 3 wonosari
Arca Lembu Nandi di Situs Kalibanteng Wiladeg. KH/Wg.

Bathari Uma, menurut sudut-memandang Bathara Guru, sedang dalam kondisi “wanci-laki”. Hanya saja, sebab sedang disaksikan Lembu Andhini, tentu adegan “nglakeni-dilakeni” tak pantas. Kala-purwa itu Bathara Guru dan Bathari Uma sedang berjalan-jalan menikmati keindahan (M)Arcapada menunggangi Lembu-Andhini. Lembu Andhini (Wahana Bathara Guru) adalah saksi tatkala Bathara Guru benar-benar ‘adreng’ dan ‘brai’ kepada Uma, menginginkan bersenggama dengannya. Bathari Uma menolak, karena tak elok persenggamaan dilakukan di atas Lembu Andhini. Di atas bumi yang dikelilingi. Tak kuat ditahan, tumpah lah ‘kama’ Bathara Guru, terimbas sorot keindahan fisiologis Bathari Uma yang tersibak. Itu, betisnya itu, sungguh elok. Sungguh menggelorakan.

“Wanci-dilakeni” tentu berhubungan dengan perubahan fisis lembu ‘wadu’ (betina): suasana tubuh dan alat kelaminnya!

Simbok menginfokan: umur lembu yang minta ‘dilakeni’ kisaran 2 tahunan lebih. ‘Untune’ (giginya) tinggal yang besar dan di tengah-tengah. “Pawadonane” (alat kelaminnya) tampak “abuh” (bengkak) dan daging bagian dalamnya (bagian dalam ‘pawadonan’ itu tadi) memerah, susunya membesar. Seperti tanda-tanda fisis pada manusia, kan? Si Lembu sering mengeluarkan air-kencing. Polah-tingkahnya “gedebugan”, merasa tak tenang. Tak ‘jenjem’. Ia sering berteriak: “bengah-bengoh”. Jika di sekitarnya mengada lembu betina lain, maka akan ditendanginya. Namun jika di sekitarnya terdapat lembu-jantan maka ia akan menghampiri. Suasana ini akan berlangsung 2-3 hari. “Aja nganti kaseb!”, Simbok menambahkan. Kalau sampai terlambat “dilakeni”, “dilakekake”, Si Lembu akan “mutung” dan tak mau lagi “dilakeni”, dan kalau pun bisa maka “wiji”-nya tak akan menjadi bakal. ‘Pawadonan’ Lembu akan tertutup rapat (“mingkem”).

Akan terbuka lagi jika masuk “wanci-laki” berikutnya. Jika tidak, maka “mantri kewan” yang berbicara.

Mantri kewan di desa Simbok saya menerima panggilan darurat “lembu njaluk kawin” siang maupun malam hari. Mantri kewan menggantikan peran lembu-jantan dalam hal “nglakeni” lembu-betina, tentu setelah Si Blengoh “nguah-nguoh” minta dikawinkan (“kapacek”). Mantri kewan perannya sebagai “stunt-men” lembu jantan. Peran “planangan” lembu-jantan diganti olehnya dengan suntik. Rekayasa bibit lembu menggantikan bibit lembu yang sesungguhnya dari seekor pejantan (maklum, ini jaman rekayasa genetika). Kawin-suntik. “Lembu wadon dilakeni suntik”. Maka dari itu, seorang mantri suntik mengetahui perwatakan lembu-betina yang sedang ‘brai’ dan ingin sekali segera ‘dilakeni’ serta lembu-jantan yang berada dalam suasana hendak ‘nglakeni’. Lembu-jantan memiliki perwatakan: jika lembu-betina bukan dalam masa “wanci-laki” maka lembu-jantan telah mengetahuinya, dan tak mau mendekat.

Jika hendak “nglakeni”, seekor lembu jantan biasa “ngambus-ambus” terlebih dulu ‘pawadonan’ (alat kelamin) lembu-betina; dengan laku demikian lembu-jantan akan mengetahui bahwa lembu-betina sedang dalam “wanci-laki” atau bukan, atau ‘belum’. Jika lembu-betina dan lembu-jantan berada dalam kerumunan, di antara mereka sedang “wanci laki” maka bisa terjadi “nglakeni-dilakeni”, atau jika di antara mereka tak sedang “wanci-laki”, maka aksi “nglakeni-dilakeni” tak terjadi (kadang di pasar hewan Siyono atau Semanu terjadi).

Mantri-hewan atau dokter-hewan atau “dhukun-kewan” adalah konselor. Jika Si Blengoh telah “dilakeni” oleh mantri hewan desa simbok saya melalui jarum-suntik namun belum membuahkan hasil, maka simbok akan berkonsultasi dengannya. Simbok menunggu. Atau mungkin simbok akan meminta si mantri-hewan untuk “nglakeni” Blengoh untuk kedua kalinya. Begitu seterusnya.

Harapan simbok saya: agar Si Blengoh segera mampu menurunkan pranakan. Pranakan adalah ‘kaya’. Pranakan adalah ‘panen’ atau ‘pugutan-pala’ sekaligus ‘winih’. Pranakan-pranakan lembu akan diumbar di sekitaran kandang, kelak jika beranjak dewasa akan ‘dicongok’ dan ‘ditali’ menggunakan ‘dhadhung’, dan akan menggantikan peran induknya membantu dengan “lulut” dan “manut” kehidupan simbok saya. Tanpa pranakan-pranakan bertipe Blengoh dan teman-temannya, kehidupan simbok saya yang pekerjaannya “among-tani” akan terasa hampa. Tak ada harapan. Penuh serba-kurang. Karena simbok merasa tak punya pasangan.

Oleh karena itu, ‘ndhadhung’ merupakan teknik yang dimiliki oleh para among-tani untuk mengikat, melokalisasi, atau mendomestifikasi ingon-ingon lembu: pasangannya ini, menggunakan benda-totemik: ‘dhadhung’. Para among-tani membutuhkan ikatan dengan pasangannya, menciptakan teknik ikatan, dan suatu saat tertentu jika para among-tani perlu untuk memisahkan ‘ikatan-lahiriyah’ dengan hewan totemiknya ini (waktu ewuh) maka mereka juga akan menggunakan ‘dhadhung’ untuk merebahkannya, menjungkalkannya: menyembelihnya (menciptakan ikatan-batin berikutnya). Para among tani ‘ndhadhung’ para kulawangsa dan kulawarga dalam ikatan-ikatan arkais melalui daging lembu yang disembelih (dikorbankan) bersama, diolah bersama, dan “dikembul” bersama atau dibagikan rata ke seluruh penjuru desa/kraton/negeri.

Dan, sejak awal hingga akhirnya, lembu-lembu dikorbankan demi ‘kobar’ manusia.

Pengorbanan para bibit-kawit desa (leluhur, roh) yang ahli di bidang perlembuan beserta sistem totemisnya diwakili oleh penokohan Kyai Dhadhung Awuk dan Nyai Dhadhung Awuk. Mereka berdua adalah pasangan-roh. Mereka ‘rasul’ (baca: rahsa). Yaitu roh yang telah ‘awuk’: mati materiilnya, “alaya”: layu fisiknya. Mereka adalah ikatan-ikatan “dhadhung” ruhaniyah kulawangsa tani, kulawangsa pamong-lembu. Mereka disuguhi “among-among” oleh para pamong-lembu pada waktu-mitis tertentu, karena mereka lah “pamong-purwa” para lembu secara lembut.

Justru kelembutan lembu terletak pada aksi-kerjanya di wilayah-lahiriyah, sebagai bagian tak terpisahkan dari aksi-kerja-keseharian kulawangsa tani: bersama-sama bekerja mengolah tanah, mengolah hasil produksi pertanian, serta mendistribusikannya. Namun aksi-kerja para lembu berkurang drastis; selaras dengan jumlah dan aksi-kerja para lembu-lanang atau lembu-pamacek. Di Gunungkidul, kerja mluku-nggaru para among-tani sedikit sekali yang masih mengajak lembu. Kebanyakan kerja ini diganti dengan mesin (traktor). Dimensi kerja organis lembu digantikan melulu mekanis. Sedikit pawang lembu tersisa. Sedikit ahli nggaru mluku ada. Sedikit lembu-pamacek tersedia.

Dulu, ya, dulu, lembu/sapi/maesa adalah pasangan-hidup manusia. Teknologi manusia. Fisiologi manusia. Psikologi manusia. Spiritualitas manusia. Raja kekayaan manusia (rajakaya). Lembu ditinggikan setinggi-tingginya. Bahkan ‘disembah’. Keemasan kilaunya.

Dan sifat kerja (hidup) lembu-lembu, kini, mulai ‘awuk’ (samar); mereka menuju ‘mawuk’ (merasakan kematian). Ini tanda ‘wuk’ (kewanitaan alam) mulai terpinggirkan.

Mereka ‘melulu’ benda dagangan. Kehilangan ajian ‘lembu-sekilan’.

***

[WG]

Komentar

Komentar