Lanjutkan Bagi Pupuk Gratis, Sutrisna Wibawa Jalin Kemitraan dengan Petani Gunungkidul

oleh -5339 Dilihat
oleh
Sutrisna wibawa
Sutrisna wibawa menyerahkan pupuk bagi masyarakat di Padukuhan Wintaos, Kalurahan Girimulyo, Kapanewn Panggang, Gunungkidul. (KH/ Kandar)

GUNUNGKIDUL, (KH),— Koperasi Jejaring Jasa Usaha Bersama mengembangkan inovasi bidang pertanian dengan sistem kemitraan di Gunungkidul. Beberapa tempat telah dirintis. Tahap awal ini sasaran kelompok tani diberi pupuk secara cuma-cuma.

“Pupuk organik ini hasil formula baru. Sebelumnya dilakukan riset agar cocok dengan karakteristik tanah Gunungkidul,” kata Ketua Koperasi Jejaring Jasa Usaha Bersama DIY, Prof. Sutrisna Wibawa, Minggu (6/8/2023) di Padukuhan Wintaos, Girimulyo, Panggang, Gunungkidul.

Di Wintaos dia membagi 7,5 ton pupuk. Sementara di tempat ke dua di Kalurahan Pampang kembali menyerahkan 10 ton pupuk kepada kelompok tani.

“Kali ini di dua tempat kami membagi 17,5 ton pupuk. Tahap awal sebagai percobaan kami beri geratis,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, Program Petani Plasma merupakan inovasi bidang pertanian yang memudahkan kelompok tani dalam menjalankan kegiatan usaha pertanian. Pada proses musim tanam diberikan pupuk dan bibit. Lantas setelah panen, komoditas pertanian akan dibeli.

“Nanti setelah menjual ke koperasi keuntungan akan dihitung setelah dikurangi pupuk dan bibit,” tuturnya.

Jenis tanaman, lanjut Sutrisna, akan disesuaikan potensi wilayah masing-masing. Untuk wilayah Panggang, Gunungkidul dan sekitarnya akan dipilih tanaman jenis jagung.

“Nanti kami tawarkan pula tanaman kedelai, atau yang lain yang cocok dengan wilayah masing-masing,” sambung mantan Rektor UNY ini.

Suyrisna wibawa
Sutrisna Wibawa menyerahkan pupuk kepada petani di Kalurahan Pampang. (KH/ kandar)

Disinggung mengenai persoalan pemenuhan air bagi warga di sisi selatan Gunungkidul, dirinya mengaku akan meminta ahli untuk melakukan penelitian. Fokusnya yakni mencari sumber air bawah tanah yang berpotensi diangkat ke permukaan.

Warga Panggang, Satriyanto mengungkapkan, selain persoalan pupuk, sistem pertanian di wilayahnya masih sangat konvensional. Dalam setahun ia dan petani lain umumnya hanya mampu 1 kali panen.

“Sebab tak ada sumber air guna pengairan saat musim kemarau. Jaringan PDAM yang ada sebatas untuk kebutuhan rumah tangga dan ternak,” jelasnya.

Dia berharap ada terobosan baru perihal pemenuhan kebutuhan air di kawasan selatan Gunungkidul. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar