KWT Menur Mampu Suplai Benih Ubi Ke Luar Gunungkidul

oleh -
Benih Suwek yang siap di tanam hasil penangkaran KWT Menur. KH/ Kandar
iklan dispar

WONOSARI, (KH)— Terkesan diabaikan. Ubi-ubian yang biasa tumbuh di pekarangan rumah apabila digarap dengan serius dapat mendatangkan hasil guna perbaikan perekonomian keluarga.

Sepertihalnya yang dilakukan Kelompok Wanita Tani (KWT) Menur yang berada di Padukuhan Wareng 4, Desa Wareng, Kecamatan Wonosari ini. Dalam dua tahun terakhir mereka dapat menyuplai kebutuhan benih ubi-ubian ke luar Gunungkidul.

Ketua kelompok KWT Menur, Suparjiyem (56), menguraikan, kelompok yang berdiri pada tahun 1989 ini awalnya memiliki kegiatan membudidayakan berbagai tanaman pangan seperti; padi dan palawija, diantaranya jagung, sorgum, kacang tanah, kedelai, dan juga sayuran. Selain itu ada terong, sawi, cabai dan perkebunan tembakau.

“Selain membudidayakan kami juga mengolahnya. Upaya pengolahan baru dapat kami lakukan tahun 2007 lalu,” ujar Suparjiyem, Rabu, (16/11/2017).

Mulanya berawal dari berulang kali percobaan. Pada taraf percobaan pihaknya mendapat dukungan dan dampingan dari berbagai instansi. Ada dari Dinas TPH, BP2KP, serta dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) dalam hal pembuatan presto dan krupuk ikan pada tahun 2013 silam.

Jenis olahan dari ubi-ubian dan aneka tanaman yang dibudidayakan antara lain dibuat berbagai tepung, kerupuk, patholo, rengginang, tiwul, criping pisang, dan kripik tempe. Ada pula tepung atau pathi. Pathi ganyong dan garut, dan tepung sorgum cukup laku di pasaran.

Mengenai upaya pemasaran, selain di jual di pasar atau warung lokal, KWT Menur sudah mempunyai jaringan pemasar sperti Pegiat Pangan Lokal Yogya, lembaga konsumen yogyakarta (LKY) serta Asosiasi Desa Sejahtera di Jakarta.

Kelompok yang memiliki anggota aktif 17 ibu rumah tangga ini selain terus berupaya memperoleh ilmu cara pengolahan bahan pangan lokal dengan melakukan studi banding dan mendapat dampingan dari instansi terkait juga kerap melakukan eksperimen berdasar informasi melalui internet.

Selain mengolah, lanjut ibu dua anak ini, sekitar dua tahun terakhir menggalakkan penangkaran secara liar ubi-ubian dengan memanfaatan tanah pekarangan dan tanah tegakan atau lahan di bawah tanaman hutan rakyat.

“Kami mencoba sediakan benih tunas  ubi-ubian ternyata ada peminatnya juga, beberapa komoditas ubi telah kita kirim ke Sleman, Bantul dan Kulonprogo,” terangnya.

Data pengiriman terakhir, tahun ini dengan tujuan kiriman ke Sleman meliputi gembolo 15 kg, gembili 25 kg, uwi 200 kg, garut 200 kg, talas 200 kg, suwek 200 kg. Kirim ke Bantul diantaranya garut 80 kg, ganyong 150 kg, gembolo 54 kg, uwi 30 kg, kentang kleci 10 kg, lantas kirim ke Kulonprogo; uwi sebanyak 200 kg, garut 200 kg, suwek 150 kg, dan gembolo 100 kg. (Kandar)

Komentar

Komentar