Kenduri Maulid Nabi Mulai Ditinggalakan Masyarakat

oleh -
Tradisi Kendurian. Foto : Juju.
iklan dispar
Tradisi Kendurian. Foto : Juju.
Tradisi Kendurian. Foto : Juju.

NGLIPAR, (KH) — Banyak tradisi budaya yang berkembang di masyarakat Gunungkidul, salah satunya ialah Kenduri Maulid. Kenduri yang erat kaitannya dengan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW ini, kini masih dilestarikan oleh sebagian masyarakat di Kecamatan Nglipar dan Gedangsari Gunungkidul.

Kenduri Maulid oleh masyarakat Kecamatan Nglipar dianggap sebagai suatu tradisi. Hal itu didasarkan pada pemahaman bahwa Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia dari alam jahiliyah ke alam berilmu atau pengetahuan.

Seperti layaknya pelaksanaan kenduri pada acara bersih desa atau rasulan pada Kenduri Maulid Nabi, setiap keluarga diwajibkan membawa berbagai makanan yang telah disiapkan dari rumah. Makanan tersebut kemudian dikumpulkan di salah satu rumah yang ditunjuk untuk dilaksanakan doa bersama.

Sesepuh Padukuhan Mbadut, Desa Ngaliyan, Kecamatan Nglipar, Sumari mengatakan, masyarakat penganut Agama Islam melaksanakan Kenduri setiap bulan Rabiul Awal (Maulid Awal). Tradisi ini diawali dengan shalawat, zikir dan mengagungkan asma Allah SWT, juga mendoakan keselamatan untuk Rasullullah SAW dan keluarganya, beserta sahabat serta seluruh umat Islam.

“Tradisi ini biasa kita gelar di rumah Ketua Rukun Tetangga (RT), di setiap Padukuhan ada lebih dari satu titik tempat yang kita gunakan untuk berkumpul,” kata Sumari saat ditemui usai memimpin doa Kenduri Maulid di Rumah Ketua RT 08 RW 05, Subarjo, Sabtu (3/1/2014).

Dia menjelaskan, hidangan yang dibawa dari rumah oleh masyarakat akan ditata di tengah masyarakat yang mengikuti Kenduri Maulid. Biasanya setelah dilaksanakan doa bersama, hidangan yang memang telah disiapkan dari rumah akan disantap secara bersama-sama.

“Makanan yang kita bawa, akan kita makan bersama, ya kalau bisa jangan sampai ada sisa atau malah dibawa pulang. Makanan ini merupakan wujud sedekah kami,” paparnya.

Sementara, Ketua Dewan Kebudayaan Gunungkidul, CB. Supriyanto mengatakan, tradisi Kenduri Maulid Nabi Muhammad SAW sudah ada sejak jaman nenek moyang. Tetapi tradisi tersebut kini sudah mulai hilang seiring dengan berkembangnya zaman.

Dia mengungkapkan, tradisi Kenduri Maulid kini hanya dapat ditemukan di beberapa daerah saja di Gunungkidul, sebab keberadaan kenduri di wilayah kota sudah mulai hilang. “Tradisi ini sudah hilang dan sulit kita jumpai di masyarakat kota,” ungkapnya.

Supriyanto menjelaskan, makanan yang disajikan dalam Kenduri Maulid, beda dengan makanan yang disajikan dalam kenduri bersih desa atau rasulan. Dalam Kenduri Maulid, masyarakat membawa tumpeng atau nasi. Pada tradisi ini tidak dihadirkan ingkung ayam.

“Inti dari dari tradisi ini sama, meminta keselamatan, serta berdoa memohon kepada yang Maha Kuasa, jika dalam rasulan masyarakat menyediakan nasi gurih, dalam tradisi maulid ini tidak,” katanya.(Juju)

Komentar

Komentar